Jl. Sultan Hadiwijaya No.08 Demak (0291)685013 dinpertanpangan@demakkab.go.id

BERITADinpertan Pangan

SiMevi Dashboard Digitalisasi Satu Data Hortikultura Indonesia

Kementerian Pertanian mencanangkan pertanian Indonesia yang maju, mandiri, dan modern. Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengarahkan pembangunan pertanian yang modern dengan pemanfaatan teknologi digital yang pada masa kini terus berkembang pesat.

Menindaklanjuti hal tersebut, Direktorat Jenderal Hortikultura memiliki program demi terwujudnya pembangunan hortikultura yang berdaya saing, seperti program kampung hortikultura yang mencakup kampung buah, sayur dan tanaman obat; program penumbuhan UMKM dan modernisasi hortikultura melalui pengembangan smart farming, mekanisasi, dan digitalisasi hortikultura.

“Selama ini banyak pelaku usaha yang mengeluh kepada saya, bahwa mereka mengalami kesulitan dalam memasarkan produknya karena volumenya yang tidak menentu. Ini menyulitkan pelaku usaha, yang mana dalam mengumpulkan produk tersebut harus mengeluarkan biaya yang cukup mahal. Dampaknya, daya saing kita jadi cukup rendah. Oleh karena itu, kita desain kampung-kampung hortikultura ini,” terang Prihasto.

Lebih lanjut, dalam penumbuhan UMKM Hortikultura, jika pasar sudah cukup untuk menampung hasil, maka produk akan diolah untuk ditingkatkan nilai tambahnya. Proses pengolahan akan difasilitasi dan pemasarannya akan dibantu, baik di dalam maupun luar negeri. Untuk memantau keberlanjutan fasilitas dan bantuan ini, dibutuhkan modernisasi sistem informasi, seperti SIMevi(Sistem Monitoring dan Evaluasi Agroindustri Hortikultura Indonesia) yang dirancang oleh Sekretaris Jenderal Hortikultura, Retno Sri Hartati Mulyandari.

“SIMevi ini sangat diperlukan karena dari sekian banyaknya bantuan  dari Direktorat Jenderal Hortikultuta yang diberikan kepada masyarakat pada 3-5 tahun yang lalu ini sulit terdeteksi di mana barangnya dan sudah tidak bisa terevaluasi,” ujar Prihasto.

Selain SiMevi, terdapat sistem informasi lain yang dibuat oleh Direktorat Jenderal Hortikultura, yaitu SRIKANDI atau Sistem Informasi dan Registrasi Kampung Sayuran dan The Hopers_dev.

Dengan adanya SRIKANDI ini, diharapkan ke depannya ada pemantauan data petani, berisi nama desa, kecamatan, kabupaten, nama kelompok tani, ketua kelompok tani, anggota kelompok tani berdasarkan nama, serta tempat tinggal.

Sementara itu, The Hopers_dev merupakan sistem informasi pemantauan dampak perubahan iklim. The Hopers akan menginformasikan iklim yang terjadi dan bagaimana mengantisipasi dampak yang ada akibat perubahan tersebut.

Retno menyampaikan bahwa pada komoditas pertanian yang harus dikawal oleh hortikultura yaitu ada 569 komoditas. Sampai saat ini, melalui kerjasama Ditjen Hortikultura dengan Badan Pusat Statistik,  sudah dapat  fokus satu data untuk 87 komoditas.

“Kampung hortikultura menerapkan konsep one village one variety berbasis kebutuhan pasar yang berskala ekonomi dengan   pengembangan korporasi petani dan sinergi lintas stakeholders yang harmonis untuk menghasikan produk yang berdaya saing,” jelas Retno.

