Jl. Sultan Hadiwijaya No.08 Demak (0291)685013 dinpertanpangan@demakkab.go.id

BERITADinpertan Pangan

Tak Perlu Khawatir, Benih Hibrida Tersedia Luas

Denfarm Padi hibrida telah sukses dilakukan Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo). Lantas bagaimana ketersediaan benihnya?. 

“SHS punya persediaan benih padi hibrida yang cukup, kami mempunyai lahan penangkaran benih seluas 50 hektar, “ kata perwakilan dari PT Sang Hyang Seri Doni saat sosialisasi padi hibrida melalui DemFarm yang berada di lahan milik PT Sang Hyang Seri (Persero) Sukamandi, Subang, Jawa Barat.

Sementara itu, Bambang Priyono dari PT Biogene Plantation mengatakan DemFarm ini, pihaknya menanam varietas Sembada 626, yang sebetulnya sudah dikenalkan ke petani sejak tahun 2014. Potensi hasil mencapai 13,2 Ton/Ha, rata-rata 9 Ton/Ha.

“Persediaan benih yang sudah terserap di free market sebanyak 225 Ton. Penangkaran benih ada di Ngawi, Jawa Timur sedangkan proses untuk benih berada di Gresik. Akhir Oktober ini kami akan panen benih lagi, ” jelasnya.

Perusahaan ini berdiri sejak tahun 2006, sudah menciptakan varietas Sembada sebanyak 11 varietas, yang eksis di lapangan ada 5 varietas yaitu Sembada 626, 168, 989, 178, dan 188. “Sembada 188 telah digunakan oleh Pemerintah Brunei Darussalam, setiap tahun support benih ke Brunei,” tambahnya.

PT BISI International, Tbk yang memiliki produk Intani 602 dengan potensi hasil 12,2 Ton/Ha juga ikut serta dalam demfarm ini. “Secara fisik padinya persis Ciherang, bentuk bulirnya lonjong dan wangi. Tahun kemarin kami bisa menjual benih padi hibrida 250 Ton, tahun ini mudah-mudahan bisa 500 Ton kita siapkan untuk free market,” kata Dodi Supriatna, perwakilan dari PT Bisi. 

Sementara itu, Adi Darmanto dari PT Primasid Andalan Utama mengatakan pihaknya mengembangkan varietas padi hibrida Mapan P 02 dan Mapan P 05. Di DemFarm ini kami menanam Mapan P 05 yang sudah umum ditanam petani, kelebihannya hasil produksi nasi pulen dan aromatik. 

“Bila strategi budidayanya bagus dan mendukung, hasilnya bisa 2 Ton/ha di atas Inbrida. Kami ada kerjasama dengan petani di Jawa Barat dan Jawa Timur untuk stok benih hibrida,” tuturnya. 

PT Corteva Agrisciences juga ikut serta dalam demfarm ini dengan produk Varietas PP 5 yang baru dilepas Kementan di tahun 2020. “Saat ini belum ada komersialisasi, lebih focus pada produksi benih di dalam negeri. Kami menggandeng mitra petani dari Karawang, Indramayu, Malang dan Blitar. Stok benih masih terbatas sekitar 20 – 50 Ton, ” tutur Yuana Leksana dari PT Corteva Agrisciences.

Yuana menambahkan, pihaknya tertarik ikut serta untuk menunjukkan kepada petani tentang varietas padi hibrida yang mempunyai keunggulan masing-masing.

“Benih dan perlindungan tanaman yang ada di DemFarm ini adalah modal bagi petani, tentunya petani mengharapkan return yang baik dan berkualitas. Kami siap sebagai penyedia Agro Input untuk petani,” tambahnya. 

Sementara itu, Marya dari PT Nusantara Pertanian Indonesia mengatakan vrietas yang ditanam di DemFarm ini adalah Bridantara 8. “Kami punya 3 varietas Bridantara yaitu Bridantara 2, Bridantara 3 dan Bridantara 8. Potensi hasil Bridantara 8 sekitar 11 -13 Ton/Ha, ” tambahnya. 

Marya menuturkan, Bridantara 8 baru dilepas oleh Kementerian Pertanian tahun 2020. “Kami siap mendukung ketahanan pangan bekerjasama dengan organisasi-organisasi,” jelasnya. 

Varietas Inbrida Pak Tiwi 1 milik PT Agri Makmur Pertiwi yang dikembangkan 7 tahun lalu pun diikut sertakan sebagai kontrol pembanding. “Kelebihannya adalah tahan terhadap wereng. Kami telah bekerjasama dengan pemerintah untuk proyek di luar pulau, termasuk Indramayu tahun kemarin untuk pengadaan bantuan benih, “ kata Jono dari PT Agri Makmur Pertiwi.

Pupuk dan Dolomit

Penyediaan paket perlindungan tanaman oleh PT Bayer Indonesia dan agro input berupa pupuk NPK dan dolomit disediakan oleh PT Polowijo Gosari dalam DemFarm ini. 

“Kami mempelajari area, mendata potensi gangguan hama dan penyakit dengan mewawancarai petani. Setelah itu kami membuat paket perlindungannya untuk 1 musim, yang kita siapkan adalah paket perlindungan tanaman yang regular, sama dengan yang kita edukasikan ke petani lainnya dengan varietas yang lain, ” tutur Ibnu Ridwan Amin dari PT Bayer Indonesia

Masalah yang pernah ada yaitu sundep, dan berhasil dikendalikan. Kunci keberhasilannya adalah pelaporan sundep sejak awal dari petani ketika terlihat penempatan telor dan Tim Bayer stand by dengan drone.

“Drone membantu kita respon potensi gangguan, misal wereng kalau tanpa drone bisa 4 – 5 hari itupun kalau ada tenaga kerjanya. Dengan drone 1 hari saja aplikasi dengan lahan seluas 15 Ha ini. Petani membutuhkan terobosan dalam aplikasi untuk membantu merespon gangguan. Varietas yang ditanam di sini menunjukkan hasil di atas rata- rata,” kata Ibnu. 

Sementara itu, Azhari Agusmara dari PT Polowijo Gosari mengatakan pihaknya memakai  NPK Pullet dengan kombinasi 15-15-15. “Sebelum pindah tanam, setelah pengolahan lahan diaplikasikan dolomit MagFertil 20+ sebanyak 1 ton per hektar, ” tambahnya. 

Diakuinya, penggunaan NPK sesuai varietas masing-masing karena berbeda. Sebelum pengaplikasian dolomit, pH tanah di lokasi demfarm hanya 4,5. Namun setelah aplikasi dolomit pH  hampir 7. “Informasi dari beberapa petani pemakaian dolomit MagFertil 20+ pada lahan mereka, akar tanaman lebih panjang, anakan menjadi lebih banyak, bulir padi menjadi lebih bernas,” kata Azhari Agusmara. 

Sumber: https://tabloidsinartani.com/detail//indeks/pangan/18510-Tak-Perlu-Khawatir-Benih-Hibrida-Tersedia-Luas

Bagikan