Jl. Sultan Hadiwijaya No.08 Demak (0291)685013 dinpertanpangan@demakkab.go.id

ARTIKELDinpertan Pangan

Budidaya Padi Organik

Sumber Gambar : Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian tahun 2020

Upaya  mewujudkan kedaulatan pangan merupakan komitmen pemerintah yang  tiada henti dilakukan melalui peningkatan produksi padi. Strategi peningkatan produksi nasional saat ini  dan  kedepan ditempuh melalui peningkatan produktivitas (intensifikasi) dan perluasan areal tanam, baik melalui peningkatan Indek Pertanaman (IP) maupun perluasan  lahan  baku  sawah.

Upaya tersebut optimis dapat direalisasikan karena tersedianya berbagai inovasi dan teknologi hasil penelitian, terutama yang dihasilkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), meskipun teknologi tersebut baru  sebagian yang  diterapkan oleh petani.

Varietas

  • Varietas unggul baru atau varietas lokal, adaptif lingkungan spesifik, tahan Organisme Penganggu Tanaman (OPT) utama yang terdapat di lokasi, sesuai anjuran atau varietas yang  mempunyai nilai ekonomis tinggi seperti Sintanur, Inpari 23 Bantul, beras berpigmen seperti Inpari 24 Gabusan, Jeliteng, Pamelen dan Pamera, Baroma (basmati  beraroma) dsb.
  • Umur panen sesuai dengan pola tanam atau ketersediaan air
  • Disarankan dilakukan  pergiliran 

Benih

  • Benih bermutu/bersertifikat.
  • Benih memiliki berat jenis tinggi, mempunyai mutu fisiologis (daya berkecambah dan  vigor) tinggi, mampu  memberikan pertumbuhan cepat dan 
  • Benih murni, bernas, bersih, dan 
  • Dormansi benih telah terlewati.

Cara  pengelolaan  benih:

  • Rendam benih selama 12 jam
  • Tiriskan benih selama 12 jam – mematahkan dormansi benih, namun menghindari tumbuhnya calon  akar
  • Pupuk hayati – seed treatment Agri-Rice

Pesemaian

  • Lahan untuk pesemaian aman dari gangguan binatang, mudah diairi dan tidak  dekat  lampu untuk  menghindari  serangan hama.
  • Media tumbuh pesemaian berupa campuran tanah dengan kompos jerami atau  pupuk  kandang dan  abu  dengan perbandingan tanah : kompos : abu  7 : 2 : 1. Kebutuhan benih 40 kg per ha.
  • Pesemaian Padi organik dilakukan dengan cara kering (tidak digenang) dan  dilakukan penyiraman setiap hari. Pesemaian bisa dilakukan di lahan sawah, lahan kering atau  pekarangan dengan dilapisi  plastik  atau  menggunakan nampan
  • Saat benih berkecambah, ditambahkan 
  • Pesemaian dipantau setiap 2-3 hari sekali untuk memonitor hama wereng, penggerek batang atau hama lain.
  • Apabila terpantau hama di persemaian, dikendalikan menggunakan insektisida nabati-hayati.
  • Bibit dalam pesemaian siap ditanam dengan menggunakan bibit muda (umur  15-18 hari setelah sebar)

Penyiapan Lahan

  • Pupuk kompos  atau   pupuk  kandang sebanyak  5-10  ton/ha ditaburkan  merata sebelum  bajak  singkal atau  garu
  • Pengolahan tanah dilakukan dengan olah tanah minimum atau juga bisa menggunakan olah  tanah kering
  • Pengolahan tanah ditujukan agar tanah melumpur dengan baik, kedalaman lumpur minimal 20 cm, tanah bebas gulma, pengairan lancar, struktur tanah baik, dan ketersediaan hara  bagi tanaman meningkat

Penyulaman

  • Penyulaman tanaman dilakukan bila ada tanaman mati. Bibit yang digunakan untuk menyulam adalah bibit yang diambil dari sisa bibit pesemaian yang ditanam di pinggir 
  • Penyulaman dilakukan sedini mungkin agar pertumbuhan tanaman seragam.

