SMART FARMING BUDIDAYA SAPI POTONG
February 21, 2022
Salah satu cara beternak yang sedang trend saat ini adalah smart farming. Dengan smart farming, komponen-komponen di sekitar kawasan peternakan dihubungkan dengan internet melalui smartphone maupun gadget lainnya.
Bisnis peternakan merupakan bisnis yang sangat menjanjikan. Sebab, sumber utama protein yang merupakan kebutuhan pokok tubuh manusia sebagian besar disediakan oleh produk peternakan. Seiring pertumbuhan penduduk dan kesadaran akan pentingnya gizi, perkembangan bisnis peternakan semakin hari semakin pesat serta permintaan produknya semakin tinggi. Oleh karenanya, tidaklah berlebihan kalau banyak orang tertarik menekuni bisnis ini. Salah satunya di bidang peternakan sapi.
Sebelum menekuni bisnis peternakan sapi, sebaiknya memahami dulu ilmunya. Ilmu beternak sapi ini sangat diperlukan untuk meminimalisir berbagai risiko yang mungkin terjadi saat beternak. Kurangnya ilmu dan wawasan bisa membuat usaha peternakan sapi tidak berjalan sesuai rencana atau setidaknya mempengaruhi efisiensi peternakan. Salah satu ilmu peternakan yang sedang trend saat ini adalah dengan memanfaatkan kemajuan teknologi khususnya internet (Internet Of Things) atau lebih dikenal dengan smart farming. Pemanfaatan Internet of Thing (IoT) dalam smart farming adalah untuk menghubungkan komponen-komponen di sekitar kawasan peternakan dengan internet melalui smartphone maupun gadget lainnya.
Dengan menggunakan teknik smart farming, peternak dapat memantau dengan lebih baik masing-masing hewan dan menyesuaikan kebutuhan gizi mereka, sehingga mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan ternak. Usaha Peternakan sapi tidak bisa terlepas dari konsep “segitiga emas”, yaitu: 1)breeding; 2)feeding, and 3)management. Peningkatan produktivitas dapat dicapai melalui perbaikan ketiga faktor di atas. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan sebagai berikut:
1)Breeding (Pembibitan). Merupakan pilar penting dalam usaha ternak mengingat pembibitan adalah suatu kegiatan pemeliharaan ternak dengan tujuan utama pembibitan ternak. Pembibitan adalah kegiatan budidaya yang menghasilkan bibit ternak untuk keperluan sendiri atau diperjual-belikan. Inseminasi buatan (IB) merupakan salah satu teknologi reproduksi yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi produksi dan penyebaran bibit unggul dan dapat mencegah penularan penyakit yang ditularkan melalui alat reproduksi. Sumber pertumbuhan produktivitas ternak sapi yang utama adalah perubahan teknologi yang lebih maju dan bersifat tepat guna. Performa breeding sapi dapat diperbaiki melalui teknologi reproduksi dan perbaikan bibit, guna meningkatkan mutu genetik (genetic improvement) melalui seleksi pembentukan ternak unggul, grading up sistem perkawinan silang yang keturunanya selalu disilang balikan (back crossing) dengan bangsa pejantan, memafaatkan teknologi tepat guna IB. IB bertujuan memperbaiki mutu ternak yang dihasilkan sebab bibit berasal dari pejantan yang unggul atau pilihan . Aplikasi IB akan lebih efisien karena tidak mengharuskan pejantan unggul dibawa ke tempat betina, cukup dengan membawa semennya saja. Hasil IB dapat meningkatkan angka kelahiran secara teratur serta dapat mencegah terjadinya penularan atau penyebaran penyakit kelamin pada ternak. Dibandingkan dengan cara kawin alam (INKA), lebih banyak keuntungan yang akan diperoleh peternak dengan menggunakan cara IB. Peternak juga akan menghemat biaya pemeliharaan sapi jantan.
2)Pakan. Merupakan faktor terpenting untuk perkembangan usaha peternakan sapi. Dalam perhitungan ekonomi, pakan menjadi titik pusat sebagai kebutuhan pokok konsumsi ternak harian. Faktor lingkungan dapat memengaruhi besarnya pengaruh pakan terhadap produksi, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan pakan tidak bisa dianggap ringan. Biaya pakan bisa mencapai 80% dari total biaya produksi. Agar efisien, penyediaannya dapat dipenuhi dengan pemanfaatan limbah agroindustri, limbah perkebunan, pertanian, holtikultura, dan limbah lainnya sehingga dapat mewujudkan zero waste.
Dengan menggunakan teknik smart farming, peternak dapat memantau dengan lebih baik kebutuhan masing-masing hewan dan menyesuaikan gizi mereka, sehingga mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan ternak. Dalam kaitan ini ketersediaan pakan di musim hujan dan musim kemarau harus tetap ada dengan kualitas dan kuantitas memadai. Sumber pakan bisa tunggal atau campuran, baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diberikan pada hewan (ternak) untuk kelangsungan hidup, berproduksi, serta berkembangbiak. Pakan ternak ruminansia terdiri dari pakan hijauan dan pakan konsentrat (penguat). Kondisi di lapangan ketersediaan sumber pakan dari hijauan sering mengalami kendala akibat dari tidak terjaminnya kontinyuitas produksi hijauan dan zat anti nutrisi yang terkandung di dalam hijauan tersebut, sehingga berpengaruh terhadap stabilitas dari produksi. Penggunaan pakan asal biomas lokal yang potensial sebagai pakan basal diharapkan dapat menurunkan biaya, namun juga mampu meningkatkan produktivitas sapi. Secara teknis, peternak dapat mengembangkan usaha sapi dengan pola integrasi tanaman ternak, berskala sedang maupun besar, dengan pendekatan LEISA dan (zero waste), terutama di perkebunan. Integrasi ternak-tanaman merupakan model usaha tani yang menerapkan sinergi antara usaha tani dan ternak yang saling menguntungkan.
3)Manajemen. Merupakan salah satu pilar utama usaha ternak. Manajemen yang buruk dan masih bersifat tradisional merupakan salah satu penyebab rendahnya produktivitas sapi. Konsep GDFP (Good Dairy Farming Practices) adalah manajemen usaha ternak sapi yang baik meliputi: kesehatan ternak, nutrisi ternak (pakan dan minum), kesejahteraan ternak, perkandangan dan lingkungan, dan manajemen sosial ekonomi. Hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen usaha sapi adalah biosekuriti, pemeliharaan induk, recording, identifikasi tingkah laku ternak, manajemen lingkungan, pengolahan limbah, pengolahan hasil, serta pemasaran dan distribusi.
Untuk mewujudkan suksesnya usaha peternakan sapi perlu dukungan semua pihak terkait termasuk performa kelembagaan. Peran serta kelembagaan sangatlah penting mengingat posisi tawar peternak yang masih relatif lemah, sehingga performa kelembagaan berpengaruh positif terhadap pengembangan usaha ternak sapi.
Sumber: http://cybex.pertanian.go.id/artikel/100415/smart-farming-budidaya-sapi-potong/
Recent Comments