BERSIAP MENGHADAPI KEKERINGAN

Rakor Mitigasi dan Adaptasi Kekeringan di Auditorium Kementan (8/7/2019)

Air merupakan bagian penting dalam budidaya pertanian mulai dari pengolahan lahan sampai dengan tanaman siap dipanen. Akhir-akhir ini Kabupaten Demak air irigasi menjadi barang langka yang sangat diharapkan oleh petani. Ada enam kecamatan yang terkena dampak kekeringan, yaitu Kecamatan Mranggen, Wonosalam, Sayung, Guntur, Bonang dan Wedung. Total sawah yang terkena kekeringan seluas 1.783 ha. Adapun tingkat kerusakan tanaman akibat kekeringan tersebut dikategorikan rusak ringan.

Berdasarkan informasi BMKG Semarang prediksi kekeringan akan terjadi sampai dengan bulan Agustus 2019. Untuk mitigasi dan adaptasi kekeringan Kementerian Pertanian melaksanakan rapat koordinasi yang diikuti oleh Dinas Pertanian, Dinas Pekerjaan Umum/Pengairan dan TNI. Rapat koordinasi dilaksanakan tanggal 8 Juli 2019 di Auditorium Kementerian Pertanian. Narasumber dalam rakor tersebut yaitu Direktur Jenderal Tanaman Pangan (DR. Ir. Sumarjo Gatot Irianto, M.S, D.A.A), Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (DR. Sarwo Edhy, SP, MM), dan Wakil Aster KASAD (Brigjen TNI Gathut Setyo Utomo, SIP). Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Demak mengirim Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Heri Wuryanta, S.TP, M.P, untuk menghadiri rakor tersebut.

Berkaitan dengan kekeringan terdapat dua kata kunci yaitu mitigasi (mengurangi resiko kekeringan) dan adaptasi kekeringan guna menambah Luas Tambah Tanam (LTT). Mitigasi dilakukan dengan pemetaan kekeringan dan penanganannya. Guna penyelamatan standing crop (pertanaman yang masih tegak/tumbuh pada suatu lahan) dilakukan operasi gilir giring bersama aparat TNI, Dinas Pertanian, Dinas Pengairan, Camat, Perum Jasa Tirta, dan P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air). Agar air irigasi dapat sampai tujuan akhir di sawah perlu dilakukan penertiban pompa-pompa ilegal di sepanjang saluran irigasi utama. Air irigasi diprioritaskan pada lahan yang masih terdapat standing crop dan pemanfaatan sumber-sumber air sebagai suplesi pada lahan sawah yang terdampak kekeringan. Semua pompa air yang tersedia di daerah untuk dapat dimanfaatkan dan pengerahan Brigade Alsintan untuk membantu standing crop dan mitigasi kekeringan. Selain itu perlu identifikasi sumber air alternatif yang masih tersedia dan dapat dimanfaatkan melalui perpompaan dan irigasi air tanah dangkal.

Untuk sawah yang puso dilakukan pengajuan ganti rugi bagi petani apabila terdaftar AUTP. Namun apabila tidak terdaftar AUTP untuk diusulkan bantuan benih melalui Cadangan Benih Nasional. Daerah yang masih memiliki potensi tanam padi diharapkan segera melakukan percepatan tanam dan didaftarkan pada AUTP. Prosedur pengajuan AUTP dapat dibaca di sini.

Embung Desa Blerong Kecamatan Guntur sebagai alternatif sumber irigasi pertanian

Strategi untuk mengatasi kekeringan sebagai berikut :

  • Kekeringan puso :
    1. Klaim AUTP
    2. Tidak ikut AUTP : Bantuan benih jagung, kedelai
  • Kekeringan belum puso :
    1. Cari sumber air (sungai, waduk, embung)
    2. Aktifkan pompa, bantuan pompa, BBM
    3. Koordinasi Perum Jasa Tirta I dan II
  • Kekeringan (tidak bisa tanam padi) :
    1. Bantuan benih jagung, kedelai
    2. Demfarm jagung, kedelai di Pantura
  • Pengamanan standing crop yang tidak kekeringan
  • Pengamanan produksi dari OPT (wereng, tikus, penggerek) :
    1. Bantuan pestisida dan sejenisnya, handsprayer
    2. Gerakan pengendalian (Heri Wuryanta/Kabid TPH)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.