{"id":3133,"date":"2021-08-18T00:42:29","date_gmt":"2021-08-18T00:42:29","guid":{"rendered":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=3133"},"modified":"2021-08-18T00:42:30","modified_gmt":"2021-08-18T00:42:30","slug":"teknik-sederhana-budidaya-tanaman-terong-solanum-melongena","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=3133","title":{"rendered":"TEKNIK SEDERHANA BUDIDAYA TANAMAN TERONG (Solanum melongena)"},"content":{"rendered":"\n<p>Tanaman terong dalam bahasa latinnya Solanum melongena, adalah tanaman sayuran yang dapat hidup sampai 1 tahun dalam sekali tanam. Tinggi tanaman dapat mencapai 160 cm ditanah yang subur, tanah humus. Tanaman terung dimanfaatkan buahnya sebagai sayur atau lalapan. Terdapat banyak ragam terong yang dibudidayakan di Indonesia, mulai dari terong lokal seperti terong gelatik, terong kopek, terong bogor, terong medan hingga terong impor seperti terong Jepang. Bentuk dan warna buah terong cukup beragam ada yang putih, hijau hingga ungu. Bentuknya pun ada yang bulat, lonjong besar, hingga lonjong dengan ujung lancip.<\/p>\n\n\n\n<p>Syarat tumbuh tanaman terong yakni : beriklim tropis, didataran rendah hingga tinggi mencapai&nbsp; 1200 m dpl. Tanah yang ideal untuk budidaya terong adalah tanah lempung, lempung berpasir, berhumus yang mengandung cukup kandungan unsur hara. Tata laksana air yang baik, Ph tanah antara&nbsp; 5,6-7. Suhu optimal pertumbuhan antara 25\u201330 derajat celcius.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Prospek&nbsp;budidaya tanaman&nbsp;terong&nbsp;sangat baik dan sudah banyak petani yang mengusahakannya namun hasil rata-ratanya masih rendah. Hal ini disebabkan karena Teknik budidaya yang belum optimal diterapkan<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li><strong>Teknis Budidaya Terong<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Persiapan Lahan<\/strong><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Tanah digemburkan dengan di cangkul\/di bajak sedalam 20 cm\u201330 cm. Sebelumnya campurkan pupuk kandang dari kotoran ayam dengan menggunakan trichoderma sp. Fungsi dari Trichoderma sp sebagai organisme pengurai, dapat pula berfungsi sebagai agen hayati dan stimulator pertumbuhan tanaman. Trichoderma sp dapat menghambat pertumbuhan serta penyebaran racun jamur penyebab penyakit bagi tanaman seperti cendawan Rigdiforus<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;lignosus, Fusarium oxysporum, Rizoctonia solani, Fusarium monilifome, sclerotium rolfsii dan cendawan Sclerotium rilfisil. Trochoderma sp ditambahkan 100 gram ke dalam 20-50 kg pupuk kandang ayam. Kemudian tebarkan kotoran ayam&nbsp;yang telah di campur Trichoderma sp sebanyak 5 ton\/ha, kemudian dibuat bedengan dengan tinggi 25 cm \u2013 30 cm, lebar&nbsp; bedengan&nbsp; 85 cm \u2013 95 cm, jarak bedengan&nbsp; 50 cm\u201360 cm.<\/p>\n\n\n\n<p>Permukaan bedengan dibuat melengkung&nbsp; agar mulsa dapat menutupi bedengan dengan rapat. Kemudian pasang mulsa pada bedengan&nbsp; dengan ukuran&nbsp; 110 cm \u2013 120 cm. Mulsa berfungsi untuk menjaga kelembaban tanah, mengendalikan pertumbuhan gulma, mengurangi resiko terhadap hama dan penyakit memantulkan cahaya matahari ke buah\/tanaman agar tetap bersih dari embun dan air hujan.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Penyemaian Benih Terong<\/strong><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Benih yang baik untuk budidaya terong memilki daya tumbuh di atas 75%. Dengan benih seperti itu, kebutuhan benih untuk satu hektar mencapai 300-500 gram. Sebelum ditanam di lahan terbuka, benih terong sebaiknya disemaikan terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n<p>Wadah semai yang perlu disediakan adalah kotak kayu, atau polybag berukuran 10 x 12 cm\u00b2 (berdiameter 5 cm) atau gelas aqua yang sudah dilubangi bagian bawah sisi kiri dan kanan sebanyak 3-4 lubang. Masukan media semai berupa campuran tanah dan pupuk kandang\/kompos dengan perbandingan 1:3 kedalam wadah persemaian. Bila tanahnya berliat bisa ditambah pasir.