PENGEMBANGAN UMBI GARUT SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI TERIGU UNTUK INDIVIDUAL AUTISTIK
October 18, 2021
Indonesia memiliki banyak jenis bahan pangan lokal yang dapat digunakan untuk menunjang ketahanan pangan nasional. Bahan pangan lokal tidak hanya tersedia dalam jumlah besar tetapi juga memiliki nilai produktivitas yang tinggi dan kandungan gizi yang baik. Tanaman garut (Maranta arundinacea L.) Arrowroot, West Indian Arrowroot telah dicanangkan pemerintah sebagai salah satu komoditas bahan pangan yang memperoleh prioritas untuk dikembangkan/dibudidayakan karena memiliki potensi sebagai pengganti tepung terigu.
Umbi garut segar merupakan sumber asam folat yang baik. Dalam 100 g garut terkandung 338 mg, atau 84% dari tingkat kebutuhan harian tubuh akan asam folat. Asam folat bersama dengan vitamin B-12 adalah salah satu komponen penting dalam pembentukan DNA dan pembelahan sel. Asam folat baik bila diberikan selama periode prakonsepsi dan kehamilan, untuk mem-bantu mencegah cacat tabung saraf dan malformasi kongenital lainnya pada keturunan.
Garut mengandung Vit. B kompleks, seperti niacin, thiamin, piridoksin, asam pantotenat dan riboflavin. Vitamin-vitamin ini terikat sebagai substrat untuk enzim karbohidrat, protein dan metabolisme lemak dalam tubuh. Di dalam garut juga terkandung beberapa mineral penting, seperti tembaga, besi, mangan, fosfor, magnesium, dan seng. Garut adalah sumber kalium sebesar 454 mg/100 g atau 10% dari RDA (Recommended Daily/Dietary Allo-wance), yang merupakan komponen penting dari sel dan cairan tubuh yang membantu mengatur detak jantung dan tekanan darah.
Kandungan zat gizi (100 gr tepung garut)
Kalori 55 kkal
Protein 0,70 gr
Lemak 0,20 gr
Karbohidrat 85,2 gr
Kalsium 8 mg
Kalium 454 mg
Fosfor 22 mg
Zat besi 1,5 mg
Vitamin A 0,00 SI
Vitamin B1 0,09 mg
Vitamin C 0,00 mg
Sumber : Direktorat Gizi Depkes, 1990
Gluten dan Autis
Gluten adalah campuran amorf (bentuk tak beraturan) dari protein yang terkandung bersama pati dalam endosperma pada beberapa serealia terutama gandum, jewawut (barley), rye, dan sedikit dalam oats. Kandungan gluten dapat mencapai 80% dari total protein dalam tepung, dan terdiri dari protein gliadin dan glutenin. Gluten ini terbentuk apabila terigu bertemu dengan air yang bermanfaat untuk mengikat dan membuat adonan menjadi elastis sehingga mudah dibentuk. Konsumsi gluten memang menimbulkan efek buruk pada beberapa orang yang sensitif terhadap gluten. Gluten juga dapat merangsang tumbuhnya bakteri Candida yang menimbulkan gas, toksin, sembelit, kembung dan diare.
Bagi penderita autis, gluten dianggap sebagai racun karena tubuh penderita autis tidak menghasilkan enzim untuk mencerna jenis protein ini. Bagi penderita autisme memperbaiki saluran pencernaan bukan hanya sekedar pemberian enzim dan obat-obatan saja, bila pengaruh makanan yang mengganggu tidak dikendalikan dengan baik. Sampai saat ini belum ada obat atau diet khusus yang dapat memperbaiki struktur otak atau jaringan syaraf yang kelihatannya mendasari gangguan autisme. Salah satu alternatif terbaik adalah pemberian makanan yang berbasiskan umbi-umbian sebagai sumber karbohidrat non-terigu.
