CANGGIH, PENYEMPROTAN PUPUK DAN PESTISIDA MENGGUNAKAN DRONE

Demonstrasi penyemprotan pestisida menggunakan drone di Desa Mlekang, Kecamatan Gajah (16/7/2019)

Menebar pupuk menggunakan pesawat sudah mulai digunakan sejak tahun 1950an di Australia, Selandia Baru, berkembang sampai ke Amerika. Tak heran karena luas lahan mereka bisa mencapai puluhan bahkan ratusan hektar. Cara ini sepertinya sulit diterapkan di Indonesia yang rata-rata kepemilikan lahannya hanya 0,8 ha/orang. Di Pulau Jawa, rata-rata kepemilikan lahan bahkan kurang dari 0,5 ha/orang. Namun kini ada terobosan baru dalam teknologi pertanian. Penyemprotan udara (aerial application) bisa dilakukan menggunakan pesawat yang lebih kecil atau pesawat tanpa awak yang lebih dikenal dengan istilah drone.

Penggunaan drone pada awalnya memang digunakan untuk kepentingan militer. Seiring perkembangannya, drone banyak digunakan untuk keperluan fotografi dan pemetaan. Saat ini, drone bisa dimodifikasi untuk menyemprot pestisida di lahan pertanian. PT. Bayer Indonesia beberapa saat yang lalu melakukan demonstrasinya di Desa Mlekang Kecamatan Gajah Kabupaten Demak.

Pada acara Bayer Farm Field Day (16/7/2018) itu, disampaikan bahwa sekali angkut, drone bisa memuat cairan kapasitas 10 liter. Dibutuhkan sepuluh menit saja untuk menyemprot lahan seluas 1 ha dengan biaya sewa sebesar Rp.200.000,00/ha.. Bandingkan dengan penyemprotan manual menggunakan sprayer yang membutuhkan waktu satu hari kerja. Ini menjadikan drone lebih hemat biaya, hemat air dan lebih merata. Ketinggian maksimal drone hanya 3,5 meter saja dan dibatasi dengan kapasitas baterei sehingga lebih cocok digunakan pada lahan yang tidak terlalu luas seperti di Indonesia. (Fitri Nur Farida/PPL Kec. Gajah)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.