Harga Kedelai Impor Naik, Momentum Dongkrak Produksi Kedelai Lokal
March 17, 2022
Pemenuhan kedelai secara mandiri diperlukan, mengingat kebutuhan kedelai sebagai bahan baku untuk produksi tempe dan tahu setiap tahunnya semakin bertambah. Karena itu kenaikan harga kedelai saat ini menjadi momentum petani untuk meningkatkan produksi.
Peningkatan produksi kedelai diakui memang tidak mudah. Apalagi, kedelai masih diposisikan sebagai tanaman penyelang atau selingan bagi tanaman utama seperti padi, jagung, tebu, tembakau, dan bawang merah.
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengakui, pengembangan produksi kedelai oleh petani lokal sulit dilakukan untuk mencapai swasembada. Hal ini karena komoditas tersebut tidak memiliki kepastian pasar dibandingkan komoditas pangan lainnya.
“Masyarakat kita rata-rata pemakan tahu tempe jadi kedelai ini tidak boleh bersoal. Kita segera lakukan langkah konkret di lapangan sebagai upaya menstabilkan harga dulu. Mudah-mudahan harga stabil bukan hanya di Jakarta namun di Jawa, serta daerah lain juga,” kata SYL.
Saat acara Mentan Sapa Petani dan Penyuluh Pertanian (MSPP) volume 09 bertema Prospek Tanam Kedelai yang dilaksanakan Jumat (11/3) di AOR BPPSDMP, SYL mendorong pengrajin tahu tempe untuk menggunakan kedelai lokal. Pasalnya kualitas lebih bagus dibanding kedelai impor.
“Kami siapkan pasokan kedelai lokal, produksi kita genjot. Kedelai kita pendek-pendek, manis dan disukai masyarakat sehingga ke depan dorong budidayanya. Sesuai arahan Presiden Jokowi, hal ini untuk penuhi kebutuhan pengrajin tahu tempe. Kita carikan jalan keluarnya agar harga tahu tempe dengan kedelai lokal harganya terjangkau,” tuturnya
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan, diversifikasi pangan lokal sangat dibutuhkan untuk tingkatkan eksistensi produksi dengan buat organik.
“Harga kedelai bagus, ayo tanam kedelai segera,” ujar Dedi memberi semangat para petani kedelai. Lebih lanjut Dedi mengatakan Kementan terus mendorong produksi kedelai dengan menggurangi impor tanaman kedelai.
Sementara itu Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi mengatakan, akselarasi tanaman kedelai untuk petani yang extising perbenihannya terus ditingkatkan. “Diperlukan pengenalan daerah baru yang dulu pernah ikut program tanam tumpang sari, metuk dengan tanam jagung dan tanam kedelai,” ujarnya.
Hugo Siswaya yang merupakan Sekjen Gakoptindo mengatakan, stok kedelai berada pada petani, kelompok tani, pengepul/bandar, namun harga kedelai lokal sangat bergantung pada perkembangan harga impor. “Gakoptindo siap menjadi offteker atau pembeli kedelai hasil produksi petani,” ujarnya.
Lebih lanjut Hugo Siswaya mengatakan, saat ini posisi Gakoptindo dan Primkopti pada saat ini berada pada level dan penyalur kecil, sehingga sangat tidak mungkin mampu mempengaruhi harga kedelai.
Niken, mewakili Kementerian Perdagangan menjelaskan, kenaikan harga kedelai dikarenakan adanya inflansi. Namun kenaikan harga kedelai dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk meningkatkan produksi lokal.
“Faktor yang mempengaruhi perhitungan harga kedelai ditingkat pengecer diantaranya harga kedelai internasional, harga di tingkat importir dan harga ditingkat pengrajin,” tuturnya.
Recent Comments