Pengairan

  • Pintu masuk air atau inlet dibuat pada pematang bagian depan dekat saluran tersier dan  pada ujung petakan sawah dibuat “celah pintu”  atau  outlet  pembuangan kelebihan 
  • Tinggi celah pintu pembuangan 5 cm dari permukaan tanah/lumpur, dapat bervariasi tergantung fase  pertumbuhan tanaman padi.
  • Sepuluh hari pertama setelah tanam, dilakukan penggenangan sedalam 2-5 cm,  selanjutnya dibuat macak- macak, seterusnya secara intermitten,  yaitu  kondisi  basah-kering  dengan interval  7-10 hari selama fase vegetatif.
  • Selanjutnya pada fase generatif, lahan digenangi lagi hingga ketinggian 2-5 cm di atas permukaan.
  • Lahan dikeringkan  pada 10-14  hari  sebelum  panen

Penyiangan

  • Penyiangan dilakukan  sebanyak empat kali  dengan selang  waktu 10    Setiap selesai penyiangan  dilakukan  penyemprotan suplement Pupuk  Organik Cair (POC) atau  Mikro Organisme Lokal (MOL).
  • Penyiangan gulma secara manual dan mekanis menggunakan landak/gasrok atau “hand rotary”. Penyiangan dilakukan pada kondisi air macak-macak.

Pemupukan

  • Pupuk kompos atau  bahan organik yang  sudah lapuk diberikan pada saat  pengolahan  tanah atau  menjelang 
  • MOL yang terbuat dari bahan-bahan alami disemprotkan secara periodik 10 hari sekali dimulai dari 10 HST dengan konsentrasi 1-2 l MOL/14  l  MOL ditujukan sebagai tambahan nutrisi bagi tumbuhan. MOL dapat dibuat antara lain dari bahan limbah sayur-sayuran, buah-buahan, keong  mas, buah maja, bonggol pisang, nasi, dan rebung bambu. Sebagai bahan campurannya ditambahkan air bekas cucian beras, gula/molase/air kelapa dan urin sapi/kelinci  yang  difermentasi selama 10-15  hari.
  • Atau juga bisa dengan memberian atau  penggunaan Azolla, Sesbaria dan  Blue Green Algae sebanyak 2 t/ha
  • Sebagai sumber N, Sesbania rostrata dan azolla bisa tumbuh dalam kondisi tergenang. Sesbania berumur 30-40 hari, Azolla dibenamkan ke dalam  tanah secara berkala

Pengendalian Hama dan Penyakit

  • Tindakan pencegahan terhadap hama dan penyakit dilakukan melalui pendayagunaan fungsi musuh alami  dan  pemantauan berkala.
  • Pengendalian hama dimulai saat pengolahan tanah, pesemaian, hingga fase generatif tanaman, berdasarkan pada hasil pemantauan menggunakan pestisida nabati-hayati.
  • Hama dan  penyakit dikendalikan dengan menggunakan varietas tahan serta menanam secara serentak.

Panen dan Pasca Panen

  • Panen dilakukan saat tanaman matang fisiologis: 90-95% bulir gabah telah menguning  dan  kadar  air  gabah 22-27%.
  • Panen dengan sabit dirontok dengan Threser, atau combine harvester.
  • Perontokan dilakukan sesegera  mungkin  setelah 
  • Gabah kering panen dibersihkan  sebelum 
  • Gabah dikeringkan sesegera  mungkin  setelah 
  • Pengeringan dengan penjemuran  atau  mesin 
  • Pengamatan kadar air  dilakukan  selama 
  • Pengeringan dilakukan hingga kadar air kurang  atau  sama dengan 14%.
  • Gabah kering giling diistirahatkan selama satu malam sebelum digiling atau dikemas dalam karung 

Peningkatan produksi padi di Indonesia akan terus dilakukan sejalan dengan laju peningkatan penduduk dan alih fungsi lahan serta sejumlah tantangan lainnya melalui optimalisasi dan pengembangan budidaya pada berbagai agroekosistem. Pengelolaan agroekosistem yang beragam melalui pemanfaatan inovasi dan teknologi spesifik lokasi menjadi  kunci utama keberhasilan.

Upaya optimalisasi dan pengembangan padi pada berbagai agroekosistem yang  mengacu pada rekomendasi spesifik lokasi ini diharapkan dapat mencapai target peningkatan produksi padi setiap tahunnya serta berimplikasi terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan  petani.

Sumber: http://cybex.pertanian.go.id/artikel/98730/budidaya-padi-organik/

Bagikan

Recent Comments