Jl. Sultan Hadiwijaya No.08 Demak (0291)685013 dinpertanpangan@demakkab.go.id

ARTIKELDinpertan Pangan

Budidaya Pisang Berangga Merah

BUDIDAYA PISANG BERANGGA MERAH
1. Persiapan Benih
Syarat :
– Bermutu baik
– Sehat, bebas hama penyakit
– Varietas unggul
– Seragam
2. Persiapan Lahan :
– Monokultur, jarak tanam 3 x 3m
– Lubang tanam 50 x 50 x50cm
– Tanaman berukuran 20 – 30 cm(kuljar) atau 40 – 5- cm (anakan)
– Sebelum ditanam lubang diberi pupuk kandang 10 – 20 kg
– Dolomit jika pH tanah asam
3. Persiapan tanam
– Bersihkan lahan dari rumput liar dan bebatuan dan gunakan herbisida jika diperlukan.
– Siapkan lubang tanam ukuran 50x50x50 cm dengan jarak tanam 2,5x2m
– Campurkan tanah galian yang subur dengan 10-20 kg kompos atau kohe yang matang serta tambahkan bahan organik seperti (arang sekam),dolamit dan semprotkan agen hayati jika diperlukan.
– Masukan adukan tanah kedalam lubang tanam dan lubang tanam siap digunakan.
4. Penanaman bibit pisang kultur jaringan
– Tanam bibit dengan media Jiffy tanpa perlu melepas kantung media sampai sedalam leher akar atau pangkal batang
– Berikan naungan di atas bibit jika diperlukan
5. Pemeliharaan tanaman dan pemupukan
– Pemupukan dilakukan selebar tajuk tanaman
– Pemberian bahan organik seperti tandan kosong kelapa sawit sisa jerami,arang sekam,cocopeat dan lain lain pada piringan pohon untuk menjaga kelembaban tanah untuk memperbaiki struktur tanah, yang berguna menekan gulma dan sumber nutrisi tambahan bagi tanaman dan mikrooganisme.
– Penyiraman dilakukan setiap 1-3 hari sekali.
– Siram air selebar tajuk tanaman sampai basah
– Semakin besar tanaman butuh lebih banyak air
– 3-5 bulan pertama adalah masa krusial bagi tanaman pisang untuk mendapatkan air dan nutrisi secukupnya untuk mendapatkan calon bakal buah yang besar
– Penggunaan sistem irigasi tetes (drip irrigation) sangat dianjurkan karena memiliki
6. Keuntungan sebagai berikut:
– Tanaman pisang senantiasa mendapatkan suplai air yang cukup secara terus menerus.
– Menekan pertumbuhan gulma
– Mengurangi biaya penyiraman
– Produktivitas buah lebih tinggi
– Mendukung fertigasi
– Tidak tergantung pada musim
7. Penyakit Layu Fusarium pada tanaman Pisang
Pisang merupakan salah satu buah-buahan yang menjadi primadona di Indonesia bahkan mancanegara. Secara umum tanaman pisang dapat dibudidayakan hampir diseluruh daerah di Indonesia. Pisang dapat tumbuh di daerah tropis baik dataran rendah maupun dataran tinggi dengan ketinggian tidak lebih dari 1.600 m di atas permukaan laut (dpl). Suhu optimum untuk pertumbuhan adalah 27°Cabe merah, dan suhu maksimumnya 38°Cabe merah, dengan keasaman tanah (pH) 4,5 – 7,5. Curah hujan 2000-2500 mm/tahun atau paling tidak 100 mm/bulan. Apabila suatu daerah mempunyai bulan kering berturut-turut melebihi 3 bulan maka tanaman pisang memerlukan tambahan pengairan agar dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik.Peluang pengembangan agribisnis komoditas pisang di Indonesia masih terbuka luas. Untuk keberhasilan usahatani pisang, selain penerapan teknologi, penggunaan varietas unggul dan perbaikan varietas harus dilakukan. Varietas yang dimaksud adalah varietas yang toleran atau tahan terhadap hama dan penyakit penting pisang, mampu berproduksi tinggi serta mempunyai kualitas buah yang bagus dan disukai masyarakat luas.
Penyakit Utama Tanaman Pisang
Salah satu penyakit utama tanaman pisang adalah penyakit layu fusarium. Penyakit ini sangat berbahaya dan mematikan bagi tanaman pisang dan dapat mengakibatkan turunnya kualitas dan kuantitas produksi. Nama lain dari layu fusarium adalah penyakit Panama yang disebabkan oleh cendawan. Penyakit ini sukar dikendalikan, mudah berpindah dan mampu bertahan di dalam tanah dalam jangka waktu yang cukup lama.
Gejala Penyakit Layu Fusarium
Gejala yang ditimbulkan pada tanaman pisang yag terserang :
1. Daun
Kuning kehijauan pada daun tua, dimulai dari pinggir daun. Penguningan berlanjut ke daun yang lebih muda. Daun paling muda yang baru membuka, adalah daun yang paling terakhir yag memperlihatka gejala.
2. Batang Semu
Pecah membujur beberapa cm di atas tanah. Dapat juga terjadi pada tanaman muda atau anakan. Anakan menjadi kerdil, daun meyempit, batang semu pecah dan mengembang ke atas. Mirip serangan kerdil pisang.
3. Tangkai Daun dan Bagian Dalam Batang Semu
Bila dipotong, ditemukan jaringan/benang berupa garis berwarna coklat/hitam/ungu/kekuningan. Empulur biasanya tidak membusuk/hitam.
4. Bonggol
Bila dipotong, bagian tengah berwarna hitam, coklat atau ungu.
5. Buah
Umumnya tidak sampai panen. Bila panen ukurannya menjadi kecil, layu dan matang sebelum waktunya.
6. Tampilan Jatung
Awalnya normal, kemudian tumbuh kerdil dan layu. Bila dipotong tidak memperlihatkan perbedaan dengan jantung pisang yang sehat.

