Jl. Sultan Hadiwijaya No.08 Demak (0291)685013 dinpertanpangan@demakkab.go.id

ARTIKELDinpertan PanganKementerian Pertanian

PENGELOLAAN SDM PERTANIAN UNTUK MENUNJANG KEDAULATAN PANGAN

Pembinaan sumberdaya manusia pada sektor pertanian saat ini merupakan konsekuensi dari semakin disadarinya ketertinggalan Indonesia dalam hal mutu sumberdaya manusia (SDM). Tuntutan pembinaan mutu SDM tersebut merupakan langkah antisipatif dalam menghadapi persaingan global, di mana dalam kondisi tersebut akan mendorong semakin tingginya mobilitas tenaga kerja sektor pertanian antar negara. Peter Thigpen (1991) dalam Peffer (1996) pembinaan mutu SDM di era otonomi daerah, di mana pemerintah otonomi daerah mempunyai proporsi yang besar dalam mewujudkan bagus atau tidaknya SDM pada sektor agribisnis.

Pembinaan tersebut dapat dilakukan dengan; a) Pembinaan unsur kognitif yang meliputi pengetahuan dasar tentang agribisnis, teknologi agribisnis, dan manajerial dibidang agribisnis serta bidang pendukungnya seperti keuangan, pemasaran operasi produksi dan lain-lain. Pembinaan unsur kognitif ini mencakup upaya-upaya peningkatan pengetahuan, melatih daya pikir, kemampuan analisis, mempertajam intelegensi dan kecerdasan serta peningkatan pengetahuan manejerial dan wawasan teknologi bidang agribisnis; b) Pembinaan unsur psikomotorik mencakup upayaupaya untuk membina dan meningkatkan keahlian dan keterampilan spesifik dari penjabaran bidangbidang kognitif seperti keterampilan bidang manejerial, keterampilan bidang produksi, keterampilan bidang tekhnologi; c) Pembinaan unsur afeksi, yakni sikap mental, moral, dan etika.

Sesungguhnya pembinaan unsur ini akan sangat berpengaruh terhadap kinerja SDM agribisnis. Sikap mental, moral dan etika tersebut mampu mendorong terciptanya suasana kerja yang harmonis, ketenagan kerja serta memberikan dukungan moral terhadap peningkatan produktivitas organisasi Pembinaan unsur intuisi, merupakan kombinasi antara unsur kognisi, psikomotor, serta afeksi yang dimilikinya. Intuisi merupakan suatu kemampuan mutu SDM yang bersumber dari keyakinan diri dan dapat mempengaruhi tindakantindakan manusia terutama tindakan arif dan bijak dalam melihat peluang dan kesempatan bisnis. Dengan rendahnya kualitas pelaku utama pembangunan pertanian yang ditunjukkan dengan rendahnya tingkat pendidikan, diperlukan upaya peningkatan kualitas pendidikan melalui penyuluhan dan pelatihan, pendidikan formal bagi putra/putri petani.

Petani sebagai salah satu pelaku utama pembangunan pertanian memerlukan kemampuan yang memadai tentang pengetahuan, sikap maupun ketrampilan untuk mengantisipasi berbagai perubahan strategis baik ditingkat lapang, nasional, maupun internasional. Petani memerlukan penyesuaian substansi materi penyuluhan untuk mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan, global warning, persaingan globalisasi (perdagangan bebas) atau perubahan lingkungan, baik lingkungan alam, social maupun budaya. Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh petani dan pelaku usaha diindikasikan dengan: (1) adanya kelembagaan tani (poktan/gapoktan)yang mandiri, kuat dan berbadan hukum (koperasi, LKM); (2) jumlah petani dan pelaku usaha yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi;(3) jumlah petani dan pelaku usaha yang memanfaatkan data dan informasi dan (4) jumlah petani yang bergabung dalam jejaring kerja dan kerjasama atau kemitraan usaha.

Kondisi dimana pelaku utama pembangunan pertanian telah berusia lanjut, perlu adanya kaderisasi dan menumbuhkan minat generasi muda untuk bekerja di sektor pertanian dan sekaligus mencegah second lost generation. Menumbuhkan minat generasi muda untuk bekerja di sektor pertanian dapat dilakukan dengan mengembangkan dan memperkenalkan teknologi yang dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat tani baik laki-laki maupun perempuan, khususnya golongan muda dalam melakukan produksi di tingkat on-farm dan off-farm.

Oleh karena itu lembaga penelitian dan pengembangan harus dapat menghasilkan teknologi yang dapat menarik minat kaum muda, seperti mekanisasi pertanian, dan teknologi pengolahan hasil pertanian. Baik lembaga penelitian maupun lembaga penyuluhan harus selalu dapat berkoordinasi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat pertanian mengingat lembaga penelitian dan lembaga penyuluhan di Indonesia tidak berada dalam satu atap. Untuk menarik lebih banyak generasi muda berkecimpung di bidang pertanian, perlu dibuka akses yang lebih besar pada pemuda, terutama yang telah menyelesaikan pendidikan setingkat SLTA serta PT untuk membuka usaha berbasis pertanian. Disamping hal itu juga dengan menembangkan berbagai program pelatihan kewirausahaan sektor pertanian.

Mengingat ciri dari agribisnis ialah adanya produktivitas dan efisiensi yang tinggi, maka usaha tani yang layak diterapkan menggunakan pola sehamparan. Beberapa petani bergabung membentuk kelompok tani, menyatukan lahannya untuk mengusahakan komoditi tertentu yang telah diketahui memiliki propek pasar yang cerah. Dengan demikian petani harus siap baik secara fisik atau mental. Untuk itu diperlukan bimbingan dan penyuluhan yang intensif agar kesiapan pelaku utama pertanian (petani) baik dari unsur kognitif, psikomotorik, afeksi dan intuisi, diharapkan mampu menggerakan sektor pertanian yang berimplikasi pada terwujudnya kedaulatan pangan.

Sumber: http://cybex.pertanian.go.id/artikel/87179/pengelolaan-sdm-pertanian-untuk-menunjang–kedaulatan-pangan/

Bagikan