Konsumsi Sayuran Rendah, Peluang Bisnis Penggiat Urban Farming
January 20, 2022
Konsumsi sayuran warga ibukota Jakarta ternyata masih sangat minim. Dengan tren hidup lebih sehat menjadi peluang bisnis bagi penggiat urban farming.
DKI Jakarta yang memiliki jumlah penduduk hampir 10 juta jiwa adalah pasar yang sangat potensial bagi pelaku bisnis urban farming (pertanian perkotaan) komoditas sayuran. Dekatnya lokasi budidaya dengan pembeli akan memotong biaya transportasi sehingga lebih efisien.
Bagi konsumen, keuntungan yang diperoleh adalah kualitas sayuran jauh lebih segar karena bisa langsung dipanen di tempat. Bergairahnya bisnis urban farming perlu didukung pola konsumsi masyarakat disekitarnya, agar tercipta keseimbangan antara aspek budidaya dan pemasaran.
Hal ini menjadi penting agar hasil panen bisa diserap dengan maksimal sehingga tidak mubazir dan pelaku usaha tidak rugi. Namun faktanya, konsumsi sayuran warga Jakarta ternyata sangat rendah.
Hal ini yang disoroti Abdul Hamid, Wakil Ketua Umum Asbenindo saat Webinar Urban Farming di Tengah Perubahan Iklim yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (12/1). “Ada peluang besar bagi penggiat bisns urban farming sayuran untuk meningkatkan pasar di Jakarta,” katanya.
Mengutip data, Hamid menunjukkan bahwa konsumsi sayuran warga DKI Jakarta ada diurutan nomor 4 dari bawah. Sangat jauh dibandingkan dengan warga Papua Barat yang menduduki posisi 1. “Padahal makan sayuran setiap hari bikin sehat dan awet muda,” katanya.
“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta perlu mendorong peningkatan konsumsi sayuran di masyarakat dengan melakukan kampanye secara masif dan terus menerus,” saran Hamid. Caranya bisa dimulai dengan cara menggerakkan PNS di lingkungan pemerintahan yang jumlahnya puluhan ribu agar membeli sayuran hasil budidaya pelaku disekitar kantor pemerintahan.
Recent Comments