7. Inang Sementara
Gulma paspalum fasciculatum (rumput pahit), Panicum purpurascens (lambuyangan), Ixophorus unisetus, Amaranthus spp (bayam-bayaman) dan Commelia diffusa (tali said/kandang)
Pengendalian Layu Fusarium
1. Penggunaan bibit bebas penyakit yaitu bibit yag diambil dari lahan yang diyakini benar-benar bebas dari penyakit layu Fusarium (FOC). Bibit pisang yang berasal dari kultur jaringan adalah salah satu bibit pisang yang bebas penyakit. Namun bibit yang bebas penyakit ini haya dapat bertahan bila pada lahan tidak ada bibit penyakit layu fusarium.
2. Melakuka pergiliran tanaman.
3. Melakukan sanitasi lahan, yaitu membersihkan gulma seperti rumput teki dan bayam-bayaman, gulma tersebut merupakan inang sementara bibit penyakit layu Fusarium (FOC).
4. Melakukan pengamatan cepat keberadaan FOC. Pada lahan yang akan ditanami pisang, terutama lahan baru sebaiknya dilihat terlebih dahulu ada atau tidaknya FOC. Caranya, ambil tanah dari lahan yang akan digunakan sebagai lahan pertanaman pisag, masukkan ke dalam kantong atau ember plastik setinggi 25 cm. Campurkan kompos kotoran ayam dengan perbandingan 2 bagian kompos kotoran ayam dan 8 bagian tanah. Biarkan 15 hari, lalu tanamkan anakan rebung pisag yang tidak tahan terhadap FOC (ambon kuning), kemudian amati pisang yang ditanam akan memperlihatkan gejala penyakit layu fusarium.
5. Menanam jenis pisang yang tahan terhadap FOC seperti Janten/Ketan, Muli, Taduk, Raja Kinalun/Pisang Prancis, FHIA-25 dan FHIA-17.
6. Pemakaian agensia hayati : Trichoderma sp, Gliocladium sp. Dan Pseudomonas fluorescens. Pada prinsipnya penggunaan agensia hayati masih bersifat pencegahan. Agensia hayati digunakan pada saat tanam atau dimasukkan pada lubang tanam.
7. Jangan membawa atau memindahkan bahan tanaman (bibit pisang) dari lokasi yang telah terserang ke lokasi/daerah yag masih bebas penyakit.
8. Melakukan eradikasi atau pemusnahan dengan membasmi sumber bibit penyakit (tanaman sakit) dengan membongkar dan membakar atau penyuntikan menggunakan :
? Round Up dengan dosis 12 cc untuk tanaman induk, 2,5 cc untuk anakan berumur 4-6 bulan (tinggi 50 – 100 cm) dan 1 cc untuk anakan berumur kurang dari 4 bulan ( tinggi< 50 cm)
? Injeksi menggunakan minyak tanah dengan takaran 5 sendok makan untuk tanaman induk, 3 sendok makan untuk tanaman berumur 4-6 bulan dan 1-2 sendok makan untuk tanaman berumur kurang dari 4 bulan.
? Penyuntikan dilakukan 20-40 cm di atas leher akar untuk tanaman induk dan sekitar 10-15 cm untuk tanaman anakan. Penyuntikan dilakukan sampai pada bagian tengah (empulur) tanaman pisang dengan sudut kemiringan 60°.
9. Terilisasi alat penn seperti pisau, parang atau golok menggunkan desinfektan misalnya
menggunakan bayclean atau alkohol. Alat pertanian lainnya seperti cangkul, sekop dan lain-lain, disarankan untuk dicuci dengan sabun dan disterilkan, terutama ketika alat tersebut digunkan secara berpindah-pindah antar kebun.

Sumber: http://cybex.pertanian.go.id/artikel/100260/budidaya-pisang-berangga-merah/

Bagikan

Recent Comments