PRODUKTIVITAS DAN EMISI GAS RUMAH KACA PADI TADAH HUJAN
April 25, 2022
Sawah tadah hujan juga mempunyai andil dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional setelah sawah irigasi. Sebagai lahan sub-optimal, berbagai kendala yang berpengaruh terhadap rendahnya produksi, antara lain kesuburan tanah rendah, curah hujan tidak menentu, cekaman kekeringan, penggunaan varietas lokal, dan pertumbuhan gulma yang pesat. Guna memacu produksi beras dari lahan tadah hujan dengan berbgai permasalahan tersebut, dapat dilakukan penggunaan varietas padi unggul tipe baru untuk menggantikan varietas lokal yang rentan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), antara lain varietas unggul baru yang telah banyak dirilis pemerintah.
Pada sektor pertanian dalam kaitannya dengan gas rumah kaca, budidaya padi sawah dipandang sebagai salah satu sumber utama emisi gas rumah kaca. Gas metana (CH4) merupakan salah satu gas rumah kaca (GRK) utama yang dilepaskan dari lahan pertanaman padi sawah. Besarnya emisi metana yang dilepaskan dalam budidaya padi sawah tergantung pada beberapa hal seperti: jenis tanah, kondisi kelengasan tanah, suhu tanah, dan faktor pengelolaan tanaman termasuk varietas yang digunakan. Pada sistem sawah tadah hujan, kondisi tanah aerob (kering) – anaerob (tergenang) terjadi silih berganti sehingga berpengaruh terhadap dinamika gas karbondioksida (CO2) dan metana (CH4) dari tanah.
Lebih dari 80% metana dilepaskan dari tanah ke atmosfer melalui tanaman padi yang bertindak sebagai cerobong (chimney). Oksigen dipasok dari atmosfer ke perakaran tanaman padi melalui jaringan aerenkhima. Jaringan aerenkhima tanaman padi berfungsi sebagai media respirasi dan pertukaran gas di dalam tanah seperti difusi metana dari tanah tereduksi. Dalam rangka memperbaiki kesuburan tanah terutama kesuburan fisik, kimia, dan biologi tanah, salah satu pembenah tanah organik yang sering digunakan adalah kotoran ternak, maupun bahan-bahan organik lain. Pemberian kotoran ternak atau bahan-bahan organik lain ke tanah diduga meningkatkan emisi GRK, yang besarnya bergantung pada karakteristik tanah, ketersediaan air dan O2. Gas metana terbentuk dari dekomposisi bahan organik secara anaerobik pada rizosfer tanaman padi dengan kehadiran mikroba metanogen seperti bakteri Methanosarcina dan Methanobacterium.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas padi unggul Ciherang, Dendang, Inpari 30 dan Inpari 24 yang ditanam di lahan tadah hujan pada musim penghujan secara berturut-turut adalah 5,92; 7,10; 5,06 dan 7,41 t/ha. Emisi metana secara signifikan dihasilkan oleh keempat varietas tersebut secara berturut-turut adalah 232; 319; 300 dan 405 kg/ha/musim. Ada dugaan selama ini bahwa semakin tinggi produktivitas padi, akan semakin tinggi gas metana yang dihasilkan, demikian sebaliknya, semakin rendah produktivitas padi akan semakin rendah gas metana yang dihasilkan. Dari hasil pengkajian ini ternyata tidak selalu produktivitas padi yang tinggi akan menghasilkan gas metana yang tinggi pula.
Sumber: http://cybex.pertanian.go.id/artikel/100820/produktivitas-dan-emisi-gas-rumah-kaca-padi-tadah-hujan/
Recent Comments