{"id":4570,"date":"2022-06-09T00:50:31","date_gmt":"2022-06-09T00:50:31","guid":{"rendered":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=4570"},"modified":"2022-06-09T00:50:33","modified_gmt":"2022-06-09T00:50:33","slug":"padi-organik-bukti-nyata-pertaian-ramah-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=4570","title":{"rendered":"Padi Organik, Bukti Nyata Pertaian Ramah Lingkungan"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Komunitas keagamaan di Jawa Tengah sepakat merawat bumi, melestarikan lingkungan hidup dengan memproduksi padi organik. Gerakan ini merupakan percontohan dan edukasi nyata perilaku non kosumtif ramah lingkungan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Hal terzebut disampaikan DR. Aloysius Budi Purnomo, Pr ketika menutup rangkaian pecan lingkungan hidup, Laudato Si 2022, beberapa waktu lalu. Konsep pertanian organik ramah lingkungan ini sudah digelorakan sejak tahun 80-an oleh almarhum Oetomo Pr dari Ganjuran, Yogyakarta. Pada waktu itu, petani dibimbing untuk memanfaatkan bahan-bahan dan mahluk alam dalam berbudidaya pertanian.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih lanjut Doktor lingkungan hidup jebolan S3 Unika Soegijapranata Semarang ini mengatakan bahwa penting untuk selalu belajar dari kearifan lokal.<\/p>\n\n\n\n<p>Dicontohkan olehnya, menurut penelitan Rachel Carson ( 1960 ), penggunaan pestisida kimia tidak saja membunuh hama dan penyakit tanaman, tetapi juga membunuh mahluk lain, membunuh kemanusiaan dan lingkungan. Penelitiannya itu dipublikasikan dalam bentuk novel ilmiah berjudul \u201cSilent Spring\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Pertanian organik menawarkan cara-cara alami untuk melakukan budidaya pertanian. Misalnya penanaman refugia (bunga-bungaan) di sekeliling sawah, untuk menarik serangga hama sehingga tidak merusak tanaman padi.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/tabloidsinartani.com\/uploads\/news\/images\/inline\/220606091529-490.JPG\" alt=\"\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Setiap hama pasti punya musuh alami, itu yang dikembangkan untuk mengatasi hama penyakit. Pemupukan memakai limbah ternak atau limbah rumah tangga yang diolah dengan sempurna, sehingga tidak meninggalkan residu yang merusak tanah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSebenarnya alam sudah mengatur keseimbangannya sendiri, campur tangan manusia yang sembrono itu lah yang merusak keseimbangan alam, sehingga menjadi boomerang munculnya bencana endemic serangan hama penyakit tanaman, banjir, kekeringan dan sebagainya,\u201d ungkapnya\/.<\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan merawat bumi dan melestarikan lingkungan hidup yang telah dilakukan oleh komunitasnya antara lain pelatihan-pelatihan pengembangan ecoenzym, pembuatan pupuk komposting, pupuk dari limbah rumah tangga, pembuatan pestisida alami juga percontohan penanam sayuran organik dipekarangan, hingga percontohan padi organik<a><\/a>..<\/p>\n\n\n\n<p>Bak gayung bersambut. Niat merawat bumi dan melestarikan lingkungan hidup ternyata juga diyakini oleh teman-temannya tokoh-tokoh agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khonghucu.<\/p>\n\n\n\n<p>Diakui oleh rohaniwan yang berkarya di Unika Semarang ini, bahwa guru-gurunya di bidang lingkungan hidup, antara lain&nbsp;KH. Ubaidillah Shodaqoh atau yang akrab disapa Gus Ubed Pengasuh Pondok Pesantren Al Itqon, Bugen, Tlogosari Semarang, juga KH Imron Jamil pengasuh Pondok Pesantren Kyai Mojo Tambak Beras, Jombang telah berlari jauh didepan. Beliau-beliau ini telah berbuat praktek langsung dengan menanam padi organik di wilayahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Bahkan, KH Ubaidillah Shodaqoh, yang juga menjabat sebagai Rais Syuriyah&nbsp;PWNU&nbsp;Jateng,&nbsp;&nbsp;melalui Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU)&nbsp;telah mengerahkan PCNU-PCNU se Jawa Tengah untuk menanam padi organik, baik sebagai percontohan maupun sudah dalam skala usaha tani.<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti yang telah diberitakan, panen padi organik PCNU telah mulai berhasil di tuai petani di Kebumen, disusul Klaten lalu Grobogan, juga akan disusul daerah-daerah lain. Kabarnya pasar di Timur Tengah suka dengan beras organik dari Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebuah prestasi yang membanggakan. Menghasilkan pangan aman dan bermutu bagi sesame manusia, seraya merawat bumi dan lingkungan hidup.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBumi ini bukan warisan orang tua, tapi titipan anak cucu kita. Maka wajib hukumnya untuk merawat dan melestarikan,\u201d pungkas Budi Purnomo.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sumber:<\/strong> <a href=\"https:\/\/tabloidsinartani.com\/detail\/\/indeks\/pangan\/20175-Padi-Organik-Bukti-Nyata-Pertaian-Ramah-Lingkungan\">https:\/\/tabloidsinartani.com\/detail\/\/indeks\/pangan\/20175-Padi-Organik-Bukti-Nyata-Pertaian-Ramah-Lingkungan<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Komunitas keagamaan di Jawa Tengah sepakat merawat bumi, melestarikan lingkungan hidup dengan memproduksi padi organik. Gerakan ini merupakan percontohan dan edukasi nyata perilaku non kosumtif ramah lingkungan. Hal terzebut disampaikan DR. Aloysius Budi Purnomo, Pr ketika menutup rangkaian pecan lingkungan&#8230; <a class=\"di-continue-reading\" href=\"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/?p=4570\"> Continue Reading&#8230;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4571,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,281],"tags":[401,837,441],"class_list":["post-4570","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","category-dinpertan-pangan","tag-padi","tag-padi-organik","tag-tanaman-pangan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4570","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4570"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4570\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4572,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4570\/revisions\/4572"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4571"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4570"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4570"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dinpertanpangan.demakkab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4570"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}