Jl. Sultan Hadiwijaya No.08 Demak (0291)685013 dinpertanpangan@demakkab.go.id

ARTIKELKementerian PertanianTanaman Pangan dan Hortikultura

TEKNIK BUDIDAYA KEDELAI DI LAHAN PASANG SURUT DENGAN PENDEKATAN PTT

Sumber Gambar : www. google.com

Lahan pasang surut adalah salah satu sumber pertumbuhan yang potensial untuk pengembangan tanaman kedelai. Namun demikian, lahan pasang surut umumnya kurang subur, terlalu masam, kekurangan hara, atau keracunan unsur-unsur tertentu sehingga diperlukan teknologi budidaya yang sesuai, agar kedelai dapat tumbuh dengan baik dan berproduksi tinggi. Perbedaan utama antara teknik budidaya yang dilakukan petani dengan yang disusun berdasarkan PTT adalah kerapatan saluran drainase, penggunaan varietas, ameliorasi lahan, dan pemupukan.

Teknik budidaya yang disusun berdasarkan pendekatan PTT adalah sebagai berikut:

Penyiapan Lahan

  1. Tanpa pengolahan tanah.
  2. Setelah panen padi, jerami dibabat kemudian dihamparkan dan dibiarkan selama 3 hari agar kering, kemudian dibakar.
  3. Dua minggu setelah jerami dibakar, lahan disemprot dengan herbisida.
  4. Saluran drainase setiap 3-4 m. Saluran drainase tersebut dibuat secara selektif, yaitu dengan memperhatikan kondisi lahan yang pembuangan airnya sulit.

 Penanaman

  1. Benih varietas Anjasmoro.
  2. Benih diperlakukan dengan insektisida berbahan aktif fipronil (Reagent) untuk mencegah serangan lalat kacang.
  3. Cara tanam tugal dengan jarak tanam 40 cm x 15 cm, 2 biji/lubang atau populasi tanaman 330.000 tanaman/ha.

Perbaikan Lahan (Ameliorasi Lahan)

  1. Ameliorasi lahan dengan pupuk kandang dosis 1 t/ha dan dolomit dosis 300-750 kg/ha. Sebelum diaplikasikan, pupuk kandang dicampur rata dengan dolomit. Dosis dolomit 750 kg/ha setara dengan 1/5 x Al-dd. Rata-rata Al-dd adalah 2 me/100 g.
  2. Aplikasi dilakukan setelah tanam dengan cara disebar sepanjang barisan tanaman, sekaligus untuk menutup lubang tanam.

Pemupukan

  1. Dosis pupuk 50 kg urea/ha + 100 kg SP36/ha atau 200 kg SP18/ha/ha + 50 kg KCl/ha. Jika tidak tersedia pupuk-pupuk tersebut maka dapat digantikan dengan 150 kg/ha Phonska + 50 kg SP36/ha atau 100 kg SP18/ha. Pupuk-pupuk tersebut dicampur rata dan diaplikasikan saat tanaman berumur 15 hari atau setelah penyiangan dengan cara dilarik/disebar di samping barisan tanaman dengan jarak 5-7 cm dari tanaman.
  2. Setelah pupuk diaplikasikan, diupayakan pupuk dapat ditutup dengan tanah.

Penyiangan

  1. Penyiangan dilakukan dua kali.
  2. Penyiangan I dengan herbisida saat tanaman berumur 20 hari. Penyiangan ke II (jika diperlukan) dengan tenaga manusia saat tanaman berumur 40-45 hari.

Pengendalian Hama dan Penyakit

  1. Pada saat tanaman berumur 7 hari (kira-kira setelah benih tumbuh membentuk sepasang daun pertama) disemprot dengan insektisida berbahan aktif fipronil (Reagent) untuk mencegah serangan lalat kacang.
  2. Pengendalian hama dan penyakit selanjutnya dilakukan sesuai kondisi hama dan penyakit yang menyerang. Dosis pestisida sesuai anjuran yang tertera dalam label pestisida.
  3. Setiap penyemrotan dicampur dengan bahan perekat.

Panen

  1. Panen dilakukan jika polong sudah masak fisiologis, ditandai oleh kulit polong berwarna kuning hingga coklat, daun menguning dan rontok.
  2. Cara panen sesuai kebiasaan petani. Dijemur secukupnya kemudian di threser (dibijikan).
  3. Biji kemudian dijemur hingga kering (kadar air biji 12% atau kurang) dan kemudian dibersihkan.

Sumber: http://cybex.pertanian.go.id/artikel/95779/teknik-budidaya-kedelai-di-lahan-pasang-surut-dengan-pendekatan-ptt/

Bagikan

Recent Comments