PENINGKATAN PRODUKSI TANAMAN PANGAN MELALUI PEMUPUKAN BERIMBANG
November 4, 2021
Pemakaian pupuk berimbang penting dilakukan untuk mengurangi permasalahan umum pertanian seperti pelandaian produktivitas lahan pertanian (levelling off), trend peningkatan produktivitas jauh lebih rendah dari trend konsumsi pupuk, rendahnya produktivitas di lahan suboptimal (lahan kering dan rawa), rendahnya efisiensi pemupukan. Penggunaan pupuk berimbang disertai dengan penggunaan benih varietas unggul bersertifikat diyakini dapat berkontribusi untuk meningkatkan produktivitas, produksi dan mutu hasil komoditas tanaman pangan.
Produksi tanaman pangan umumnya dibatasi oleh ketersediaan hara dalam tanah yang paling minimum, sehingga jika terjadi kekurangan unsur hara utama akan mengakibatkan produksi akan semakin rendah. Untuk mendapatkan hasil produksi optimal, diperlukan pemberian pupuk ke dalam tanah dengan jumlah dan jenis hara sesuai dengan tingkat kesuburan tanah dan kebutuhan tanaman. Selain itu diperlukan kombinasi pupuk anorganik dengan bahan/pupuk organik untuk mendapatkan produksi optimal.
Saat ini masih ditemukan kendala peningkatan produksi tanaman pangan melalui pemupukan berimbang diantaranya: sebagian petani masih mengandalkan pupuk subsidi saja, padahal untuk mendapatkan produksi padi optimum, kebutuhan pupuk harus tercukupi. Masih terdapat petani yang belum menerapkan rekomendasi pemupukan spesifik lokasi (rekomendasi pupuk per kecamatan, uji cepat test kit, soil sensor). Selain itu, sering dijumpai kualitas pupuk baik subsidi dan non subsidi yang tidak sesuai dengan pencantuman pada label.
Penggunaan pupuk berimbang sebaiknya menerapkan empat tepat pemupukan antara lain: tepat dosis, tepat waktu, tepat cara dan tepat jenis. Tepat dosis yaitu pemakaiana pupuk harus sesuai dengan status hara tanah dan kebutuhan tanaman yang dapat ditetapkan melalui uji tanah, dan target hasil. Tepat waktu yaitu pemberian pupuk dilakukan saat tanaman memerlukan unsur hara. Tepat cara yaitu penempatan pupuk di lokasi dimana tanaman secara efektif mengakses hara. Sedangkan tepat jenis/bentuk yaitu formula pupuk disesuaikan dengan kondisi tanah dan kebutuhan tanaman (pupuk tunggal, pupuk majemuk, atau kombinasi pupuk tunggal dan majemuk).
Untuk mendukung pemupukan berimbang, diperlukan pengembangan teknologi pemupukan antara lain:
- Teknologi penetapan kebutuhan pupuk berbasis keseimbangan hara.
- Identifikasi kekahatan hara, dilakukan untuk menentukan lahan yang mengalami kekahatan tertentu.
- Pemilihan metode ekstraksi tanah. Metode ekstraksi yang berkorelasi tinggi dengan hasil tanaman dapat menggambarkan kondisi hara tanah
- Penentuan kelas ketersediaan hara dan rekomendasi pemupukan. Tingkat kesuburan tanah dibagi menjadi berbagai kelas status hara tanah. Hal ini berimplikasi pada pemberian dosis pupuk sesuai kelas status hara yang berbeda. Pupuk Urea dan NPK perlu diberikan berdasarkan status hara (rendah, sedang dan tinggi) serta jumlah hasil yang diharapkan.
- Teknologi atau perangkat uji untuk penetapan rekomendasi pupuk, dapat dilakukan menggunakan cara atau alat bantu (kits) untuk menghitung dan menetapkan rekomendasi pemupukan yang mudah, cepat dan tepat melalui:
- Penggunaan Software melalui aplikasi decision support system (DSS) seperti PKDSS, Sipapukdi, PHSL, KATAM TERPADU
- Hardware melalui penggunaan perangkat uji diantaranya: Perangkat Uji Tanah sawah (PUTS), Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK), Perangkat Uji Tanah Rawa (PUTR), PUP (Perangkat Uji Pupuk). PUTS merupakan alat bantu untuk mengukur kadar hara tanah sawah secara cepat di lapangan. PUTS digunakan sebagai parameter penetapan : N, P, K, dan pH. Alat ini dilengkapi dengan rekomendasi pemupukkan pupuk N, P dan K untuk padi sawah. PUTK merupakan perangkat uji untuk mengukur kadar hara tanah kering secara cepat di lapang. PUTK digunakan untuk mengukur kadar P, K, C organik , pH, dan kebutuhan kapur. Alat ini juga dilengkapi rekomendasi pupuk untuk tanaman jagung, kedelai dan padi gogo. PUTR merupakan alat bantu analisa tanah sulfat masam potensial secara cepat di lapang untuk mengukur hara N, P, K, pH dan kebutuhan kapur. Sedangkan PUP merupkan alat bantu analisis kualitatif kadar hara N, P, dan K pupuk anorganik secara cepat di lapang.
- Penggunaan soil sensor dengan memanfaatkan digital handphone
- Penggunaan teknologi produk pupuk anorganik, organik dan hayati.
Recent Comments