{"id":4042,"date":"2022-02-14T00:51:01","date_gmt":"2022-02-14T00:51:01","guid":{"rendered":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=4042"},"modified":"2022-02-14T00:51:02","modified_gmt":"2022-02-14T00:51:02","slug":"ingin-sukses-budidaya-cabai-ini-kuncinya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=4042","title":{"rendered":"Ingin Sukses Budidaya Cabai, Ini Kuncinya"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Ingin sukses budidaya cabai? Kuncinya adalah memperbaiki lahan pertanian. Demikian ditegaskan&nbsp;Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), Abdul Hamid&nbsp;saat webinar Sukses Budidaya Cabai yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani di Jakarta, Rabu (9\/2).<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Hamid melihat&nbsp;permasalahan lahan pertanian saat ini adalah tingkat kesuburan tanah&nbsp;yang&nbsp;rendah akibat penggunaan bahan kimia dalam jangka waktu yang lama. Untuk mengembalikan kesehatan tanah, perlu dilakukan pengapuran, pemberian pupuk kandang, pemberian mikroorganisme yang bermanfaat, dan pemberian pembenah tanah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSetiap kali ke daerah dan bertemu dengan petani,&nbsp;saya&nbsp;selalu&nbsp;sampaikan&nbsp;sehatkan tanah, selamatkan tanaman. Ini salah satu kunci yang harus dilakukan petani,\u201d kata Hamid.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk mendapatkan kondisi lahan yang ideal dalam budidaya&nbsp;cabai, lahan harus diolah secara optimal, termasuk dengan pemberian humic acid sebagai pembenah tanah. Humic acid memiliki beberapa keunggulan, antara lain mampu mengikat air, mempunyai kapasitas tukar kation, memasok energi yang dibutuhkan, mengatur hormon pertumbuhan, dan mampu mengikat polutan dalam tanah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPenggunaan&nbsp;pupuk organik cair&nbsp;dalam berbudidaya dapat menghemat pengeluaran petani dan memberikan hasil produk lebih baik. Dapat dilihat di beberapa lokasi yang telah menggunakan humic acid sebagai pembenah tanah,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut&nbsp;Hamid,&nbsp;tanaman cabai sangat rentan terhadap kondisi cuaca.&nbsp;Karena faktor musim&nbsp;menyebabkan&nbsp;produksi cabai tidak maksimal. Untuk itu,&nbsp;perlu petani&nbsp;harus mendapat arahan&nbsp;untuk&nbsp;menerapkan&nbsp;cara budidaya yang benar.&nbsp;\u201cSaat ini masih sedikit petani yang paham budidaya tanaman cabai,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Petani lanjut Hamid,&nbsp;tidak membedakan cara menanam saat musim kemarau maupun hujan. Padahal, tingkat serangan hama penyakitnya berbeda&nbsp;pada setiap musim,&nbsp;sehingga&nbsp;memerlukan&nbsp;penanganan yang tidak sama.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMenanam cabai harus menggunakan strategis yang benar. Urutannya harus sesuai, kalau tidak hasilnya akan berbeda. Ini yang akan memengaruhi dari ketahanan tanaman terhadap penyakit,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Hamid melihat masalah di tingkat petani di negeri ini adalah belajar dari orang sekitar dan tidak mempunyai ilmu pertanian secara khusus.&nbsp;Karena itu,&nbsp;petani&nbsp;harus&nbsp;mendapat&nbsp;pembinaan agar cara bertanamnya benar dan hasil panennya sesuai harapan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPetani Indonesia dari dulu hingga sekarang masih belum sadar&nbsp; akan ilmu pertanian. Mereka bertani secara tradisional atau kebiasaan dan belum banyak pencerahan dalam hal budidaya tanaman,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sumber: <\/strong><a href=\"https:\/\/tabloidsinartani.com\/detail\/indeks\/horti\/19358-Ingin-Sukses-Budidaya-Cabai-Ini-Kuncinya\">https:\/\/tabloidsinartani.com\/detail\/indeks\/horti\/19358-Ingin-Sukses-Budidaya-Cabai-Ini-Kuncinya<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ingin sukses budidaya cabai? Kuncinya adalah memperbaiki lahan pertanian. Demikian ditegaskan&nbsp;Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), Abdul Hamid&nbsp;saat webinar Sukses Budidaya Cabai yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani di Jakarta, Rabu (9\/2). Hamid melihat&nbsp;permasalahan lahan pertanian saat ini adalah tingkat&#8230; <a class=\"di-continue-reading\" href=\"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=4042\"> Continue Reading&#8230;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4043,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[1177,452,213],"class_list":["post-4042","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-budidaya-cabai","tag-cabai","tag-hortikultura"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4042","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4042"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4042\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4045,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4042\/revisions\/4045"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4043"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4042"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4042"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4042"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}