{"id":2270,"date":"2021-02-26T06:27:09","date_gmt":"2021-02-26T06:27:09","guid":{"rendered":"http:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=2270"},"modified":"2021-02-26T06:27:13","modified_gmt":"2021-02-26T06:27:13","slug":"menjaga-performa-broiler-tetap-baik-pasca-pelarangan-agp","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=2270","title":{"rendered":"Menjaga Performa Broiler Tetap Baik Pasca Pelarangan AGP"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Tantangan menjalankan usaha peternakan ayam ras pedaging (broiler) kian besar, pasca pelarangan penggunaan&nbsp;<em>Antibiotics Growth Promotor (AGP)&nbsp;<\/em>&nbsp; Peternak dituntut untuk bisa menerapkan praktek tata laksana pemeliharaan yang lebih terprogram agar ayam yang dibudidayakan mencapai pertumbuhan&nbsp; optimal dan terjaga kesehatannya sampai tiba saat dipanen.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Praktisi peternakan broiler, drh Eko Prasetio, di acara webinar dalam rangka peluncuran buku \u201cManajemen Kesehatan Unggas Modern\u201d hasil karyanya,&nbsp; Selasa (23\/02) mengemukakan , sejak pemerintah mengeluarkan kebijakan pelarangan penggunaan&nbsp; Antibiotic Growth Promoters (AGP)&nbsp; di pakan unggas ,praktis pakan ayam buatan pabrik sejak tahun 2018&nbsp; tak lagi mengandung AGP.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/tabloidsinartani.com\/uploads\/news\/images\/inline\/210224171138-772.jpeg\" alt=\"\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Di awal penerapan kebijakan tersebut sempat muncul dampak yang tak diinginkan peternak unggas&nbsp; antara lain terjadi lonjakan kasus penyakit hewan terkait dengan saluran pencernaan , bahkan&nbsp; kasus&nbsp; runting dan stunting&nbsp; ( kekerdilan ) juga meningkat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cGuna meminimalisasikan terjadinya hal-hal&nbsp; yang tidak diinginkan maka upaya deteksi dini perlu dilakukan peternak.&nbsp; Penyesuaian-penyesuaian harus dilakukan untuk memitigasi segala risiko,\u201d&nbsp; jelas Eko.<\/p>\n\n\n\n<p>Upaya monitoring hendaknya&nbsp; sudah&nbsp; dilakukan peternak sejak bibit ayam (DOC) datang&nbsp; dengan cara&nbsp; mengamati sosok&nbsp; DOC bersangkutan.&nbsp; Disamping mengamati kondisi fisik,&nbsp; dilakukan juga penimbangan berat DOC (Day Old Chick\/Anak ayam umur sehari) , pengukuran suhu tubuh serta pengamatan&nbsp; keseragamannya&nbsp; (<em>uniformity<\/em>).&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kualitas DOC, menurut Eko, antara lain bisa dilihat dari kondisi berat tubuhnya.&nbsp; DOC itu ada yang berasal dari telur-telur induk berusia tua, berusia muda dan induk yang dalam masa puncak produksi .&nbsp; DOC yang berasal dari induk berusia tua biasanya beratnya&nbsp; lebih tinggi dibanding DOC dari induk berusia muda maupun induk dalam masa produksi puncak.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMakin tinggi berat DOC biasanya pertumbuhan badan (Relatif Growth\/RG) nya rendah. Jadi tatalaksana pemeliharaan&nbsp; DOC seharusnya&nbsp; berbeda dalam kondisi berat badan yang berbeda,\u201d tutur alumnus&nbsp; Fakultas Kedokteran Hewan UGM&nbsp; tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Monitoring&nbsp; Titik Kritis&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dengan mengetahui persis kondisi berat DOC, suhu tubuh DOC serta uniformitynya maka peternak bisa&nbsp; menyusun perencanaan untuk melaksanakan tahapan pemeliharaan dari DOC sampai sebelum lepas penghangat (<em>Masa Brooding<\/em>) .&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Monitoring titik kritis (parameter kunci)&nbsp; dalam pemeliharaan ayam ada pada 24 jam pertama dinilai pria 41 tahun itu sangat penting dilakukan karena akan menentukan performa ayam di sisa waktu pemeliharaan berikutnya .&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya peternak juga perlu melakukan evaluasi di minggu pertama pemeliharaan. Indikator yang diamati meliputi berat badan ayam,&nbsp;<em>feed conversi<\/em>&nbsp;(FC), total deplesi&nbsp; (<em>mortalitas<\/em>\/kematian dan&nbsp;<em>culling<\/em>) dan&nbsp;<em>uniformity<\/em>.&nbsp; Kondisi penurunan yang tinggi bisa disebabkan kualitas DOC yang rendah atau bisa juga karena tatalaksana di periode brooding yang kurang tepat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menekankan bahwa performa ayam di minggu pertama pemeliharaan juga sangat penting dimonitor&nbsp; . Jika&nbsp; di minggu pertama&nbsp; RG nya rendah maka bisa jadi organ-organ pencernaan tidak berjalan normal sehingga membuat ayam tidak bisa tumbuh optimal . \u201cRendahnya RG ini bisa menjadi alarm untuk mengingatkan agar peternak sedini mungkin melakukan upaya-upaya yang dapat mendukung kesehatan ayam,\u201d ujar dokter Eko.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jika memang dipandang perlu diberikan probiotik atau sediaan herbal untuk pengganti AGP,ia menyarankan pemberiannya seawal&nbsp; mungkin bisa lewat pakan atau juga dicampurkan ke air minum. Umumnya peternak dalam memberikan pengganti AGP ini mempertimbangkan biaya&nbsp; yang dikeluarkan dan tetap mempertimbangkan aspek efisiensi usaha.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Disamping&nbsp; di minggu pertama, evaluasi juga diperlukan berkala di minggu ke-2, ke-3, disaat penjarangan sampai saat panen.&nbsp; Di periode tersebut antara lain peternak harus memonitor tingkah laku ayam, sebaran ayam serta keterisian tembolok. \u201cKita harus memperhatikan apakah ayam kedinginan atau kepanasan . Segera lakukan penyesuaian bila ayam kelihatan tidak nyaman di kandangnya,\u201d tegas Eko.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sumber: <\/strong><a href=\"https:\/\/tabloidsinartani.com\/detail\/indeks\/ternak\/15739-Menjaga-Performa-Broiler-Tetap-Baik-Pasca-Pelarangan-AGP\">https:\/\/tabloidsinartani.com\/detail\/indeks\/ternak\/15739-Menjaga-Performa-Broiler-Tetap-Baik-Pasca-Pelarangan-AGP<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tantangan menjalankan usaha peternakan ayam ras pedaging (broiler) kian besar, pasca pelarangan penggunaan&nbsp;Antibiotics Growth Promotor (AGP)&nbsp;&nbsp; Peternak dituntut untuk bisa menerapkan praktek tata laksana pemeliharaan yang lebih terprogram agar ayam yang dibudidayakan mencapai pertumbuhan&nbsp; optimal dan terjaga kesehatannya sampai tiba&#8230; <a class=\"di-continue-reading\" href=\"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=2270\"> Continue Reading&#8230;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2271,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[8,210],"tags":[421,422,206],"class_list":["post-2270","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-kementerian-pertanian","tag-antibiotics-growth-promotor-agp","tag-broiler","tag-peternakan-dan-kesehatan-hewan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2270","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2270"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2270\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2281,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2270\/revisions\/2281"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2271"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2270"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2270"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2270"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}