{"id":4140,"date":"2022-03-07T01:17:09","date_gmt":"2022-03-07T01:17:09","guid":{"rendered":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=4140"},"modified":"2022-03-07T01:17:11","modified_gmt":"2022-03-07T01:17:11","slug":"pengawetan-hijauan-makanan-ternak-ruminansia-dengan-teknologi-silase","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=4140","title":{"rendered":"PENGAWETAN HIJAUAN MAKANAN TERNAK RUMINANSIA DENGAN TEKNOLOGI SILASE"},"content":{"rendered":"\n<p>Hijauan merupakan kebutuhan pokok bagi ternak ruminansia, namun ketersediannya sepanjang musim tidak selalu mudah didapat. Pada musim kemarau ketersediaan hijauan tidak&nbsp; mencukupi untuk kebutuhan ternak sedangkan pada musim penghujan, hijauan sangat mudah didapatkan bahkan berlebih.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Pakan ternak khususnya hijauan seringkali menjadi permasalahan utama pada penyediaan pakan ternak ruminansia dengan kurang terpenuhinya jumlah dan kecukupan nilai nutrisi. Hal tersebut disebabkan karena ketersediaaan pakan yang tidak terus menerus (tidak kontinyu) sepanjang tahun. Pada musim penghujan produksi pakan terutama hijauan tinggi dan terjadi kekurangan pada musim kemarau. Permasalahan ini terjadi karena peternak hanya mengandalkan hijauan dari mencari tanpa menanam sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk menyediakan kebutuhan ternak akan hijauan sepanjang tahun khususnya pada musin kemarau, solusi yang dapat dilakukan oleh peternak mengatasi problematika tersebut adalah dengan cara melakukan pengawetan hijauan ketika hijauan berlimpah; yaitu dengan teknologi cara silase.. Silase merupakan bahan pakan atau hijauan yang telah diawetkan dan diproses secara fermentasi. Bahan pakan tersebut dapat berupa tanaman hijauan, limbah industri pertanian, serta bahan pakan alami lainnya. dengan jumlah kadar\/kandungan air pada tingkat tertentu, dimasukkan dalam sebuah tempat yang tertutup rapat kedap udara yang biasa disebut Silo, selama tiga minggu. Pada pembuatan silase hijauan dapat ditambahkan bahan lain seperti molases (3 liter) \/ onggok (2,5 kg) \/ tepung jagung (3,5 kg) \/ dedak halus (5 kg) \/ amapas tahu (7 kg) per 100 kg hijauan. Dalam silo tersebut akan terjadi beberapa tahap proses anaerob (proses tanpa udara\/oksigen), dimana bakteri asam laktat akan mengkonsumsi zat gula yang terdapat pada bahan baku, atau ditambahkan bahan lain seperti molases\/tetes tebu, air gula sehingga terjadi proses fermentasi. Silase yang baik dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama tanpa banyak mengurangi kandungan nutrisi dari bahan bakunya. Tujuan utama pembuatan silase adalah untuk memaksimalkan pengawetan kandungan nutrisi yang terdapat pada hijauan atau bahan pakan ternak lainnya, agar bisa disimpan dalam kurun waktu lama. Pemberian silase pada ternak ruminansia dapat memaksimalkan feed intake dan mengurangi pencemaran udara.&nbsp; &nbsp; &nbsp; &nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>SILASE HASIL PENGAWETAN HIJAUAN PAKAN TERNAK RUMINANSIA<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pakan ruminansia dalam perhitungan ekonomi menjadi titik pusat sebagai kebutuhan pokok&nbsp;&nbsp; konsumsi ternak harian. Faktor lingkungan dapat memengaruhi besarnya pengaruh pakan terhadap produksi, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan pakan tidak bisa dianggap ringan. Biaya pakan mencapai 80% dari total biaya produksi. Silase adalah bahan pakan atau hijauan yang telah diawetkan yang diproses secara fermentasi. Bahan pakan tersebut dapat berupa tanaman hijauan, limbah industri pertanian, serta bahan pakan alami lainnya, dengan jumlah kadar\/kandungan air pada tingkat tertentu dan dimasukkan dalam sebuah tempat yang tertutup rapat kedap udara yang biasa disebut dengan Silo selama 21-30 hari Pada pembuatan silase hijauan dapat