Jl. Sultan Hadiwijaya No.08 Demak (0291)685013 dinpertanpangan@demakkab.go.id

ARTIKELDinpertan Pangan

Tyto Alba

Tikus sawah (Rattus argentifenter) merupakan hama utama tanaman padi yang mengakibatkan kerusakan mulai pesemaian, masa pertumbuhan hingga ke fase generatif   bahkan sampai pada saat penyimpanan pun tidak luput dari gangguan tikus sehingga menyebabkan kerugian ekonomis yang sangat  berarti.

Berbagai upaya pengendalian yang telah dilakukan oleh para petani khususnya di Kelompoktani Sukasari Desa Keboncau Kecamatan Ujungjaya Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat. Upaya yang telah dilakukan antara lain : pengumpanan, fumigasi, bahkan sampai  menggunakan strum listrik yang membahayakan. Namun berbagai upaya tersebut hasilnya masih kurang berhasil dengan baik sehingga populasi tikus sulit diatasinya bahkan di beberapa kelompoktani lainnya enggan dalam pelaksanaan  gerakan  pengendalian  dikarenakan sudah putus asa.

Burung hantu di Jawa Barat disebut “Manuk Koreak” merupakan salah satu jenis burung  yang hidupnya aktif pada malam  hari dengan ciri-ciri sebagai berikut :

  • Pada bagian lingkaran wajah tersusun bulu muka berwarna putih berbentuk love (Jantung hati) secara sepintas wajahnya menyerupai wajah monyet,
  • Postur tubuh yang ringan berbulu tebal dengan rentangan sayapnya untuk burung dewasa mencapai 80 c
  • Bentuk paruhnya yang membengkok tajam serta
  • Cengkraman kukunya yang kuat dan tajam pada malam hari
  • Pandangannya sangat kuat mampu menembus kegelapan dalam mendeteksi mangsanya dengan pandangan dan indera sensornya sejauh 2 km.

 Makanan utama Tyto alba adalah tikus dan binatang pengerat sejenisnya.(Tupai, marmot, dan kelinci). Kemampuan memangsanya setiap malam  mampu membunuh 5-10 ekor tikus sehingga jika dalam satu kawasan terdapat 50 ekor Tyto alba, maka dapat memangsa  tikus  dalam  satu bulan sebanyak 7.500 – 15.000 ekor, burung tersebut mempunyai  wilayah kekuasaan, setiap Tyto alba meliputi lahan seluas 2 ha dengan daya jelajah setiap malam sampai  radius 5 km.

 Salah satu kelemahan dari burung ini adalah tidak dapat membuat rumah atau sarang sendiri seperti burung lainnya sehingga jika dibuatkan rumah berupa pagupon disebut “RUBUHA (Rumah Burung Hantu) sudah pasti akan dijadikan tempat hidup Tyto  alba.  dan jika dibuatkan dalam jumlah banyak dengan jarak 100 m – 200 m  maka populasi yang awalnya hidup di alam liar akan berpindah ke lahan usaha tani dan sekaligus mencari mangsa  yaitu  tikus pada sekitar lahan tersebut.

Salah satu upaya pemanfaatan burung Tyto alba sebagai pengendali tikus pada lahan usaha tani yaitu dengan membuat rumah burung hantu (Rubuha) sebagai tempat hidup Tyto alba di sawah/ lahan usaha tani 

 Rubuha sebagai tempat  tinggal  burung Tyto alba di lahan usaha tani harus dibuatkan rumah dengan kondisi menyerupai keinginan hidupnya di alam berupa pagupon terbuat dari kayu berbentuk segi empat dengan ukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi 50cm , dilengkapi lubang pintu dengan ukuran 12 cm x 10 cm, serta diberi teras  tempat bertengger yang menjulur di depan pintu dengan lebar 15–20 cm. Penempatan kotak rubuha diberi pada tiang terbuat dari bambu, kayu atau cor beton setinggi 4 meter dari permukaan tanah, adapun pertimbangan penempatan rubuha diutamakan pada daerah langganan serangan tikus serta jalur lintasan terbang burung Tyto alba. biaya pembuatan satu unit “Rubuha”  bervariasi  antara Rp. 750.000,-  sampai  Rp  4.000.000,-  tergantung  dari  bahan yang digunakan serta jangkauan jauh dekatnya tempat pemasangan, adapun  kekuatan  lamanya  rubuha tergantung dari bahan dan teknik pembuatannya, jika menggunakan bahan baku papan sengon yang dilapis dengan cat anti bocor “Nordrop” dan atapnya dilapisi seng akan bertahan selama 15-20 Tahun .

Pemasangan rubuha dikatakan berhasil jika telah ditempati secara menetap dan dijadikan tempat berkembang biak serta terlihat peranannya sebagi pengendali populasi tikus secara alami pada suatu kawasan.

Masa bertelur burung Tyto alba sebanyak 2 kali selama satu tahun yaitu pada bulan Mei dan Oktober dengan jumlah telur vervariasi antara 5 sampai 9  butir  telur  setiap periode. Tyto  alba  yang  telah dewasa/disapih   akan diusir induknya untuk mencari sarang dan wilayah sendiri.

Sumber: http://cybex.pertanian.go.id/artikel/98858/tyto-alba/

Bagikan

Recent Comments