Jl. Sultan Hadiwijaya No.08 Demak (0291)685013 dinpertanpangan@demakkab.go.id

BERITADinpertan Pangan

Methuk Rezeki di Tengah Pandemi, Demak Leader Ekspor Kacang Hijau

Sebuah terobosan inovasi pertanian yang diterapkan Pemerintah Kabupaten Demak berupa sistem tanam “Methuk Kacang Hijau” terbukti berhasil meningkatkan produktivitas pertanian dan bahkan mampu menjadi leader ekspor di tingkat nasional.

Terobosan sistem tanam tersebut mulai diaplikasikan di saat ada kekhawatiran sektor pertanian bakal terdampak pandemi Covid-19. Sebagaimana publik ketahui, di awal kemunculan pandemi langsung memberi dampak pada semua lini kehidupan masyarakat hingga terjadi pelambatan laju pertumbuhan ekonomi nasional dan menimbulkan kegelisahan masyarakat.

Kekhawatiran tersebut juga disikapi Pemerintah Kabupaten Demak melalui Dinas Pertanian dan Pangan dengan melakukan pendampingan, mengintensifkan penyuluhan dan mencarikan terobosan inovasi yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian, mengingat pertanian memiliki andil penting dalam menjamin ketahanan pangan nasional  yang harus mendapatkan pengawalan serius.

Kerja keras itu pun berhasil menguatkan sektor pertanian di Kota Wali menjadi sektor yang terbukti tangguh dan mampu bertumbuh di tengah badai pandemi covid-19.

Methuk Kacang Hijau merupakan inovasi dalam budidaya kacang hijau mendukung pola tanam padi-padi-palawija. Methuk (menjemput) adalah sistem tanam kacang hijau yang lebih awal dari kebiasaan tanam pada umumnya yaitu dengan cara melakukan tebar benih di area tanaman padi seminggu sebelum padi dipanen.

Banyak manfaat yang diperoleh dengan sistem ini sehingga metode ini mengantarkan Kabupaten Demak sebagai kabupaten penghasil kacang hijau terbesar di Indonesia.

Pilihan kacang hijau yang menjadi sasaran inovasi didasari pertimbangan tingginya kebutuhan dalam negeri maupun permintaan ekspor. Kebutuhan kacang hijau dalam negeri diperkirakan mencapai 290.000 ton per tahun, adapun produksinya baru sekitar 261.280 ton per tahun.

Peluang ini ditunjang dengan sifat tanaman kacang hijau yang berumur pendek, tahan kekeringan, dapat ditanam pada tanah yang kurang air, mudah dibudidayakan, serta harga jual hasil panennya stabil.

Kacang hijau dapat ditanam setiap musim. Pada saat musim hujan kacang hijau dapat ditanam di lahan atas atau tegalan, sedangkan pada musim kemarau kacang hijau ditanam di lahan sawah. Keberhasilan usahatani kacang hijau dipengaruhi oleh tersedianya benih bermutu dari varietas unggul dan teknologi produksi yang mudah diterapkan oleh petani.

Dalam 100 gram kacang hijau terdapat 23 gram protein. Angka ini tinggi jika dibandingkan dengan protein beras yang hanya 7,6 gram dan jagung yakni 9,8 gram. Selain itu, kacang hijau memiliki kandungan serat tinggi mencapai 16,6 gram per 100 gram. Kandungan protein dan serat sangat dibutuhkan anak mengoptimalkan proses tumbuh kembang. Kacang hijau direkomendasikan sebagai makanan tambahan guna menanggulangi stunting.

Keunggulan lain dari kacang hijau adalah kemudahan pemasaran dan harga jual yang relatif stabil. Di sisi lain permintaan ekspor terbuka lebar, hal ini disebabkan permintaan ekspor belum dapat dicukupi karena kekurangan produksi. Negara tujuan sangat menyukai kacang hijau yang berwarna pucat seperti halnya kacang hijau produksi dari Kabupaten Demak.

Selama ini produktivitas kacang hijau di Kabupaten Demak belum optimal. Di lapangan, produktivitas kacang hijau masih sekitar 1,3 ton/ha padahal potensi produktivitas dapat mencapai 2 ton/ha. Hal ini menjadi peluang dan tantangan guna meningkatkan produktivitas kacang hijau.

Namun ketersediaan air di Kabupaten Demak terbatas di musim kemarau dan menjadi salah satu penghambat rendahnya produktivitas, sehingga perlu dilakukan penanaman lebih awal dari jadwal semula. Melalui penerapan sistem Methuk Kacang Hijau, menjadi jawaban bagi petani di Kabupaten Demak sehingga produksinya pun terus meningkat.

Pada masa sebelumnya, budi daya kacang hijau pada umumnya mulai tanam setelah panen padi MT II (Musim Tanam II) dan dilakukan dengan sistem tugal (ceblok). Sistem tanam ini membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Untuk sawah dengan luas 1 hektare membutuhkan tenaga sebanyak 15 orang. Akibatnya tanam dengan sistem tugal ini membutuhkan biaya yang cukup  besar.

