Teknologi Budidaya Bawang Putih
May 19, 2022
Bawang putih (Allium sativum) merupakan jenis sayuran, sebagai bahan bumbu makanan, dan penyedap pada masakan. Saat ini bawang putih merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru ekonomi dalam pembangunan pertanian. Bawang putih sebagai salah satu komoditas pangan strategis nasional, bisa menghemat devisa negara melalui penurunan jumlah impor bawang putih. Permintaan bawang putih di Indonesia sebagian besar dari impor. Oleh karena itu Kementerian Pertanian bertekad memenuhi sebagian besar kebutuhan konsumen melalui produksi bawang putih yang tinggi. Untuk itu perlu penerapan teknologi budidaya yang baik dan benar sebagai berikut:
Persyaratan Tumbuh
Tanaman bawang putih tumbuh pada jenis tanah yang bertekstur lempung berpasir, gembur dan ph 5,5-7. Tumbuh dengan baik di daerah bersuhu dingin 900 m dpl.Tanaman ini memerlukan suhu dingin pada saat pembentukan dan pembesaran umbi.
Persiapan Lahan
Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya dengan cara membajak tanah sedalam 20-30 c, dilakukan 2-3 kali selang waktu1 mingu. Selanjutnya dibuat bedeng dengan lebar 60-150 dan tinggi 20-50 cm, Panjang bedeng disesuaikan dengan kondisi lahan. Diantara bedeng dibuat parit untuk pengairan. Lebar parit 30-40 cm dan dalamnya disesuaikan musim tanam. Bila musim hujan, parit dibuat lebih dalam supaya dapat menampung dan mengalirkan air
Varietas
Varietas benih bawang putih yang direkomendasikan dan cocok ditanam adalah varietas lokal lumbu kuning, lumbu kuning, tawangmangu dan varietas lokal lainnya yang tentunya telah beradaptasi dengan lingkungan setempat
Penanaman
Benih ditanam dengan kedalaman 2-3 cm, jarak tanam disesuaikan dengan ukuran benih siung. Bila siung bobotnya lebih dari 1,5 gr maka jarak tanamnya 20×20 cm. Namun bila bobot siung kurang dari 1,5 gr maka jarak tanam 15×15 cm atau 15×10 cm. Untuk mendapatkan umbi yang baik, gunakan kerapatan tanam yang rendah. Namun untuk memperoleh produksi tinggi gunakan kerapatan tanaman yang tinggi. Kebutuhan benih 1.600 kg/ha (bila beras suing 3 gr) atau 670 kg/ha (bila berat siung 1 gr)
Pemupukan
Pupuk yang digunakan yaitu pupuk organik (pupuk kendang ayam 10-20 ton/ha atau pupuk kendang kambing 30 ton/ha). Pupuk kimia yang digunakan dan direkomendasikan adalah Urea sebanyak 200 kg/ha, Phospor sebanyak 180 kg/ha, Kalium 60 kg, dan Sulfur 142 kg/ha. Pupuk Phospor dan Kalium diberikan sebagai pupuk dasar pada waktu tanam. Pupuk Urea diaplikasikan 3 kali selama pertumbuhan, yaitu saat tanam, pembentukan tunas (15-30 hari setelah tanam) dan pembentukan umbi (30-45 hst) dengan masing-masing sepertiga bagian.
Pupuk kimia cair dapat diberikan untuk meningkatkan kualitas dan hasil umbi. Pupuk daun dapat diaplikasikan 3 kali, saat tanaman berumur 3, 6, dan 9 hst
Pemulsaan
Tanaman bawang putih perlu diberi mulsa berupa jerami padi atau sisa-sisa tanaman yang mati. Pemulsaan ini dilakukan pada musim kemarau. Bila musim hujan, maka kelembaban tanah akan meningkat sehingga kurang baik bagi pertumbuhan tanaman bawang putih.Penggunaan mulsa plastik tidak dianjurkan karena dapat meningkatkan suhu tanah disekitar perakaran yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman bawang putih.
Pengairan
Dilakuan dengan cara penggenangan melalui parit diantara bedengan. Pemberian air bergantung paa umur tanaman. Pada awal pertumbuhan, pengairan 2-3 hari sekali sesuai kebutuhan. Pada masa pembentukan tunas sampai pembentukan umbi, pengairan dilakukan 7-15 hari sekali dengan cara yang sama dan pada saat pembentukan umbi maksimal 10 hari menjelang panen tidak dilakukan pengairan.
Pemeliharaan
Penyiangan gulma dan diikuti perbaikan bedeng dilakukan selang waktu 20-30 hari atau disesuaikan dengan pertumbuhan gulma. Hindari melakukan penyiangan setelah tanaman masuk fase generatif karena dapat mengganggu proses pembentukan dan pembesaran umbi
Pengendalian OPT
Hama dan penyakit utama tanaman bawang putih adalah Thrips tabaci yang menimbulkan kerusakan 80%, Spodoptera exigua, Fusarium sp. Pengendalian OPT dianjurkan dengan menerapkan pengendalian hama terpadu dengan menggunakan benih sehat, musuh alami, kultur teknis, perangkap hana, sanitasi lingkungan dan aplikasi pestisida berdaserkan ambang pengendalian. Pengendalian dengan pestisida dilakukan dengan benar, baik pemilihan jenis dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.
Sumber: http://cybex.pertanian.go.id/artikel/100959/teknologi-budidaya-bawang-putih/
Recent Comments