Melalui SiMevi yaitu Sistem Monitoring dan Evaluasi Agroindustri Hortikultura Indonesia, dirancang digitalisasi satu data hortikultura yang menjadi pintu utama untuk akses beragam sistem informasi  yang saat ini masih terpencar di masing-masing Direktorat lingkup Ditjen Hortikultura.  SiMevi juga menyediakan Si Banpem Horti yang melalui aplikasi ini dapat dilihat di mana saja, berapa, jenis, dan penerima bantuan untuk pengembangan hortikuktura. Selanjutnya secara interaktif dapat dilakukan monitoring dan evaluasi secara mandiri sehingga daoat dilakukan pengawalan, identifikasi permasalahan  dan penelusuran  pelaksanaan maupun tingkat kebermanfaatannya bagi masyarakat.  Data SiMevi diharapkan nantinya menjadi substansi Horticulture War Room (HWR( yang terkoneksi dengan Agriculture War Room (AWR). Data yang telah terinput akan diolah dalam berbagai tipe informasi publik antara lain dalam bentuk infografis dan data terkoneksi secara digital ke seluruh perangkat pengguna.

Selanjutnya untuk SRIKANDI, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Tommy Nugraha menyampaikan bahwa aplikasi SRIKANDI yang dirancangnya ini diharapkan bisa memudahkan dalam hal monitoring dan evaluasi, juga informatif dan interaktif.

“Data atau informasi yang tercantum berupa profil unit kampung, data CP/CL kampung dan dokumentasi kegiatan. Sedangkan dalam upaya meningkatkan daya saing dan kesejahteraan petani, SRIKANDI mendukung adanya registrasi kampung STO, informasi sebaran kampung STO per komoditas, data polygon per petak lahan/petani, moitoring bantuan APBN, monitoring tanam dan panen, serta penilaian kampung berdaya saing,” papar Tommy.

Kemudian untuk sistem informasi The Hopers_dev atau Early Warning Sistem Perlindungan Hortikultura, Koordinator Kelompok Dampak Perubahan Iklim, Muhammad Agung Sunusi menyampaikan bahwa sangat penting untuk melihat data yang ada dan menjadi bahan informasi untuk mengambil suatu tindakan atau kebijakan dalam mitigasi dan identifikasi dalam dampak  iklim.

“Ada dua jenis komoditas yang sangat populer di hortikultura, yaitu bawang merah dan cabai. Komoditas ini lah kami mencoba data-data yang diperoleh minimal akan bisa menginfokan kekeringan dan kebanjiran yang menjadi fokus di kampung-kampung hortikultura,” ujar Agung.

Tiyo Sulistyo selaku coach aplikasi SIMEVI menyatakan bahwa aplikasi-aplikasi ini akan menjadi harmonisasi dan dibuat untuk memberi kemudahan dan kelancaran dari tugas pokok dari Direktorat Jenderal Hortikultura.

“Dengan adanya aplikasi ini menjadikan semua data bisa terdokumentasi dengan jelas,” ujar Tito.

Sementara itu, Brisma Renaldi selaku coach pada aplikasi SRIKANDI mengungapkan harapannya dengan aplikasi ini dapat menguatkan program kampung hortikultura yang sudah baik.

“Harapannya dengan SRIKANDI ini kita dapat melihat kampung sayuran dan tanaman obat itu menjadi tangguh, sesuai dengan namanya. Saya sangat setuju dengan Pak Dirjen, bahwa ini harus berkesinambungan dan berkelanjutan untuk kepentingan bangsa dan negara yang kita cintai ini,” tutur Brisma.

Sejalan dengan Tito, dan Brisma, Suharyoto selaku coach The Hopers turut menyampaikan masukannya agar seluruh aplikasi ini dapat menjadi komitmen jangka panjang dan memberikan manfaat yang terasa bagi pertanian Indonesia.

“Apa yang kita susun merupakan bentuk digitalisasi, tools yang disusun harus jelas untuk apa, dan untuk siapa. Oleh karena itu, jangan sampai tools yang dibuat ini tidak memiliki nilai manfaat,” ujar Suharyoto.

Sumber: https://hortikultura.pertanian.go.id/

Bagikan