Sistem tanam tugal terkendala dengan terbatasnya air irigasi akibat penutupan sistem Waduk Kedungombo yang dilakukan rutin saat musim kemarau. Anggapan petani apabila tanam kacang hijau terlambat (melebihi bulan Juni) akan muncul hama yang akan menyerang kacang hijau dan dapat mengakibatkan gagal panen. Akibatnya banyak sawah yang dibiarkan bera (tidak digarap), sehingga produktivitas kacang hijau di Kabupaten Demak belum optimal. Realitas demikian menjadi peluang untuk dapat ditingkatkan dengan terobosan yang inovatif.

Guna mempercepat budi daya kacang hijau dilakukan dengan sistem methuk. Sistem methuk yaitu penyebaran benih kacang hijau ke lahan sawah dimana masih ada tanaman padinya (standingcrops). Artinya tanaman padi sebelum dilakukan panen sudah disusuli dengan sebaran benih kacang hijau dipethuk (bahasa Jawa), maka timbullah istilah sistem tanam methuk. Methuk dilakukan 2-7 hari sebelum panen, baik panen padi dilakukan secara manual maupun menggunakan combine harvester. Dengan methuk maka waktu tanam dapat diperpendek (maju sampai 7 hari). Hal ini akan berdampak pada kecukupan air di musim kemarau.

Kebutuhan tenaga tanam untuk luas 1 hektar cukup 1 orang sehingga sangat menghemat tenaga kerja dan biaya tanam. Jerami limbah panen sebelumnya, akan dipotong dan dijadikan mulsa. Hal ini dapat menutupi lahan yang telah disebar benih kacang hijau. Mulsa jerami tersebut dapat menahan penguapan air dari tanah, melindungi biji dari hewan pemakan biji-bijian, mempertahankan kelembaban tanah sehingga benih lebih cepat bertunas serta menghalangi tumbuhnya gulma yang menjadi benalu bagi tanaman kacang hijau.

Keluaran (Output)

Keluaran (output) dari sistem methuk kacang hijau adalah pemanfaatan lahan bera, percepatan waktu tanam, penghematan air, penghematan biaya, peningkatan produksi kacang hijau, dan peningkatan pendapatan petani.

Tabel 1. Perbandingan system tanam Tugal dan Methuk

NOINDIKATORTUGALMETHUK
RpRp
1Biaya Tenaga 4.090.000/HA 2.460.000/HA
2Biaya Sarana Produksi 2.035.000/HA 2.735.000/HA
3Pendapatan Bersih9.475.000/HA10.405.000/HA

Tabel 2. Produksi kacang hijau di Kabupaten Demak Tahun 2019 – 2020

Sumber : Demak Dalam Angka (DDA) Tahun 2020, 2021

Dengan sistem methuk menghantarkan Kabupaten Demak sebagai produsen kacang hijau tertinggi di Indonesia. Tahun 2020 kacang hijau Demak menyumbang 17,12 persen dari total produksi nasional (total produksi Nasional 222.108 Ton sedangkan produksi kacang hijau Demak 35.740 ton).

Sebelum dan Sesudah Inovasi

Sebelum sistem methuk dikembangkan, penanaman kacang hijau di Kabupaten Demak memakai sistem tugal. Sistem ini membutuhkan banyak tenaga kerja (buruh tanam) sehingga berimbas pada besarnya biaya yang dikeluarkan. Sistem tanam tugal yang dilaksanakan seminggu setelah panen berdampak pada keterbatasan air irigasi sebagai akibat penutupan Waduk Kedung Ombo di musim kemarau. Selain itu mundurnya waktu tanam berakibat pada munculnya resiko hama dan menurunnya harga jual saat panen raya.

Berangkat dari banyaknya kekurangan dari sistem tugal, Pemerintah Kabupaten Demak mengembangkan inovasi pola tanam dengan sistem methuk. Sistem ini dapat menghemat tenaga kerja (buruh tanam) dari 15 orang menjadi 1 orang dalam 1 hektar (menghemat biaya sebesar 95,67 persen). Selain itu waktu tanam pada sistem methuk maju lebih cepat 1 minggu sehingga terhindar dari kekeringan dan serangan hama. Hal ini berdampak pada peningkatan produksi kacang hijau. Dengan sistem methuk terjadi penghematan biaya produksi sebesar 60,15 persen dari Rp 4.090.000 menjadi Rp 2.460.000,-

Keberlanjutan

Sistem methuk saat ini telah diterapkan lebih dari 90 persen petani di Kabupaten Demak sehingga produksi kacang hijau melimpah dengan kualitas yang sangat diminati pangsa pasar, baik Domestik maupun Internasional. Kacang hijau merupakan satu-satunya komoditas pertanian di Demak yang berhasil diekspor ke berbagai negara seperti China, Taiwan, Malaysia, Vietnam, Kamboja dan Philipina. Peningkatan produksi diharapkan mampu meningkatkan tonase komoditas ekspor. Hal ini mendukung program Kementerian Pertanian yaitu GRATIEKS (Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor).

Meskipun terjadi pandemi Covid-19 ternyata ekspor kacang hijau meningkat 53,26%. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian melalui inovasi sistem methuk kacang hijau berhasil meningkatkan produksi sehingga menjadi sektor yang tangguh di tengah terpaan pandemi covid-19. Keberhasilan tersebut sekaligus mengantarkan kesuksesan bagi petani Kabupaten Demak. Di tengah pandemi pun mereka menjemput (methuk) rezeki yang penuh berkah. (*)/ Admin

Bagikan

Recent Comments