ditambahkan bahan lain seperti molases (3 liter) \/ onggok (2,5 kg) \/ tepung jagung (3,5 kg) \/ dedak halus (5 kg) \/ amapas tahu (7 kg) per 100 kg hijauan. Dalam silo tersebut akan terjadi beberapa tahap proses anaerob (proses tanpa udara\/oksigen), dimana bakteri asam laktat akan mengkonsumsi zat gula yang terdapat pada bahan baku, atau ditambahkan bahan lain seperti molases\/tetes tebu, air gula sehingga terjadi proses fermentasi. . Silase yang baik dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama tanpa banyak mengurangi kandungan nutrisi dari bahan bakunya. Pada prinsipnya pembuatan silase yaitu usaha untuk mencapai dan mempercepat keadaan hampa udara (anaerob) dan terbentuknya suasana asam dalam penyimpanan (terbentuk asam laktat). Agar suasana anaerob dapat terbentuk, perlu dilakukan; (1) pemadatan hijauan dalam silo dengan cara ditekan sekeras mungki atau diinjak-injak sehingga udara tidak ada di dalam silo, (2) silo yang digunakan jangan ada lubang atau kebocoran sekecil apapun, (3) agar terbentuk suasana asam, dapat ditambahkan bahan lain seperti molases, tepung onggok, tepung jagung, dedak halus, pollard dan ampas sagu.<\/p>\n\n\n\n<p>Tujuan utama pembuatan silase adalah untuk memaksimalkan pengawetan kandungan nutrisi yang terdapat pada hijauan atau bahan pakan ternak lainnya, agar bisa disimpan dalam kurun waktu yang lama, untuk kemudian diberikan sebagai pakan bagi ternak terutama untuk mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau. &nbsp;&nbsp; Pemberian silase pada ternak ruminansia dapat memaksimalkan feed intake dan mengurangi pencemaran udara. Pada saat proses fermentasi pada silase juga dipengaruhi oleh lingkungan penyimpanan. Faktor biologi yaitu tahap kematangan bahan pakan dan teknologi yang digunakan akan berpengaruh pada kualitas silase.<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\"><li><strong>Penyiapan Silo<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Silo merupakan nama sebuah wadah atau tempat yang bisa ditutup dan kedap udara, artinya udara tidak bisa masuk maupun keluar dari dan ke dalam wadah tersebut. Wadah tersebut juga harus tidak bocor yang menyebabkan rembesan cairan. Bahan plastik merupakan wadah yang terbaik dan termurah serta sangat fleksibel penggunaannya. Contohnya drum plastik yang memiliki tutup yang dapat dikunci dengan rapat (biasanya warna biru), plastik sampah (hitam), kantong sayuran (transparan). Drum plastik merupakan silo yang cukup baik, karena di samping ukurannya yang sedang sehingga mudah untuk diangkat, dengan penambahan jumlah bisa memenuhi kebutuhan yang lebih banyak. Apabila membuat dalam jumlah yang banyak, maka cara yang termurah adalah dengan menggali tanah. Ukuran disesuaikan dengan kebutuhan., denganmenggunak an kantong plastik sehingga penutupannya bisa dilakukan agak rapat.&nbsp;<strong>&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" start=\"2\"><li><strong>Proses Pembuatan Silase<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>&nbsp;Hijauan atau rumput dilayukan terlebih dahulu kemudian dicacah\/dipotong-potong 2-5 cm sebanyak 100 kg. Siapkan karbohidrat sebagai substrat bakteri (misal tetes tebu\/ molases, tepung onggok, tepung jagung, dedak halus, pollard dan ampas sagu.), \u00b1 3%. Kemudian dicampur pada hijauan secara merata. Masukkan campuran hijauan ke dalam silo (tempat penyimpanan), dipadatkan dan ditutup rapat dan setelah 21-30 hari. Pemadatan hijauan dengan cara di injak-injak atau menggunakan alat bantu batang bambu. Setelah 21-30 hari silo dapat dibuka dan siap diberikan kepada ternak. Apabila silo yang baik dan benar (tidak bocor) dalam pembuatannya maka dapat bertahan 1 tahun selama tetap berada dalam keadaan kedap udara.