Jl. Sultan Hadiwijaya No.08 Demak (0291)685013 dinpertanpangan@demakkab.go.id

ARTIKELDinpertan Pangan

PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN UNTUK PAKAN TERNAK

Limbah pertanian  dapat dimanfaatkan sebagai pakan pendukung untuk ternak terutama ternak ruminansia antara lain kulit buah nanas, bungkil kacang tanah, pucuk tebu, jerami kedele, jerami ketela rambat, jerami kacang tanah serta limbah berupa sayur-sayuran yang sudah tidak termanfaatkan untuk manusia. Perlu sentuhan teknologi sehingga dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak.

Pakan merupakan salah satu faktor terpenting, dalam semua usaha peternakan, baik ternak ruminansia maupun ternak unggas dan menjadi komponen terbesar dari biaya produksi ternak. Sekitar 60 – 80 % dari keseluruhan biaya produksi ditentukan oleh faktor biaya pakan. Efisiensi terhadap pengolahan pakan sangat penting guna menekan biaya pakan.  Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengganti bahan pakan yang relatif mahal dengan bahan yang relatif murah namun tetap memperhatikan nilai gizi dan ketersediaan bahan pengganti.

Limbah tanaman pangan yang berpotensi sebagai bahan pakan adalah: (1) Jerami padi, poten-sinya  6-8 ton/ha yang dapat menghidupi sapi dewasa 2-3 ekor/tahun, dedak padi, dan bekatul; (2) Jerami, kulit, dan janggel jagung; (3) Daun, kulit, dan onggok ubi kayu; (4) Brangkasan, kulit, dan bungkil kacang tanah; dan (5) Brangkasan, kulit, dan bungkil kedelai serta ampas tahu. Sementara limbah dari tanaman perkebunan meliputi: (1) Daun tebu kering dan pucuk, tetes (molases), ampas tebu, blotong, dan abu; (2) Daun, bungkil, dan lumpur sawit; (3) Bungkil kelapa; (4) Kulit kakao; (5) Kulit kopi; dan (6) Kulit nenas.

Untuk mengatasi permasalahan ketersediaan pakan tambahan diperlukan teknologi tepat guna, antara lain: (1) fermentasi bahan pakan berserat tinggi, (2) mencegah degradasi protein dalam rumen dengan pemanasan, penambahan formaldehida, pemberian pakan berulang, dan pemberian garam dan asam amino sintetis, dan (3) pencacahan untuk menghilangkan zat antinutrisi.

PENGGOLONGAN PAKAN TERNAK

Keberhasilan usaha peternakan ditentukan oleh kondisi pakan yang diberikan kepada ternak.  Pakan yang diberikan bukan hanya untuk mengatasi rasa lapar tetapi juga harus benar-benar bermanfaat untuk kebutuhan hidup, membentuk  sel-sel baru, menggantikan sel-sel yang telah rusak, dan untuk berproduksi. Pakan ternak dapat digolongkan menurut asal, fungsi dan bentuk fisiknya.

  1. Menurut asalnya, pakan ternak dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu, pakan yang berasal dari hewan dan pakan yang berasal dari tumbuh-
  2. Menurut fungsinya, pakan ternak dapat digolongkan menjadi delapan kelompok, yaitu : hijauan kering, hijauan segar atau pasture, silase, pakan sumber energy, pakan sumber protein, pakan sumber mineral, pakan sumber vitamin dan pakan tambahan.
  3. Menurut bentuk fisiknya, pakan ternak dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu makanan berbutir, makanan berbentuk tepung, dan makanan berbentuk cairan.

Dalam memilih bahan pakan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain :

  1. Mengandung zat gizi / nutrisi yang dibutuhkan ternak
  2. Mudah diperoleh dan sedapat mungkin terdapat didaerah sekitar sehingga tidak menimbulkan masalah biaya transportasi dan kesulitan mendapatkannya.
  3. Terjamin ketersediaannya sepanjang waktu dan dalam jumlah yang cukup.
  4. Disukai oleh ternak.
  5. Harga bahan pakan terjangkau.
  6. Bahan pakan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia.
  7. Tidak mengandung racun dan tidak dipalsukan.

Jenis limbah pertanian sebagai sumber pakan antara lain : limbah tanaman padi, tanaman jagung, tanaman kedelai, tanaman kacang tanah, tanaman ubi kayu, tanaman ubi jalar, dll.

1). Tanaman Padi, merupakan salah satu makanan pokok di Indonesia.  Pemanfaatan padi sebagai pakan ternak terutama ternak unggas sangat bersaing dengan kebutuhan manusia. Akan tetapi limbah dari tanaman padi sangat berpotensi untuk dijadikan pakan ternak.  Limbah tersebut berupa jerami, dedak, dan bekatul. 

