{"id":2747,"date":"2021-05-31T00:58:01","date_gmt":"2021-05-31T00:58:01","guid":{"rendered":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=2747"},"modified":"2021-05-31T00:58:02","modified_gmt":"2021-05-31T00:58:02","slug":"pengendalian-hama-penyakit-padi-sawah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=2747","title":{"rendered":"Pengendalian Hama Penyakit Padi Sawah"},"content":{"rendered":"\n<p>Salah satu tantangan dalam pembangunan pertanian adalah adanya kecenderungan menurunnya produktivitas lahan. Disisi lain sumberdaya&nbsp; alam terus menurun sehingga perlu diupayakan&nbsp; untuk tetap menjaga kelestariannya. Demikian pula dalam usahatani padi, agar usahatani&nbsp; padi&nbsp; dapat&nbsp; berkelanjutan,&nbsp; maka&nbsp; teknologi&nbsp; yang&nbsp; diterapkan harus&nbsp; memperhatikan&nbsp; faktor lingkungan, baik&nbsp; lingkungan fisik&nbsp; maupun lingkungan sosial, sehingga agribisnis padi dapat terlanjutkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Selama &nbsp;ini produksi&nbsp; padi&nbsp; nasional masih mengendalikan sawah irigasi, namun&nbsp; ke&nbsp; depan bila hanya mengandalkan padi sawah irigasi akan menghadapi banyak&nbsp; kendala.&nbsp; Hal tersebut disebabkan banyaknya lahan sawah irigasi subur yang beralih fungsi ke penggunaan&nbsp; lahan non pertanian, tingginya biaya pencetakan lahan sawah baru dan berkurangnya debit air. Dilain pihak lahan kering tersedia cukup luas dan pemanfaatannya&nbsp; untuk&nbsp; pertanaman&nbsp; padi gogo&nbsp; belum&nbsp; optimal, sehingga ke depan produksi padi gogo juga dapat dijadikan andalan produksi padi nasional.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pengendalian Gulma Secara Terpadu<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Gulma dikendalikan dengan cara pengolahan tanah sempurna, mengatur&nbsp; air&nbsp; dipetakan&nbsp; sawah, menggunakan&nbsp;&nbsp; benih&nbsp; padi&nbsp; bersertifkat, hanya menggunakan kompos sisa tanaman dan kompos pupuk kandang, dan menggunakan herbisida apabila infestasi gulma sudah tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengendalian guma secara manual dengan menggunakan kosrok (landak) sangat dianjurkan, karena&nbsp; cara&nbsp; ini sinergis&nbsp; dengan&nbsp; pengelolaan lainnya.&nbsp; Pengendalian&nbsp; gulma&nbsp; secara&nbsp; manual &nbsp;hanya&nbsp; efektif dilakukan apabila&nbsp; kondisi air di petakan sawah macak-macak atau tanah jenuh air.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pengendalian&nbsp; hama dan&nbsp; penyakit terpadu&nbsp; (PHT)&nbsp; merupakan pendekatan pengendalian yang memperhitungkan faktor ekologi sehingga pengendalian dilakukan agar tidak terlalu mengganggu&nbsp; keseimbangan alami&nbsp; dan&nbsp; tidak menimbulkan&nbsp; kerugian&nbsp; besar. PHT&nbsp; merupakan&nbsp; paduan berbagai cara pengendalian hama dan&nbsp; penyakit, diantaranya melakukan monitoring populasi hama dan kerusakan tanaman sehingga penggunaan teknologi pengendalian dapat lebih tepat.<\/p>\n\n\n\n<p>Hama yang sering menyerang tanaman padi sawah adalah :<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Keong Mas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>PHT pada keong mas dilakukan sepanjang pertanaman dengan rincian sebagai berikut :<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Pratanam: ambil keong mas dan musnahkan sebagai cara mekanis.<\/li><li>Persemaian : ambil&nbsp; keong&nbsp; mas&nbsp; dan&nbsp; dimusnahkan, sebar&nbsp; benih&nbsp; lebih banyak&nbsp; untuk&nbsp; sulaman&nbsp; dan&nbsp; bersihkan&nbsp;&nbsp; saluran&nbsp;&nbsp; air&nbsp; dari&nbsp; tanaman&nbsp; air seperti kangkung.<\/li><li>Stadia Vegetatif: tanam bibit yang agak tua (&gt;21 hari) dan jumlah&nbsp; bibit lebih banyak, keringkan sawah&nbsp; sampai 7&nbsp; HST, tidak aplikasi herbisida sampai&nbsp; 7 HST, ambil&nbsp; keong&nbsp; mas&nbsp; dan&nbsp; musnahkan, pasang&nbsp; saringan pada pemasukan air, umpan dengan menggunakan daun alas dan pepaya, pasang ajir agar siput bertelur pada ajir, ambil dan musnahkan telur&nbsp; siput&nbsp; pada&nbsp; tanaman&nbsp; dan&nbsp; aplikasikan&nbsp;&nbsp; pestisida&nbsp;&nbsp; anorganik&nbsp;&nbsp; dan nabati seperti saponin dan rerak sebanyak 20-50 kh\/ha sebelum tanam pada caren.<\/li><li>Stadia generatif dan setelah panen : ambil keong mas dan musnahkan, dan gembalakan itik setelah padi panen.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Wareng Coklat<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Cara pengendaliannya sbb:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Gunakan varietas tahan wereng coklat, seperti: Ciherang, Kalimas, Bondoyudo, Sintanur dan Batang Gadis.<\/li><li>Berikan pupuk K untuk mengurangi<\/li><li>Monitor pertanaman paling lambat 2 minggu<\/li><li>Bila populasi hama di bawah ambang ekonomi gunakan insektisida botani atau jamur ento-mopatogenik.