{"id":3363,"date":"2021-10-04T01:15:23","date_gmt":"2021-10-04T01:15:23","guid":{"rendered":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=3363"},"modified":"2021-10-04T01:15:25","modified_gmt":"2021-10-04T01:15:25","slug":"sistem-tanam-jajar-legowo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=3363","title":{"rendered":"Sistem Tanam Jajar Legowo"},"content":{"rendered":"\n<p>Padi merupakan sumber pangan utama penduduk Indonesia, yang sebagian besar dibudidayakan sebagai padi sawah. Kegiatan dalam bercocok tanam padi secara umum meliputi pembibitan, persiapan lahan, pemindahan bibit atau tanam, pemupukan, pemeliharaan (pengairan, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit) dan panen. Dewasa ini telah diperkenalkan berbagai teknologi budidaya padi, antara lain budidaya sistem tanam benih langsung (Tabela), sistem tanam tanpa olah tanah (TOT), maupun sistem tanam Jajar Legowo (Legowo). Pengenalan dan penggunaan sistem tanam tersebut disamping untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang optimal juga ditujukan untuk meningkatkan hasil dan pendapatan petani.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>PENGERTIAN JAJAR LEGOWO<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sistem tanam jajar legowo adalah pola bertanam yang berselang-seling antara dua atau lebih (biasanya dua atau empat) baris tanaman padi dan satu baris kosong. Istilah Legowo diambil dari bahasa jawa, yaitu berasal dari kata \u201dlego\u201d berarti luas dan \u201ddowo\u201d berarti&nbsp; memanjang. Legowo di artikan pula sebagai cara tanam padi sawah yang memiliki beberapa&nbsp; barisan dan diselingi satu barisan kosong.<\/p>\n\n\n\n<p>Baris tanaman (dua atau lebih) dan baris kosongnya (setengah lebar di kanan dan di kirinya) disebut satu unit legowo. Bila terdapat dua baris tanam per unit legowo maka disebut legowo 2:1, sementara jika empat baris tanam per unit legowo disebut legowo 4:1, dan seterusnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sistem tanam legowo kemudian berkembang untuk mendapatkan hasil panen yang lebih tinggi dibanding sistem tegel melalui penambahan populasi. Selain itu juga mempermudah pada saat pengendalian hama, penyakit, gulma, dan juga pada saat pemupukan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>PRINSIP TANAM JAJAR LEGOWO<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sistem legowo adalah suatu rekayasa teknologi untuk mendapatkan populasi tanaman lebih dari 160.000 per hektar. Penerapan Jajar Legowo selain meningkatkan populasi pertanaman, juga mampu menambah kelancaran sirkulasi sinar matahari dan udara disekeliling tanaman pingir sehingga tanaman dapat berfotosintesa lebih baik. Selain itu, tanaman yang berada di pinggir diharapkan memberikan produksi yang lebih tinggi dan kualitas gabah yang lebih baik, mengingat pada sistem tanam jajar legowo terdapat ruang terbuka seluas 25-50%, sehingga tanaman dapat menerima sinar matahari secara optimal yang berguna dalam proses fotosintesis.<\/p>\n\n\n\n<p>Penerapan sistem tanam legowo disarankan menggunakan jarak tanam (25&#215;25) cm antar rumpun dalam baris; 12,5 cm jarak dalam baris; dan 50 cm sebagai jarak antar barisan\/lorong atau ditulis (25&#215;12,5&#215;50) cm. Hindarkan penggunaan jarak tanam yang sangat rapat, misalnya (20&#215;20) cm, karena akan menyebabkan jarak dalam baris sangat sempit.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Legowo 2:1<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sistem tanam legowo 2:1 akan menghasilkan jumlah populasi tanaman per ha sebanyak 213.300 rumpun, serta akan meningkatkan populasi 33,31% dibanding pola tanam tegel<br>(25&#215;25) cm yang hanya 160.000 rumpun\/ha. Dengan pola tanam ini, seluruh barisan tanaman akan mendapat tanaman sisipan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Legowo 4:1<br>Tipe 1<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sistem tanam legowo 4:1 tipe 1 merupakan pola tanam legowo dengan keseluruhan baris mendapat tanaman sisipan. Pola ini cocok diterapkan pada kondisi lahan yang kurang subur.