Jl. Sultan Hadiwijaya No.08 Demak (0291)685013 dinpertanpangan@demakkab.go.id

BERITAKementerian Pertanian

Eko Enzim membantu masalah pertanian

Belakangan ini permasalahan soal pupuk masih sering muncul di berbagai media, kalau diinventarisir persoalannya ada beberapa macam, beberapa diantaranya data kebutuhan pupuk yang riil dan akurat serta distribusi yang tidak akurat. Kekurangan anggaran subsidi, keterkaitan kartu tani, keterjangkauan pada petani, hingga persoalan kelangkaan di lapangan.Bahkan Presiden Joko Widodo meminta untuk mengevaluasi pemberian subsidi pupuk.

Sementara Permasalahan Umum Pertanian adalah 1) Pelandaian produktivitas lahan pertanian (levelling off); 2) Trend peningkatan produktivitas jauh lebih rendah dari trend konsumsi pupuk ; 3) Rendahnya efisiensi pemupukan dan 4) Kandungan bahan organik tanah umumnya rendah 73% C-org tanah rendah ( 3%)

Menurut pengamatan di lapangan, kebutuhan pupuk kimia sangatlah besar, dibandingkan dengan kebutuhan pupuk organik, hal ini disebabkan pasokan pupuk organik yang masih kurang, waktu itu teknologi pembuatan pupuk organik yang belum banyak diketahui oleh petani. Hal ini membuat ketergantungan petani terhadap pupuk kimia sehingga berdampak terhadap kondisi lahan pertanian yang semakin berkurang unsur-unsur hara yang terkandung didalamnya. Pemakaian pupuk anorganik terutama dalam  jumlah berlebihan di atas takaran rekomendasi selama ini sudah mulai  memberikan dampak lingkungan yang negatif seperti menurunnya kandungan bahan organik tanah, rentannya tanah terhadap erosi,  menurunnya permeabilitas tanah, menurunnya populasi mikroba tanah, dan  sebagainya.

Menurut hasil penelitian kalau dilihat dari peta kandungan bahan organik di pulau Jawa, kandungan bahan organik sebelum tahun 1950 an, masih banyak lahan yang mengandung 5-10 % bahan organik, kemudian semakin kesini sebelum tahun 2010 kebanyakan kandungan bahan organiknya hanya 1-1,5 % . Jadi Efisiensi penggunaan pupuk kimia saat ini sudah menjadi suatu keharusan.

Sebagai penyuluh yang dekat dengan petani, atau sebagai garda terdepan dalam pertanian, penyuluh harus mendampingi petani agar produksi yang dihasilkan benar benar berkualitas dengan memanfaatkan pengetahuan dan penelitian yang sudah disiapkan para peneliti. Terkait dengan kesulitan pupuk, karena ketergantungan pada subsidi atau bantuan harus dikurangi, tentunya harus mengajak petani untuk melakukan pemupukan berimbang, demikian juga harus memasifkan pembuatan pupuk kompos, pupuk organik padat ataupun cair, pembuatan eko enzim dan sebagainya dengan menggunakan bahan bahan yang ada di sekitarnya.

eko enzim merupakan larutan zat organik kompleks yang diproduksi dari proses fermentasi sisa sampah organik, gula, dan air. Cairan eko enzim ini berwarna coklat gelap dan memiliki aroma asam/segar yang kuat. Saat ini eko enzim  banyak dibuat orang karena banyak manfaatnya. Kalau untuk pertanian sebagai pupuk cair dan untuk pembasmi hama penyakit. Kalau  untuk kesehatan bisa sebagai desinfektan,bahkan untuk banyak penyakit kulit atau lainnya. Kalau untuk rumah tangga bisa untuk pencegahan covid 19 dengan  kumur kumur atau disemprotkan di tempat yang kemungkinan ada virusnya. Selain itu bisa untuk mandi, untuk pembersih serba guna lantai, siram tanaman dan sebagainya yang sifatnya melestarikan lingkungan.

Eko enzim  yang ada bersumber dari berbagai bahan baku organik seperti halnya kulit buah-buahan dan sayur sayuran segar yang sudah dibilang sampah. Perbedaaan pada bahan baku tentunya akan memberikan efek yang berbeda pula pada hasil konversi proses yang dilakukan. Mengingat manfaat dan potensi penggunaannya di lingkungan,

Cara membuatnya cukupmudah dan dalan dapat dibuat dalam sekala rumah tangga, yaitu dengan mengumpulkan kulit buah atau buah yang tidak layak dikonsumsi atau sampah sayuran segar, tentunya semua dalam keadaan tidak busuk, yang dipotong kecil kecil kemudian dicampur gula merah/molase dan air pada wadah plastik dengan perbandingan 3:1:10. Biarkan selama 3 bulan ditempat kering suhu ruang. Beri catatan pada wadah mulai dibuatnya. Pada hari ke 7-10  bisa dibuka untuk mengeluarkan gas kemudian ditutup lagi. Sekiranya gas yang dihasilkan banyak, maka bisa diulang dibuka lagi setelah seminggu, kemudian ditutup lagi, dan dibiarkan hingga 3 bulan, baru bisa dipanen. Cara panen cukup dipisahkan cairan dan ampasnya, dengan disaring, ampasnya bisa untuk campuran buat eko enzim lagi dengan menambahkan bahan organik yang baru, gula dan air dengan perbandingan seperti di atas.

Eko enzim yang sudah jadi itu juga bisa untuk bahan pembuatan kompos. Pupuk kompos/Pupuk organik termasuk pupuk yang ramah lingkungan dan mempunyai beberapa keunggulan dibanding jenis pupuk lainnya yaitu: 1) memperbaiki dan menjaga struktur tanah tetap gembur, sehingga pertumbuhan akar tanaman lebih baik, 2) meningkatkan daya serap dan daya pegang tanah terhadap air, sehingga ketersediaan air yang dibutuhkan tanaman memadai, 3) menaikkan kondisi kehidupan di dalam tanah, 4) mengurangi tersekatnya fosfat dan meningkatkan ketersediaan unsur-unsur hara bermanfaat. Menurut pengakuan Chairel Malelak selaku Kepala Bidang Penyuluhan dan pengerak Eko enzim dari Kabupaten Timor Tengah Utara, menyampaikan lahannya yang menggunakan kompos Eko enzim NPK cair berpengaruh terhadap produksi, rasa dan daya tahan terhadap hama penyakit, demikian juga untuk tanaman padi juga sangat bagus. Baik Kompos Eko enzim maupun cairan Eko enzim dapat dimanfaatkan untuk pertanian ramah lingkungan. Bahkan cairan eko enzim bisa digunakan untuk banyak manfaat lainnya terkait juga untuk kebersihan maupun  kesehatan. Selamat mencoba.

Sumber: http://cybex.pertanian.go.id/artikel/96748/eko-enzim-membantu-masalah-pertanian-/

Bagikan