Jl. Sultan Hadiwijaya No.08 Demak (0291)685013 dinpertanpangan@demakkab.go.id

BERITADinpertan Pangan

Singkong, Bukan Pangan Inferior

“Aku suka singkong, engkau suka keju… Aku ini hanya anak singkong.” Bait lagu berjudul Singkong dan Keju yang dinyanyikan Arie Wibowo (alm) tersebut begitu tenar di era tahun 1980-an.

Namun ada kesan berbeda dalam menggambarkan singkong dan keju di masyarakat Indonesia. Selama ini singkong dianggap sebagai makanan inperior di kalangan masyarakat. Mirisnya, masyarakat yang mengonsumsi singkong dianggap sebagai kaum miskin. Padahal jika melihat potensi singkong sebagai sumber karbohidrat subsitusi nasi sangat besar.

“Singkong memiliki keungulan dibandingkan beras,” kata Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Panga, Badan Ketahan Pangan,  Kementerian Pertanian, Yasid Taufik saat Webinar  Makan Singkong bikin Sehat yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Kamis (12/8).

Sayangnya selama ini menurut Yasid, konsumsi singkong masih sebatas camilan dan makanan selingan. Karena itu, program diversifikasi pangan sangat penting untuk menunjang pangan yang B2SA (Bergizi, Berimbang, Sehat dan Aman). “Perlu edukasi, sosialisasi dan kampanye mengubah dari nasi menjadi singkong,” ujarnya.

Pemerintah kata Yasid, menargetkan  peningkatan konsumsi singkong tahun 2021 sebanyak 12,4 kg/kap/tahun dan tahun 2022 menjadi 14,3 kg/kap/tahun. Sedangkan realisasi tahun 2020 baru sebesar 8,59 kg/kap/tahun. Di sisi lain, konsumsi beras penduduk Indonesia tahun 2024 turun menjadi 23,8 juta ton atau berkurang 1,2 juta ton dibanding tahun 2020.

“Kita ingin meningkat singkong sebagai substitusi nasi dari beras hingga tiga kali lipat. Perlu inovasi olahan pangan pokok yang praktis, rasa diterima, menyehatkan, kekinian, ada nilai sosial,” ujarnya.

Dari sisi kandungan gizi Yasid yakin singkong bisa menjadi mensubstitusi nasi. Sebab, singkong memiliki banyak manfaat fungsional. Kandungan indeks glikemik singkong jauh lebih rendah dibandingkan kentang dan nasi. Singkong juga kaya serat.

Kesalahan edukasi

Sementara itu Guru Besar Universitas Jember, Achmad Subagio menilai, selama ini ada kesalahan dalam edukasi pangan terhadap masyarakat Indonesia, sehingga masyarakat cenderung mengonsumsi nasi. Bukan hanya faktor harga, tadi telah ada kesan nasi lebih enak dan gaya hidup.

“Jadi ini persoalan persepsi. Kita perlu mengubah persepsi secara nasional terhadap pangan kita. Kalau tidak dilakukan sacara struktur dan sistematik, kita sulit. Ini yang melakukan harus pemerintah,” katanya.

Subagio yang dikenal sebagai profosser singkong ini juga melihat banyak kelebihan dari singkong. Karena gluten free, sehingga singkong baik untuk pangan masyarakat yang autis dan anti alergi. Singkong juga kaya serat yang baik untuk konsumsi masyarakat yang berpenyakit gula.

Pemanfaatan singkong sebagai bahan baku industri juga cukup banyak. Misalnya, untuk industri kertas dan plywood sebagai bahan perekat. Singkong juga banyak digunakan industri tekstil dan bahan pemanis pengganti gula. “Selama ini kita terlenakan. Kita tidak konsetrasi mengembangkan industri berbahan baku singkong, sehingga industri banyak mengimpor singkong (tepung),” tuturnya.

Singkong menurut Subagio ada dalam lini kehidupan masyarakat Indonesia. Sayangnya bangsa Indonesia tidak sadar hal itu. Dengan produksi singkong mencapai 20 juta ton/tahun, kebutuhan untuk pangan hingga kini masih sangat sedikit. Paling besar untuk pakan, agrokimia dan kelompok lain seperti MSG dan makanan olahan. “Persoalan sekarang adalah bagaimana kita mengedukasi masyarakat. Selama ini kita ngga concern ke arah tersebut,” tegasnya.

Karena itu untuk mendorong nilai  perlu lebih dikembangkan penyediaan pangan berbahan baku ubi kayu melalui pemberdayaan UMKM pangan lokal. Khususnya, meningkatkan ketersediaan ubi kayu dan olahannya sebagai substitusi pangan pokok. “Kita perlu mereposisi pangan singkong menjadi pangan yang prestise,” katanya.

Kini di tengah tekanan konsumsi beras yang cukup tinggi, beberapa UMKM mulai menggeliat membangun produk pangan berbahan baku singkong. Sebut saja Hardadi, pelaku usaha Singkong Keju D-9 dari Salatiga. Sementara kalangan milenial pun tak ketinggalan menekuni dunia singkong yakni Riza Azyumarridha Azra dengan brand Rumah Mocaf.

Sumber: https://tabloidsinartani.com/detail//indeks/pangan/17803-Singkong-Bukan-Pangan-Inferior

Bagikan