<br>Dengan pola ini, populasi tanaman mencapai 256.000 rumpun\/ha dengan peningkatan populasi sebesar 60% dibanding pola tegel (25&#215;25) cm.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tipe 2<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sistem tanam legowo 4:1 tipe 2 merupakan pola tanam dengan hanya memberikan tambahan tanaman sisipan pada kedua barisan tanaman pinggir. Populasi tanaman 192.712 \u00b1 4260 rumpun\/ha dengan persentase peningkatan hanya sebesar 20,44% dibanding pola tegel (25&#215;25)cm. Pola ini cocok diterapkan pada lokasi dengan tingkat kesuburan tanah yang tinggi. Meskipun penyerapan hara oleh tanaman lebih banyak, tetapi karena tanaman lebih kokoh sehingga mampu meminimalkan resiko kerebahan selama pertumbuhan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>KEUNTUNGAN JAJAR LEGOWO :<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>(1)<\/strong>&nbsp;Terdapat ruang terbuka yang lebih lebar diantara dua kelompok barisan tanaman yang akan memperbanyak cahaya matahari masuk ke setiap rumpun tanaman padi sehingga meningkatkan aktivitas fotosintesis yang berdampak pada peningkatan produktivitas tanaman.&nbsp;<strong>(2)<\/strong>&nbsp;Sistem tanaman berbaris ini memberi kemudahan petani dalam pengelolaan usahataninya seperti: pemupukan susulan, penyiangan, pelaksanaan pengendalian hama dan penyakit (penyemprotan). Disamping itu juga lebih mudah dalam mengendalikan hama tikus.&nbsp;<strong>(3)<\/strong>&nbsp;Meningkatkan jumlah tanaman pada kedua bagian pinggir untuk setiap set legowo, sehingga berpeluang untuk meningkatkan produktivitas tanaman akibat peningkatan populasi.&nbsp;<strong>(4)<\/strong>&nbsp;Sistem tanaman berbaris ini juga berpeluang bagi pengembangan sistem produksi padi-ikan (mina padi) atau parlebek (kombinasi padi, ikan, dan bebek).&nbsp;<strong>(5)<\/strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Meningkatkan produktivitas padi hingga mencapai 10-15%.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>PENUTUP<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sistem tanam legowo merupakan salah satu komponen teknologi budidaya yang ditujukan untuk mengoptimalkan produktivitas tanaman padi melalui pengaturan populasi. Tanaman diatur sehingga mendapatkan ruang tumbuh dan sinar matahari yang maksimal serta efektivitas pemeliharaan tanaman seperti penyiangan, aplikasi pupuk, serta penanggulangan hama dan penyakit lebih efektif. Penerapan sistem tanam legowo yang benar, diharapkan mampu memberikan keuntungan bagi petani.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sumber: <\/strong><a href=\"http:\/\/cybex.pertanian.go.id\/artikel\/98886\/sistem-tanam--jajar-legowo\/\">http:\/\/cybex.pertanian.go.id\/artikel\/98886\/sistem-tanam&#8211;jajar-legowo\/<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Padi merupakan sumber pangan utama penduduk Indonesia, yang sebagian besar dibudidayakan sebagai padi sawah. Kegiatan dalam bercocok tanam padi secara umum meliputi pembibitan, persiapan lahan, pemindahan bibit atau tanam, pemupukan, pemeliharaan (pengairan, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit) dan panen. Dewasa&#8230; <a class=\"di-continue-reading\" href=\"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=3363\"> Continue Reading&#8230;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3364,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,281],"tags":[836,892,443],"class_list":["post-3363","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-dinpertan-pangan","tag-budidaya-padi","tag-sistem-tanam-jajar-legowo","tag-tanaman-padi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3363","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3363"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3363\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3365,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3363\/revisions\/3365"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3364"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3363"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3363"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3363"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}