&nbsp;<strong>Kualitas silase yang baik : &nbsp;<\/strong>pH sekitar 4 \u2013 4,5, Bau segar khas fermentasi dan bukan berbau busuk, Warna hijau sedikit kekuning-kuningan, Tidak berlendir, Tidak berbau tengik. Tidak berjamur, Ketika silo dibuka suhunya &lt; 30oC dan Bila dipegang kering dan teksturnya lembut tidak menggumpal.<strong>&nbsp;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\" start=\"3\"><li><strong>Aplikasi Penggunaan Silase<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pakan silase dapat digunakan sebagai salah satu pakan kasar dalam ransum sapi potong. Pemberian pada sapi perah sebaiknya dibatasi tidak lebih 2\/3 dari jumlah pakan kasa, juga dapat diberikan pada ternak domba. Pada cuaca panas, ternak lebih suka mengkonsumsi silas, apabila ternak belum terbiasa mengkonsumsi silase, maka pemberiannya sedikit demi sedikit dicampur dengan hijauan yang biasa dimakan. Pemberian silase pada ternak ruminansia harus dilakukan dengan memperhatikan respon ternak, karena silase mempunyai aroma dan rasa yang khas, sehingga tidak semua ternak langsung mempunyai respon yang baik terhadap silase. &nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp; Cara aplikasi silase pada ternak ruminansia adalah : Pada saat pembukaan dan pengambilan silase harus dilakukan secara hati-hati, silo harus cepat\u2013cepat ditutup agar udara tidak masuk. Silase paling baik disimpan dalam silo yang berukuran sesuai dengan kebutuhan, sekali ambil isi silo habis. &nbsp;Sebelum diberikan pada ternak silase diangin-anginkan terlebih dahulu, jangan diberikan langsung pada ternak. Untuk ternak yang belum terbiasa makan silase, pemberian dilakukan sedikit-sedikit dicampur dengan hijauan segar yang dikurangi secara bertahap. Jika sudah terbiasa silase dapat diberikan sesuai dengan kebutuhan ternak setiap hari. Pemberian silase dapat dilakukan bertahap, misalnya 75% (pakan biasa dimakan) dan 25% (silase). Apabila ternak sudah terbiasa makan silase, maka pemberiannya dapat ditingkatkan, misal 50% (pakan biasa dimakan) dan 50% (silase). Lakukan peningkatan pemberian pakan silase sampai ternak mau makan silase 100%.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sumber:<\/strong> <a rel=\"noreferrer noopener\" href=\"http:\/\/cybex.pertanian.go.id\/artikel\/100505\/pengawetan-hijauan-makanan-ternak-ruminansia-dengan-teknologi-silase\/\" target=\"_blank\">http:\/\/cybex.pertanian.go.id\/artikel\/100505\/pengawetan-hijauan-makanan-ternak-ruminansia-dengan-teknologi-silase\/<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hijauan merupakan kebutuhan pokok bagi ternak ruminansia, namun ketersediannya sepanjang musim tidak selalu mudah didapat. Pada musim kemarau ketersediaan hijauan tidak&nbsp; mencukupi untuk kebutuhan ternak sedangkan pada musim penghujan, hijauan sangat mudah didapatkan bahkan berlebih. &nbsp;Pakan ternak khususnya hijauan seringkali&#8230; <a class=\"di-continue-reading\" href=\"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=4140\"> Continue Reading&#8230;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4141,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,281],"tags":[649,1219,106,1220,789],"class_list":["post-4140","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-dinpertan-pangan","tag-pakan-ternak","tag-pengawetan-hijauan-makanan-ternak-ruminansia","tag-peternakan","tag-teknologi-silase","tag-ternak"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4140","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4140"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4140\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4156,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4140\/revisions\/4156"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4141"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4140"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4140"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4140"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}