<\/li><li>Bila populasi hama di atas ambang ekonomi gunakan insektisida kimiawi yang direkomendasi.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Penggerek Batang<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Bila populasi tinggi (di atas ambang ekonomi) aplikasikan insektisida. Bila genangan air dangkal aplikasikan&nbsp; insektisida butiran seperti&nbsp; karbofuran dan fipronil, dan bila genangan&nbsp; air tinggi aplikasikan insektsida cair seperti dimehipo, bensultap, amitraz dan fipronil.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tikus<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pengendalian hama tikus terpadu (PHTT) didasarkan&nbsp; pada pemahaman ekologi jenis tikus, dilakukan secara dini, intensif dan terus menerus dengan&nbsp; memanfaatkan teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu.&nbsp; Pengendalian tikus&nbsp; ditekankan&nbsp; pada&nbsp; awal&nbsp; musim tanam untuk menekan populasi awal tikus sejak awal pertanaman sebelum tikus memasuki masa reproduksi. Kegiatan tersebut&nbsp; meliputi gropyok masal, sanitasi habitat, pemasangan TBS (Trap Barrier System) dan LTBS (Linier Trap Barrier System).<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Walang Sangit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Cara Pengendaliannya adalah :<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Kendalikan gulma di sawah dan di sekitar pertanaman.<\/li><li>Pupuk lahan secara merata agar pertumbuhan tanaman seragam.<\/li><li>Tangkap walang sengit dengan menggunakan 15arring sebelum stadia pembungaan.<\/li><li>Umpan walang sangit dengan menggunakan ikan yang sudah busuk, daging yang&nbsp; sudah rusak, atau dengan kotoran ayam.<\/li><li>Apabila serangan sudah mencapai ambang&nbsp; ekonomi, lakukan penyemprotan insektisida.<\/li><li>Lakukan penyemprotan pada pagi sekali atau sore hari ketika walang sangit berada di kanopi.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Penyakit Hawar Daun Bakterl (HDB)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Cara Pengendaliannya sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Gunakan varietas tahan seperti Conde dan AngkKe.<\/li><li>Gunakan pupuk nitrogen sesuai dengan kebutuhan tanaman.<\/li><li>Bersihkan tunggul-tunggul dan jerami-jerami yang terinfeksi.<\/li><li>Jarak tanam jangan terlalu rapat.<\/li><li>Gunakan benih atau bibit yang sehat.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Penyakit Blast<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Cara pengendaliannya adalah :<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Gunakan varietas tahan blast secara bergantian.<\/li><li>Gunakan pupuk nitrogen sesuai anjuran.<\/li><li>Upayakan waktu tanam yang tepat, agar waktu awal pembungaan tidak banyak embun dan hujanterus menerus.<\/li><li>Gunakan fungisida yang berbahan aktif metil tiofanat atau fosdifen dan kasugamisin.<\/li><li>Perlakuan benih.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Sumber:<\/strong> <a href=\"http:\/\/cybex.pertanian.go.id\/artikel\/97780\/pengendalian-hama-penyakit-padi-sawah\/\">http:\/\/cybex.pertanian.go.id\/artikel\/97780\/pengendalian-hama-penyakit-padi-sawah\/<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Salah satu tantangan dalam pembangunan pertanian adalah adanya kecenderungan menurunnya produktivitas lahan. Disisi lain sumberdaya&nbsp; alam terus menurun sehingga perlu diupayakan&nbsp; untuk tetap menjaga kelestariannya. Demikian pula dalam usahatani padi, agar usahatani&nbsp; padi&nbsp; dapat&nbsp; berkelanjutan,&nbsp; maka&nbsp; teknologi&nbsp; yang&nbsp; diterapkan harus&nbsp;&#8230; <a class=\"di-continue-reading\" href=\"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=2747\"> Continue Reading&#8230;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2748,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,210],"tags":[618,617,450,441],"class_list":["post-2747","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-kementerian-pertanian","tag-padi-sawah","tag-pengendalian-hama-penyakit","tag-penyuluhan","tag-tanaman-pangan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2747","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2747"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2747\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2749,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2747\/revisions\/2749"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2748"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2747"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2747"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2747"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}