<br>Sebelum disemai, biji\/benih terung direndam dahulu di dalam air hangat (50\u00b0C) selama 1 jam. Kemudian biji\/benih yang sudah direndam dibenamkan di dalam media semai kotak kayu dengan jarak 1-3 cm. Bila menggunakan polybag atau gelas aqua biji dibenamkan 1-2 biji per polybag atau per gelas aqua. Tutup biji dengan lapisan tanah tipis atau kompos.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Biji yang telah dibenam disiram sampai basah kemudian ditutup dengan daun pisang selama 3-5 hari. Wadah tersebut diteduhkan di rumah persemaian. Penyiraman dilakukan setiap hari. Bila bibit terung sudah berumur 6 minggu (1,5 bulan) atau sudah memiliki daun 4-5 helai, bibit tersebut sudah siap untuk ditanam di bedengan.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Penanaman Terong<\/strong><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Penanaman dilakukan setelah tanah lokasi bibit sudah disiram terlebih dahulu. Dalam hal ini penanaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Adapun Langkah-langkah dalam penanaman yakni :<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li>Genangi parit dengan air setinggi bedengan, kemudian kurangi air hingga \u00bd dari tinggi bedengan.<\/li><li>Lubangi mulsa dengan jarak 50 cm X 60 cm,<\/li><li>Masukan bibit yang sudah berumur 25 hari&nbsp; atau sudah berdaun 4 helai kedalam lubang mulsa,<\/li><li>Bila bagian bawah polybag sudah berlubang langsung masukan bibit beserta polybagnya atau di robek agar akar dapat berkembang ketanah.<\/li><li>Kemudian tutup dengan sedikit tanah dan padatkan.<\/li><\/ul>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Pemupukan Terong<\/strong><\/li><\/ul>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li><strong>Pemupukan Dasar&nbsp;&nbsp;<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Pemupukan ini dilakukan pada saat olah tanah sebelum bedengan dikerjakan, agar pupuk dasar terpendam dalam bedengan. Komposisinya : Phonska 120 kg\/ha,&nbsp; ZA 150 kg\/ha, phospat 100 kg\/ha.<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" start=\"2\"><li><strong>Pemupukan Lanjutan&nbsp;1<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Pemupukan ini dilakukan pada saat tanaman umur 7 hst \u2013 30 hst, dengan cara&nbsp; campuran air dan pupuk dikocorkan kelubang&nbsp; tanaman dengan takaran 200ml \u2013 250 ml setiap lubang tanaman. Komposisi : NPK&nbsp; 35 \u2013 45 kg\/ha, insektisida berbahan aktif karbofuran 7kg\/ha.<\/p>\n\n\n\n<p>Pemupukan ini dilakukan 1 minggu sekali. Untuk pemupukan minggu 2, 3, dan 4, sudah tidak memakai&nbsp; Insektisida,&nbsp; fungsi&nbsp; insektisida&nbsp; untuk membasmi&nbsp; hama yang ada didalam tanah.<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" start=\"3\"><li><strong>Pemupukan lanjutan 2<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Pemupukan dilakukan pada saat tanaman umur 30 hst dan seterusnya .&nbsp; komposisi : NPK&nbsp; 280 kg\/ha atau campuran Phonska + ZA&nbsp; 300 kg\/ ha. Cara pemupukan : tanah ditugal sedalam 5 cm pupuk dimasukan kedalm lubang kemudian ditutup dengan tanah. Jarak pupuk dengan batang tanaman sekitar 5 cm. pemupukan dilakukan dengan interval 7- 10 hari.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Pemeliharaan Tanaman Terong<\/strong><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Supaya tanaman terong dapat berkembang dan tumbuh dengan baik dan maksimal&nbsp;perlu dilakukan pemeliharaan yang intensif. Berupa Penyulaman\/penggantian tanaman yang mati akibat baru diambil dari pemindahan, lakukan diawal masa tanam. Penyiangan dan pembersihan gulma yang dilakukan 2 minggu sekali.