Jl. Sultan Hadiwijaya No.08 Demak (0291)685013 dinpertanpangan@demakkab.go.id

Uncategorized

Akademisi : Keberlanjutan Pangan dan Bioindustri Singkong Perlu Strategi

Pangan Lokal seperti singkong diakui kalangan akademisi, Prof Achmad Subagio membutuhkan strategi khusus agar berkelanjutan di masyarakat. Terutama di masa milenials yang dengan mudah memperoleh makanan dari luar Indonesia. 

“Sumberdaya genetik umbi-umbian di Indonesia memang sangat banyak sebenarnya, hanya sumberdaya manusia (SDM) baik petani, pengolah bahkan konsumennya harus terus diberikan awareness, seperti sosialisasi sekarang ini,” ungkap  Guru Besar Universitas Jember, Prof Achmad Subagio kepada tabloidsinartani.com ketika berdiskusi jelang Webinar “Makan Singkong Bikin Sehat” yang digelar TABLOID SINAR TANI bersama Badan Ketahanan Pangan, Kamis (12/08).

Diakuinya, mengubah perilaku orang Indonesia untuk makan selain nasi memang menjadi tantangan tersendiri, padahal untuk memenuhi kecukupan pangan harian, makan bisa beragam dan tak hanya nasi. “Asal tercukupi karbohidrat, protein tercukupi. Kita selama ini hanya terpatok pada nasi,” tambahnya.

Diakui Prof Subagio, masyarakat cenderung mengonsumsi nasi, bukan hanya faktor harga, tetapi telah ada kesan nasi lebih enak dan gaya hidup.  “Jadi ini persoalan persepsi. Kita perlu mengubah persepsi secara nasional terhadap pangan kita. Kalau tidak dilakukan sacara struktur dan sistematik, kita sulit. Ini yang melakukan harus pemerintah,” katanya.

Di sisi lain, food waste Indonesia termasuk tertinggi di dunia. Tak hanya food untuk langsung di konsumsi, tetapi juga bahan pangan yang bisa digunakan industri lanjutan. Contohnya saja labu yang terbuang sampai 2 ribu ton per tahun. Padahal, jika diolah labu termasuk barang mewah untuk industri. Tingkat paling sederhananya dengan fermentasi dengan asam laktat. 

Karena itu, Professor yang telah bergelut dengan singkong selama 12 tahun ini menyarankan, preferensi masyarakat tentang pangan harus diperbaiki. “Saran saya, kurikulum tentang pangan harus mulai dibangun mulai TK dan SD. Dimulai dari jenis pangan yang beragam, yang ada di sekitar,” tuturnya.

Singkong menurut Subagio ada dalam lini kehidupan masyarakat Indonesia. Sayangnya bangsa Indonesia tidak sadar hal itu. Dengan produksi singkong mencapai 20 juta ton/tahun, kebutuhan untuk pangan hingga kini masih sangat sedikit. Paling besar untuk pakan, agrokimia dan kelompok lain seperti MSG dan makanan olahan. “Persoalan sekarang adalah bagaimana kita mengedukasi masyarakat. Selama ini kita ngga concern ke arah tersebut,” tegasnya.

Untuk mendorong nilai, Prof Subagio merasa perlu lebih dikembangkan penyediaan pangan berbahan baku ubi kayu melalui pemberdayaan UMKM pangan lokal. Khususnya, meningkatkan ketersediaan ubi kayu dan olahannya sebagai substitusi pangan pokok. “Kita perlu mereposisi pangan singkong menjadi pangan yang prestise,” katanya.

Tak hanya itu, supply chain dari pangan lokal khususnya singkong juga diperbaiki, agar di hulu (petani) memiliki kepastian harga dan saluran distribusi dengan industri olahan mulai dari UMKM hingga industri makanan minuman. “Selama ini, harga tepung mocaf selalu tinggi karena supply chain yang bermasalah, terutama di hulu. Menguasai hulu ini bisa dengan berbagai cara, bisa dengan plasma inti, contract farming dan sebagainya,” tuturnya.

Strategi lainnya adalah dengan mengembangan industri bernilai tambah tinggi, berbasis singkong dan produk antaranya. “Langkah ini memerlukan kerjasama dan komitmen stakeholder besar dan pemerintah pusat untuk sama-sama menwujudkannya,” pesan Prof. Subagio.

Sumber: https://tabloidsinartani.com/detail//indeks/pangan/17804-Akademisi-Keberlanjutan-Pangan-dan-Bioindustri-Singkong-Perlu-Strategi

Bagikan