{"id":2674,"date":"2021-05-11T07:46:43","date_gmt":"2021-05-11T07:46:43","guid":{"rendered":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=2674"},"modified":"2021-05-11T07:46:44","modified_gmt":"2021-05-11T07:46:44","slug":"pemerintah-sambut-hadirnya-ssii","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=2674","title":{"rendered":"Pemerintah Sambut Hadirnya SSII"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Ditjen Perkebunan menyambut baik hadirnya Sustainable Spices Iniative Indonesia (SSII) dan sudah melakukan&nbsp;Nota Kesepahaman (MoU).&nbsp;Pemerintah berharap dengan adanya MoU tersebut dapat mendorong peningkatan nilai tambah komoditas rempah Indonesia.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaya berharap implementasi kerjasama yang mengacu pada nota kesepahaman ini dapat meningkatkan nilai tambah, daya saing serta akses pasar, meningkatan volume serta nilai ekspor komoditas rempah dan tanaman obat di Indonesia di pasar internasional,\u201d kata Direktur Pengolahan dan Pemasaran Perkebunan, Ditjen&nbsp;Perkebunan, Dedi Junaedi.<\/p>\n\n\n\n<p>Data Ditjen Perkebunan, volume ekspor rempah berdasarkan tahun 2020 dibanding tahun 2019 terjadi peningkatan volume ekpor. Volume ekspor lada naik 12,8&nbsp;persen, pala 14,4&nbsp;persen&nbsp;dan cengkeh 83,8&nbsp;persen&nbsp;. Sedang nilainya cengkeh naik 58,3&nbsp;persen.<\/p>\n\n\n\n<p>Dedi mengakui, tantangan rempah adalah rendahnya produktivitas karena tanaman banyak yang sudah tua, sedang aspek perdagangannya masalah mutu dan akses pasar. Upaya Ditjenbun dalam peningkatan produktivitas adalah dengan logistik benih 500 didalamnya termasuk pala, lada dan kayu manis. \u201cSampai kapanpun dunia akan tetap butuh rempah-rempah. Karena itu produktivitas harus ditingkatkan juga daya saing,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Akses pasar masih ada masalah yaitu beberapa kali penolakan ekspor pala ke Eropa karena kandungan&nbsp;aflatoksin diatas ambang yang ditentukan. Padahal&nbsp;komoditas&nbsp;pala sebelum diberangkatkan sudah diperiksa laboratorium yang mendapat recognition dari Eropa dan kandungan aflatoksinnya dibawah ambang batas yang ditentukan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMungkin karena perjalanan panjang sehingga dijalan kadarnya aflatoksinnya naik. Mungkin juga beda metoda sampling, metode uji dan alat. Laboratoriumnya sudah mendapat recognition tetapi sistim dan SOPnya belum,\u201d tutur Dedi.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu Dedi meminta harus segera diatasi karena akan merugikan eksportir.&nbsp;Apalagi Eropa merupakan negara tujuan ekspor utama pala Indonesia.&nbsp;\u201cLewat SSSI diharapkan pala dengan health certification dari sini sesampainya di sana tidak diperiksa lagi,\u201d&nbsp;ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kunci Ekspor<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Secara terpisah, Sigit Ismayato, Direktur PT Alam Sari Interbuana (ASI), eksportir rempah ke Eropa menyatakan kunci sukses ekspor adalah harus mampu menghasilkan kualitas sesuai kemauan pembeli yaitu rendah aflatoksin dan mengikuti semua regulasi. PT ASI saat ini merupakan eksportir pala baik biji maupun fuli, lada dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBarang yang kita kirim harus dipastikan kualitasnya sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen. Pala kualitasnya ada yang utuh ABCD, utuh SS, broken dan organik; fuli ada utuh, broken dan organik; kayu manis ada stick, KABC broken, KBBC broken dan organik; lada hitam dan lada putih dan cengkeh utuh,\u201d kata Sigit.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, rempah harus ditangani dengan tepat.&nbsp;Karena itu tim PT ASI dibantu pihak lain melakukan training di lokasi supaya petani melakukan penanganan pasca panen dengan tepat.&nbsp;Untuk itu., setiap barang yang akan diekspor juga harus melewati uji laboratorium.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSetelah Badan Karantina mengeluarkan health certificate baru barang diekspor. Sertifikat lain yang harus dimiliki adalah sertifikat halal dan khusus organik USDA organic,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sigit&nbsp;mengatakan,&nbsp;berbisnis saat ini tidak bisa dilakukan sendiri,&nbsp;tetapi harus berkolaborasi dengan banyak pihak. PT ASI saat ini bekerjasama dengan petani dan pemerintah juga LSM. Dalam kemitraan dengan petani Ditjenbun dilibatkan, sedang untuk ekspor dengan Ditjen Perdagangan Luar Negeri.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSaat ini&nbsp;kami&nbsp;sudah bermitra dengan kelompok tani di Jambi, Bangka Belitung, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Papua Barat,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sedang LSM adalah Penabulu, ICCO, Inobu dan CEA. LSM dilibatkan dalam pembinaan petani supaya bisa bekerjasama dalam kelembagaan,&nbsp;juga meningkatkan kapasitasnya dalam tentang pasar dan mutu. Sedang membangun rantai nilai komoditas secara digital bekerjasama dengan DAKOTA (Data Komoditas Terpadu). <strong>Humas Ditjen Perkebunan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sumber: <\/strong><a href=\"https:\/\/tabloidsinartani.com\/detail\/\/indeks\/kebun\/16622-Pemerintah-Sambut-Hadirnya-SSII\">https:\/\/tabloidsinartani.com\/detail\/\/indeks\/kebun\/16622-Pemerintah-Sambut-Hadirnya-SSII<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ditjen Perkebunan menyambut baik hadirnya Sustainable Spices Iniative Indonesia (SSII) dan sudah melakukan&nbsp;Nota Kesepahaman (MoU).&nbsp;Pemerintah berharap dengan adanya MoU tersebut dapat mendorong peningkatan nilai tambah komoditas rempah Indonesia. \u201cSaya berharap implementasi kerjasama yang mengacu pada nota kesepahaman ini dapat meningkatkan&#8230; <a class=\"di-continue-reading\" href=\"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=2674\"> Continue Reading&#8230;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2675,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,281],"tags":[590,589],"class_list":["post-2674","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-dinpertan-pangan","tag-ditjen-perkebunan","tag-sustainable-spices-iniative-indonesia-ssii"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2674","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2674"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2674\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2687,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2674\/revisions\/2687"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2675"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2674"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2674"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2674"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}