Jl. Sultan Hadiwijaya No.08 Demak (0291)685013 dinpertanpangan@demakkab.go.id

ARTIKELBERITADinpertan PanganSayung

Laporan Pengamatan Lahan Pasca Banjir di Sawah Poktan Sidorukun Desa Jetaksari, Kecamatan Sayung

Sayung – Curah hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi pada bulan Februari hingga Maret 2025 di wilayah Kecamatan Sayung, khususnya di Desa Jetaksari, telah memberikan dampak serius terhadap sektor pertanian. Dampak Perubahan Iklim (DPI) yang semakin terasa menyebabkan sungai-sungai di wilayah ini tidak mampu menampung debit air yang tinggi, sehingga meluap dan menggenangi lahan pertanian. Salah satu wilayah yang terdampak cukup parah adalah lahan sawah milik Kelompok Tani (Poktan) Sidorukun di Desa Jetaksari dengan luasan sekitar 5 hektare.

Selama hampir dua bulan, lahan sawah tersebut berada dalam kondisi tergenang air, sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan penanaman. Akibatnya, lahan tersebut berada dalam kondisi bera (tidak ditanami) hingga awal April 2025. Setelah kondisi air mulai surut, petani mulai melakukan penanaman kembali, dan saat ini pertanaman telah mencapai umur antara 20 hingga 45 hari setelah tanam (HST). Pada saat pengamatan, terlihat bahwa petani telah menanam padi di lahan bawah, sementara di lahan yang lebih tinggi ditanami jagung. Secara umum, kondisi tanaman aman dan belum ditemukan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), meskipun pertumbuhannya terlihat kurang optimal akibat sisa-sisa genangan dan kelembapan tanah yang masih tinggi.

Untuk menilai lebih lanjut kondisi lapangan dan memberikan pendampingan langsung kepada petani, tim dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sayung yang terdiri dari Koordinator Penyuluh Hari Mul, PPL wilayah binaan Catur Hikmah, serta penyuluh lainnya yakni Indira, Irfan, dan Maryuti melakukan pengamatan langsung di lokasi lahan pasca bera. Dalam pengamatan tersebut, tim menyampaikan pentingnya kewaspadaan terhadap munculnya penyakit tanaman yang kerap menyerang di kondisi lembap dan tanah yang cenderung asam (asem-asemen). Penyakit seperti Hawar Daun Bakteri (HDB) yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae dan dikenal petani sebagai “kresek”, serta penyakit Blast menjadi ancaman yang harus diantisipasi.

Tim penyuluh juga menekankan pentingnya penataan sistem pengairan dan sanitasi lahan, baik saluran sekunder maupun tersier, agar aliran air lebih lancar dan tidak menimbulkan genangan. Di samping itu, pemupukan harus dilakukan secara bijaksana sesuai dengan kebutuhan tanaman dan bukan berdasarkan keinginan petani semata. Penggunaan pestisida pun disarankan agar tetap memperhatikan prinsip ramah lingkungan dan sesuai dosis yang dianjurkan.

Pengamatan ini merupakan bagian dari upaya dini yang dilakukan oleh BPP Sayung dalam rangka mengamankan produksi pertanian di tengah tantangan iklim yang semakin tidak menentu. Melalui pendampingan yang berkelanjutan, diharapkan petani dapat menjaga keberlangsungan panen dan turut serta mendukung program swasembada pangan nasional serta meningkatkan kesejahteraan keluarga petani.

Sumber: BPP Kecamatan Sayung

Bagikan

Recent Comments