Jl. Sultan Hadiwijaya No.08 Demak (0291)685013 dinpertanpangan@demakkab.go.id

ARTIKELKementerian Pertanian

Pengendalian Hama Dalam Memproduksi Benih Secara Mandiri

Dalam kegiatan budidaya tanaman padi ada beberapa tahapan kegiatan  pemeliharaan yang harus dilakukan. Tahapan kegiatan pemeliharaan itu meliputi menyulam mengairi ,memupuk, menyiang, penyerbukan buatan dan pengendalian OPT. Kegiatan pengendalian OPT dirasa saat penting karena bisa berdampak gagal panen kalau tidak dilakukan. Untuk itu berikut ini akan dibahas terkait pengendalian OPT.

Pengendalian Hama

Hama merupakan faktor penghambat yang menentukan berhasil tidaknya usaha pertanian. Pengendalian hama bertujuan untuk mengamankan produksi dan membatasi kehilangan hasil. Disamping berpengaruh terhadap produksi, hama berpengaruh pula terhadap mutu benih yang akan dihasilkan. Pengendalian hama dilakukan seefektif mungkin supaya tidak terdapat tanaman yang tumbuhnya kurang baik dan tidak seragam. Adapun dosis pestisida yang digunakan serta waktu pemberian dan caranya disesuaikan dengan rekomendasi yang berlaku.Ada beberapa Hama yang sering menyerang tanaman padi antara lain

1. Tikus;  Pada prinsipnya, pengendalian tikus harus dilakukan secara dini, intensif dan terus menerus pengolahan tanah sampai fase panen dengan memanfaatkan semua teknologi pengendalian yang ada. Pelaksanaannya harus dilakukan secara terkoordinasi dan bersama-sama dalam skala yang luas. Kombinasi sistem perangkap bubu dengan tanaman perangkap yang ditanam 3-4 minggu lebih awal dari tanaman sekelilingnya efektif  mengendalikan tikus.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengendalian tikus pada masing-masing fase :

1).   Masa Pratanam atau Pengolahan Tanah

(a). Pemantauan dini populasi tikus di sekitar tanggul irigasi, pinggiran saluran atau anak sungai, jalan raya, pematang sawah dan batas kampong

  • Sanitasi habitat tikus di tanggul irigasi, pematang, jalan raya, sawah, pinggiran saluran dan tempat lainnya
  • Perburuan tikus sambil melakukan sanitasi dibantu anjing, jala, emposan belerang dan cara lainnya.

2).   Masa Persemaian

        (a)  Gropyokan massal atau berburu tikus pada berbagai habitat dengan cara menggali lubang, memompa lubang dengan lumpur atau air, emposan belerang, perangkap jala.

  • Pemagaran pesemaian dengan plastik. Pada daerah endemik tikus, pagar plastik perlu dilengkapi perangkap bubu pada kedua sisinya untuk mengurangi populasi sejak awal. Sebaiknya pesemaian dikelompokkan pada suatu hamparan untuk memudahkan pengamanan.
  • Pada daerah endemik, penangkapan tikus menggunakan perangkap bubu. Tanaman perangkap ditanam 3 minggu lebih awal dari petani sekitarnya, dikurung pagar plastik setinggi 60 cm, ditegakkan dengan ajir bambu, dan dilengkapi satu perangkap bubu berukuran 25 x 25 x 60 cm  pada  keempat sisinya.
  • Perangkap bubu terbuat dari ram kawat atau seng bekas kaleng minyak goreng. Disekitar tanaman perangkap dibuat parit supaya pagar selalu tergenang dan tikus tidak melubangi pagar atau menggali lubang dibawah pagar. Bubu harus diperiksa setiap hari supaya tikus atau hewan lain yang terjabak dalam bubu tidak mati.
  • Penyiapan tanaman perangkap. Tanaman perangkap ditanam di sekeliling areal, 3 minggu lebih awal dari tanaman pokok. Cara ini dapat dikombinasikan dengan pemasangan perangkap bubu.

3) Fase Vegetatif

  • Penggunaan umpan rodentisida antikoagulan dan emposan belerang.
  • Untuk menjaga adanya migrasi tikus dari daerah sekitar sawah bera, perkampungan, saluran irigasi, dilakukan pemasangan perangkap bubu linier (PBL), terdiri dari pemagaran plastik setinggi 50 cm sepanjang minimal 100 m ditegakkan ajir bambu, dilengkapi perangkap bubu setiap jarak 20 m. PBL dipasang di perbatasan habitat tikus selama 3-5 hari atau dapat dipindahkan ke lokasi lain yang memerlukan.
  • Sanitasi lingkungan pada habitat tikus
  • Pengumpanan kedua dengan rodentisida.

