PENDAMPINGAN MONEV BPKP: RANTAI PASOK PANGAN STRATEGIS BERAS
May 23, 2024
Demak – Pasca panen padi merupakan kegiatan mulai dari pemanenan, penumpukan dan pengumpulan, perontokan, pembersihan, pengangkutan, pengeringan, pengemasan dan penyimpanan serta penggilingan. Berbagai permasalahan yang ditemukan dalam usaha penggilingan padi pada distribusi bahan baku dan produk, karena rantai pasokan komoditas pertanian sangat kompleks dan banyak pelaku dalam kegiatan proses produksi hingga pemasarannya. Rabu (22/05), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Provinsi Jawa Tengah Agaton Winubhawa dan Luqman Irwansyah melaksanakan kunjungan kerja mengevaluasi Kelembagaan Ekonomi Petani atau KEP tentang alur rantai pasok pascapanen padi di tingkat produsen.



Pertemuan tersebut disambut oleh Ketua Poktan Muktiharjo Abdul Sukur didampingi oleh Korluh BPP Demak Muhammad Sumedi, petugas enumerator Endang Dwi Astuti dan Sri Budi Wijayanti serta penyuluh pertanian Nining Khasanah. Rutinitas pada saat musim panen padi, petani di Desa Kalikondang kebanyakan menjual hasil panennya kepada pemilik combine. Karena pemilik combine sekaligus operator yang notabennya sudah mengantongi kerjasama dengan penggilingan padi (selep) langganan.
Hal ini dikarenakan selep di daerah setempat masih minim kapasitas dan beberapa alat pengolahannya masih manual sehingga penggilingan padi tidak bisa maksimal. Maka, ketika hasil panen padi melimpah, tidak semua hasil panen dapat tertampung di selep setempat. Metode yang mereka terapkan yaitu hasil panen dikeringkan dengan cara bertahap. Namun, hal tersebut akan mempengaruhi neraca harga gabah pada waktu itu. Harga jual gabah pun tidak ditentukan petani melainkan ditentukan oleh tengkulak karena apabila petani menjual gabah dengan sistem tunda jual pada saat harga gabah turun, petani tidak bisa menyimpan gabah hasil panen dikarenakan masalah tempat penyimpanan.
Jadi kebanyakan petani akan memilih langsung menjualnya kepada tengkulak sesuai dengan harga jual pada waktu itu juga. Saran dari BPKP, pengurus poktan melakukan koordinasi dengan seluruh anggota kelompok tani untuk menentukan harga sendiri. “Jadi, konsepnya seluruh hasil kelompok dijual secara kolektif ke tengkulak dengan harga jual yang sama antara petani satu dengan yang lainnya. Harapannya semua hasil panen dibeli oleh tengkulak pada saat itu juga untuk meminimalisir ada permainan harga” terang Agaton. Abdul Sukur menjelaskan dengan menggunakan jasa combine, dalam luasan lahan 7.500 m2 bisa menghemat biaya panen. Apabila jasa manual bisa sampai Rp. 7.500.000,- maka dengan combine cukup Rp. 2.000.000,-. Untuk gabah yang menggunakan jasa panen manual dihargai Rp. 5.100,-/kg sedangkan combine Rp. 5.500,-/kg.
Korluh BPP Demak menghimbau kepada seluruh petani di Desa Kalikondang untuk terintegrasi dalam KEP agar dapat meningkatkan skala usaha/ ekonomi petani, menaikkan posisi tawar petani, memperbaiki jaringan kemitraan agribisnis dalam memanfaatkan peluang usaha serta memenuhi permintaan pasar yang lebih luas.
Sumber: BPP Kecamatan Demak
Recent Comments