  1. Jerami padi dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia.  Penggunaan jerami padi sebagai pakan ternak telah umum dilakukan di daerah tropik, terutama sebagai makanan ternak pada musim kemarau.   Jumlah jerami yang dihasilkan dalam satu hektar padi sawah adalah sebanyak 1,44 kali dari jumlah hasil panennya. Dengan mengetahui jumlah jerami yang dihasilkan maka dapat diketahui juga daya tampung ternak dalam satu hektar sawah dalam satu tahun.
  2. Dedak dan bekatul sebagai limbah dari penggilingan padi, dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak unggas dan ternak ruminansia.  Banyaknya dedak yang dihasilkan tergantung pada cara pengolahan.  Dedak kasar dapat dihasilkan sebanyak 14,44%, dedak halus sebanyak 26,99%, bekatul sebanyak 3% dan 1-17% menir dari berat gabah kering. Penggunaan dedak dalam ransum ternak, terutama ternak unggas dibatasi karena tingginya kandungan serat kasar.

2). Tanaman Jagung,  setelah produk utamanya dipanen hasil ikutan tanaman jagung dapat dijadikan sebagai pakan ternak ruminansia, yaitu berupa jerami, klobot dan tongkol jagung baik sebelum atau sesudah melalui proses pengolahan. Jumlah produk ikutan jagung dapat diperoleh dari satuan luas tanaman jagung antara 2,5 – 3,4 ton bahan kering per hektar yang mampu menyediakan bahan baku sumber serat/pengganti hijauan untuk 1 satuan ternak (bobot hidup setara 250 kg dengan konsumsi pakan kering 3% bobot hidup) dalam setahun).

3). Tanaman Ubi Kayu (Cassava) merupakan makanan pokok nomor tiga setelah padi dan jagung di Indonesia.Tanaman ini merupakan tanaman tropis yang potensial dan sangat penting sebagai pakan ternak sumber energi (umbi) dan protein (daun) dalam jumlah besar. Limbah tanaman ubi kayu yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak terbagi menjadi 2 bagian, yaitu : a). Berasal dari lahan pertanian, berupa daun ubi kayu setelah masa panen.  Produksi biomasa hijauan ubikayu terdiri atas daun, tangkai daun dan batang. Produksi daun merupakan proporsi tertinggi, yakni sebesar 61,6 % dari total produksi bahan kering sebesar 1.434 kg/ha b). Berasal dari pabrik pengolahan ubi kayu menjadi tepung tapioka atau industri makanan berupa kulit ubi kayu, potongan-potongan yang tidak bisa masuk ke mesin penggiling dan onggok.  Akan tetapi penggunaan umbi dan daun ubi kayu dalam ransum ternak cukup terbatas dikarenakan adanya faktor pembatas berupa racun asam sianida (HCN).

       Beberapa proses pengolahan dilakukan untuk menurunkan kadar HCN dalam ubi kayu adalah pengeringan, perendaman, perebusan, fermentasi dan kombinasi proses-proses ini. Sedangkan untuk daunnya, kandungan HCN dapat diturunkan dengan pengeringan, perebusan atau penambahan metionin atau senyawa lain yang mengandung sulfur. Penggunaan ubi kayu dalam ransum ternak unggas sebesar 5-10% dan untuk ternak ruminansia sebesar 40-90%.  Limbah dari tanaman ubi kayu yang merupakan hasil sampingan dari industri tapioka adalah onggok yang memiliki nilai gizi sedikit lebih rendah dari ubi kayu, akan tetapi mempunyai kandungan Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN) yang relatif tinggi sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku pakan sumber energi bagi ternak.

4). Tanaman Lainnya, limbah pertanian lainnya yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan pendukung untuk ternak terutama ternak ruminansia antara lain kulit buah nanas, bungkil kacang tanah, pucuk tebu, jerami kedele, jerami ketela rambat, jerami kacang tanah serta limbah berupa sayur-sayuran yang sudah tidak termanfaatkan untuk manusia. Limbah-limbah pertanian tersebut rata-rata memiliki kandungan serat kasar yang tinggi, namun ketersediaannya cukup melimpah di alam sehingga perlu adanya sentuhan teknologi  yang dapat mengubah bahan baku tersebut menjadi pakan bergizi dan sumber energi bagi ternak sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan terutama ternak ruminansia.

Sumber: http://cybex.pertanian.go.id/artikel/99146/pemanfaatan-limbah-pertanian-untuk-pakan-ternak/

Bagikan

Recent Comments