&nbsp; Pada waktu musim hujan tidak diperlukan penyiraman, Waktu musim kemarau<\/p>\n\n\n\n<p>penyiraman dilakukan 1 hari 2x pagi dan sore atau apabila tanah bedengan terlihat kering dan juga setelah pemberian pupuk. Caranya&nbsp; parit dialiri air 1\/2 dari tinggi bedengan. Pemasangan tajuk dilakukan ketika tanaman berumur 7&nbsp; hst. Tinggi tajuk 150 cm\u2013200 cm. Pemasangan tajuk berfungsi &nbsp;agar batang dan daun dapat berkembang dengan baik dan tidak roboh.<\/p>\n\n\n\n<p>Pemangkasan\/perempelan dilakukan mulai tunas-tunas&nbsp;liar yang tumbuh mulai dari ketiak daun pertama hingga bunga pertama&nbsp;atau batang yang bercabang kembar.<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Hama Dan Penyakit Terong<\/strong><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Hama yang menyerang tanaman terong antara lain : Kumbang Daun (Epilachna sp),&nbsp;Kutu Daun (Aphis gossypii Glover),&nbsp;Tungau (Tetranynichus sp), Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon Hufn), Ulat Grayak (Spodoptera litura F.),. Ulat Buah (Helicoverpa armigera Hubn), Kutu Daun Persik (Myzus persicae Sulzer), Lalat Buah (Bactrocera sp.), thrips (Thrips parvispinus Karny). Pengendaliannya disemprot dengan insektisida berbahan aktif : abamectin, klorpenapir, imidakloprit.<\/p>\n\n\n\n<p>Penyakit tanaman ini antara lain : Layu Bakteri,&nbsp;Busuk Buah, Bercak Daun, Antraknose, Busuk Leher Akar, Rebah Semai, Mosaik,&nbsp;Busuk Daun, Penyakit Tepung. Pengendalian penyakit ini semprot dengan fungisida berbahan aktif : mankozeb, iprodium, Streptomisin sulfat,&nbsp;Klorotalonil, benomil.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\"><li><strong>Pemanenan Terong<\/strong><\/li><\/ul>\n\n\n\n<p>Tanaman terong &nbsp;mulai dapat di panen umur 45 hst. Buah yang siap dipetik berwarna hijau pudar\/keputih putihan untuk yang terung hijau dan ungu agak pudar untuk terung ungu. Panen dilakukan dengan interval 3-4 hari.<\/p>\n\n\n\n<p>Panen dapat dilakukan sampai 24x panen dalam satu kali budidaya, tergantung jenis, musim, varietas dan perawata<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&#8212; Semoga bermanfaat dan selamat membudidayakan tanaman terong&#8212;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sumber:<\/strong> h<a href=\"ttp:\/\/cybex.pertanian.go.id\/artikel\/98605\/teknik-sederhana-budidaya-tanaman-terong--solanum-melongena\/\">ttp:\/\/cybex.pertanian.go.id\/artikel\/98605\/teknik-sederhana-budidaya-tanaman-terong&#8211;solanum-melongena\/<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tanaman terong dalam bahasa latinnya Solanum melongena, adalah tanaman sayuran yang dapat hidup sampai 1 tahun dalam sekali tanam. Tinggi tanaman dapat mencapai 160 cm ditanah yang subur, tanah humus. Tanaman terung dimanfaatkan buahnya sebagai sayur atau lalapan. Terdapat banyak&#8230; <a class=\"di-continue-reading\" href=\"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=3133\"> Continue Reading&#8230;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3134,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,281],"tags":[349,782,783],"class_list":["post-3133","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-dinpertan-pangan","tag-budidaya-terong","tag-tanaman-terong","tag-terong"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3133","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3133"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3133\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3164,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3133\/revisions\/3164"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3134"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3133"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3133"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3133"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}