Penggunaan tepung garut sebagai bahan makanan alternatif sangat disarankan, karena memiliki bentuk serat yang lebih pendek sehingga mudah dicerna dibandingkan tepung lainnya. (/Amalia, Balittro)
Pengembangan Umbi Garut
Tanaman garut diperbanyak secara vegetatif, bagian tanaman yang baik untuk digunakan sebagai bibit adalah ujung-ujung rhizoma atau tunas umbi (bits) yang panjangnya 4 – 7 cm dan mempunyai 2 – 4 mata tunas. Jumlah bibit yang diperlukan untuk setiap hektarnya adalah 3.000 – 3.500 kg bibit.
=> Pengolahan Tanah
Tanah diolah dengan membajak atau mencangkul, kemudian dibuat bedengan dengan ukuran panjang sesuai dengan kondisi lahan, lebar 120 cm dan tingginya antara 25 – 30 cm. Jarak antara bedengan yang satu dengan yang lain adalah 30 – 50 cm
=> Penanaman
Penanaman dilakukan pada awal musim hujan yaitu sekitar bulan Oktober agar tanaman lebih banyak tertolong pertumbuhanya dengan adanya curah hujan. Bibit ditanam pada bedengan-bedengan yang telah disiapkan dengan menggunakan alat tanam seperti tugal atau cangkul dengan kedalaman yang cukup yaitu antara 8 – 15 cm. Dalamnya penanaman bibit garut ini bertujuan agar umbi yang terbentuk nantinya tidak menonjol ke permukaan tanah.Setelah bibit ditanam selanjutnya lubang tanaman ditutup dengan tanah. Jarak tanam garut yang umumnya digunakan adalah sekitar 37,5 x 75cm
=> Pemupukan
Pemberian pupuk dapat dilakukan pada garitan atau alur yang dibuat disepanjang barisan tanaman; dan dapat juga lubang-lubang yang dibuat dengan menggunakan tugal didekat pangkal tanaman garut.Setelah pupuk diberikan selanjutnya lubang atau alur tersebut ditutup kembali dengan tanah. Jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk alam (pupuk organik) seperti kompos atau pupuk kandang sebanyak 25 – 30 ton/ha yang diberikan pada saat pengolahan tanah
=> Pemeliharaan
Pemeliharaan meliputi penyiangan dan pembumbunan dapat dilakukan setiap bulan terutama selama 3 – 4 bulan pertama dengan menggunakan cangkul, dan apabila tanaman garut mulai nampak berbunga maka kegiatan penyiangan tidak boleh lagi dilakukan.
=> Hama dan Penyakit serta Pengendaliannya
Satu-satunya jenis hama yang penting adalah ulat penggulung daun (Colopedes athlius Cran.), ciri-cirinya daun yang terserang melinting (menggulung), karena ulat ini menggulung sejumlah daun sehingga dapat menghambat proses asimilasi yang akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan umbi garut. Hama ini dapat diatasi dengan mudah yaitu dengan menggunakan larutan yang mengandung arsanik.
Jenis penyakit yang sering menyerang garut adalah penyakit akar. Penyakit akar ini disebabkan oleh Rosselina Bunodes Sacc.Yang biasanya menyerang tanaman garut yang diusahakan pada daerah-daerah yang lembab dengan curah hujan tinggi dengan drainase yang kurang baik.
=> Panen
Hasil utama tanaman garut adalah umbi.Tanda-tanda umbi garut sudah waktunya untuk dipanen adalah daun-daun menguning, mulai layu dan mati yaitu biasanya pada umur antara 10 – 12 bulan setelah tanam.
Cara panen umbi garut sangat bergantung pada varietas /kultivar yang digunakan. Untuk kultivar yang letak umbinya dekat dengan permukaan tanah, pemanenan cukup dilakukan dengan menggunakan tangan, sedang kultivar yang lain memerlukan alat untuk mencongkel umbi yang letaknya agak di dalam tanah.
Recent Comments