ARTIKEL • BERITA • Dinpertan Pangan • Sayung
Monitoring Standing Crops Pasca Banjir di Kecamatan Sayung
November 10, 2025
Sayung, 10 November 2025 — Banjir yang terjadi pada akhir Oktober lalu kembali memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian di Kecamatan Sayung. Berdasarkan laporan tanggal 28 Oktober 2025, total 51 hektare lahan padi dilaporkan terdampak banjir akibat curah hujan tinggi dan limpasan sungai di wilayah Desa Prampelan, Sidorejo, Kalisari, Karangasem, dan Jetaksari.



Sebagai tindak lanjut, PPL BPP Sayung (Indira dan Maryuti) bersama Korluh Hari Mul dan POPT Shella melaksanakan monitoring tanaman padi pasca banjir di beberapa desa terdampak untuk menilai kondisi tanaman dan potensi kerusakan.
Hasil Monitoring Lapangan
- Desa Sidorejo
Upaya penanggulangan dilakukan melalui optimalisasi pompa air. Kondisi lahan masih aman dan tanaman dapat dipertahankan. - Desa Karangasem
Terdapat sekitar 5 hektare tanaman yang masih terendam air, sehingga berpotensi mengalami gangguan pertumbuhan. - Desa Prampelan
Tanaman padi berumur ±30 HST masih terendam air setinggi 30 cm di wilayah Poktan Mulyosari (5 ha) dan Poktan Budi Luhur (5 ha), dengan risiko puso sebagian.
Meskipun intensitas hujan mulai menurun, dampak banjir tetap memerlukan pemantauan dan intervensi cepat. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat kerusakan, menilai pemulihan tanaman, dan menentukan apakah tanaman masih dapat diselamatkan atau telah masuk kategori puso (gagal panen).
Selain itu, sinergi antara petani, penyuluh pertanian lapangan (PPL), petugas POPT, dan instansi terkait sangat dibutuhkan agar langkah mitigasi dan tindak lanjut dapat dilakukan dengan tepat. Monitoring standing crops secara berkala menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan produksi dan ketahanan pangan di wilayah terdampak.
Sumber: BPP Sayung
Recent Comments