4)  Fase Primordia Berbunga, Pematangan Bulir dan Panen

  • Pengemposan lubang aktif tikus dengan belerang
  • Pemasangan PBL dengan arah lubang perangkap bubu berselang hingga dapat menangkap tikus dari dua arah, terutama di areal pertanaman yang terserang tikus cukup berat.

2. Penggerek Batang padi; Walaupun semua spesies hama penggerek batang menimbulkan gejala yang sama (sundep dan beluk), namun setiap spesies menpunyai perilaku spesifik dan dominasi pada suatu daerah tertentu dapat berubah, tergantung pada waktu dan tempat. Karena itu strategi pengendalian penggerak batang juga harus spesifik lokasi.

Strategi pengendalian penggerek batang padi dapat ditempuh melalui :

  • Pengaturan waktu tanam varietas yang disesuaikan dengan populasi serangga
  • Pengendalian secara biologis dengan melakukan pengumpulan kelompok telur yang terparasit dan tidak menggunakan insektisida pada awal pertanaman
  • Pengaplikasian insektisida dengan memperhatikan ambang kendali, yaitu dua kelompok telur/m².
  • Pengendalian mekanis dengan penangkapan secara massal (mass trapping) dengan perangkap feromon seks.
  • Penanaman tanaman perangkap purun tikus (Eleocharis dulcis) di sudut atau disamping areal tanam sebagai perangkap kelompok telur. Dalam pengendalian ini digunakan insektisida Furadan 3G 17 kg/ha untuk mematikan telur yang menetes.
  1. Wereng Coklat

3. Wereng Coklat; Pengendalian wereng coklat dapat dilakukan dengan penanaman varietas unggul tahan wereng coklat dan aplikasi insektisida dengan formula ambang kendali. Secara spesifik, cara pengendalian wereng coklat adalah sebagai berikut :

  • Penanaman varietas tahan wereng coklat pada musim hujan, yaitu IR 64, IR 72, Memberamo, Way Apo Buru, Maros. Digul dan lain-lain.
  • Penanaman varietas tahan wereng coklat pada musim kemarau, yaitu IR 42, Cisadane, Muncul, Cisanggarung, Ciliwung dan lain-lain.
  • Tidak menanam varietas lokal atau galur yang belum dilepas.
  • Pemantauan serangan wereng coklat di lapang. Pemantauan dilakukan seminggu sekali atau paling lambat 2 minggu sekali, dimulai sejak tanaman berumur 2 minggu setelah tanam sampai 2 minggu sebelum panen.
  • Penggunaan insektisida formulasi ambang kendali didasarkan pada populasi musuh alami. Insektisida yang efektif untuk pengendalian wereng coklat dan wereng punggung putih diantaranya adalah Regent 50 SC dosis 0,51/ha dan Confidor 5 WP sebanyak 0,5 kg/ha

4. Lembing Batu; Pengendalian hama lembing batu disesuiakan dengan tingkat perkembangan-nya di lapang dan aplikasi insektisida dilakukan atas dasar pengamatan. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah :

  • Lembing batu berkembang cepat pada tanaman padi yang berumur lebih dari 30 hst, sedangkan pada tanaman berumur kurang dari 30 hari tidak berkembang.
  • Pengendalian lembing batu diawali dengan pengamatan terhadap 20 rumpun tanaman arah diagonal, apabila rata-rata per rumpun sudah lebih dari 5 ekor maka perlu segara diaplikasikan insektisida.
  • Insektisida yang dapat digunakan adalah Ethprole 100 EC 0,5 l/ha dan Fastac.

Dalam bercocok tanam padi, Pengendalian Hama Terpadu (PHT) tidak berdiri sendiri sendiri , melainkan sebagai bagian dan upaya memproduksi padi, dalam hal ini benih padi dengan hasil paling tinggi dan keuntungan petani paling besar. Oleh karena itu PHT harus merupakan bagian dari budidaya padi yang baik. (Yulia T S.)

Daftar Pustaka: 

  1. I Ketut Siadi I Gusti Ngurah Raka, 2017, Penataan Sistem Perbenihan Untuk Menunjang Revitalisasi Perbenihan Tanaman Pangan Di Bali, Fakultas Pertanian Universitas Udayana Denpasar Bali
  2. https://media.neliti.com/media/publications/55241-ID-sistem-perbenihan-padi-dan-karakteristik.pdf
  3. Modul Produksi Benih Secara Mandiri, 2021, Program IPDMIP

Sumber: http://cybex.pertanian.go.id/artikel/97815/pengendalian-hama-dalam-memproduksi-benih-secara-mandiri/

Bagikan