Transportasi Hasil Pertanian, Mengapa Tidak Kereta Api?
March 23, 2022
Karena karakteristik produk pertanian yang umumnya makan tempat (bulky) dan mudah rusak, biaya marketing terbesar produk pertanian adalah untuk penyimpanan, pengemasan dan transportasi. Kenapa tidak menggunakan Kereta Api?
Petani di sentra produksi yang jauh dari pusat pemasaran dan konsumen merasakan hal ini sebagai kendala utama. Ini salah satu yang mengakibatkan banyak produk pertanian Indonesia kalah bersaing dengan produk sejenis dari negara lain. Dikeluhkan, biaya angkut dari Jawa ke Singapura lebih mahal dari pada biaya angkut dari Australia dengan tujuan yang sama.
Sarana transportasi paling tua di dunia adalah sungai, terutama sungai besar, sehingga kota besar dan pusat perdagangan masa lalu selalu di sekitar sungai. Di Amerika, Eropa dan di semua kawasan dunia termasuk di Indonesia, sebelum ada investasi besar-besaran untuk transportasi darat, sungai adalah sarana efisien untuk mengangkut barang dalam jumlah besar yang paling murah.

Sampai sekarang pun sungai masih sangat penting sebagai jalur distribusi dan angkutan di berbagai daerah di Indonesia. Kayu, hasil hutan, hasil tambang dan pertanian yang bervolume besar dan berat selalu melalui angkutan sungai. Karena cara inilah yang paling memungkinkan dan paling murah. Bahkan di negara maju sekali pun peran sungai dan bargas masih tetap memegang peranan penting.
Di daerah yang tidak dilalui aliran sungai,pengangkutan hasil pertanian dalam skala besar dilakukan dengan kereta apidan kendaraan darat lainnya. Kereta api menjadi alat angkutan yang efisien,cepat dan murah.
Peranan Kereta Api
Pembangunan jaringan kereta api pada masa Kolonial utamanya bertujuan untuk pengangkutan barang, khususnya produk yang menjadi bisnis pemerintah Kolonial. Jaringan jalan kereta api di Jawa dan Sumatera semakin meluas dengan dibukanya usaha perkebuhan dan pertambangan.
Kereta api punya potensi membangkitkan pertanian yang luar biasa. Pada zaman Kolonial jaringan kereta api begitu masif menjangkau daerah-daerah produksi pertanian. Jaringan rel kereta api pada era 1864-1900 tumbuh dengan pesat.
Kalau tahun 1867 baru 25 km, tahun 1870 menjadi 110 km,tahun 1880 mencapai 405 km, tahun 1890 menjadi 1.427 km dan pada tahun 1900 sudah menjadi 3.338 km. Sampai dengan tahun 1939, panjang jalan kereta api di Indonesia mencapai 6.811 km. Pada tahun 1950 panjangnya berkurang menjadi 5.910 km,diperkirakan 901 km dibongkar semasa pendudukan Jepang dan diangkut ke Burma untuk pembangunan jalan kereta api di sana.
Pada era kemerdekaan jaringan transportasi kereta api juga semakin berkurang karena ditutup akibat tidak mampu bersaing dengan kendaraan darat lainnya. Kendaraan darat lain yang lebih mudah diakses menjadi pilihan masyarakat sehingga kereta api kekurangan penumpang. Kondisi ini boleh jadi merupakan sebab-akibat dari pelayanan dan kondisi kereta api yang kurang memadai seperti akses ke stasiun, kebersihan, kenyamanan dan keamanan.
Tetapi ditutupnya jaringan kereta api sangat berpengaruh pada distribusi produk pertanian. Bagi angkutan hasil pertanian ini adalah satu kehilangan yang sangat berarti. Umumnya daerah sentra produksi pertanian terkendala dengan transportasi sehingga harga produk pertanian dan tingkat kerusakan/losses lebih tinggi. Kecepatan, biaya angkut, volume angkut, dan keamanan produk dari kerusakan selama dalam pengangkutan lebih terjamin dengan kereta api dari pada dengan kendaraan umum atau truk.
Di Jawa Barat, daerah seperti Lebak, Banten, Cianjur, Padalarang, Cimahi,Bandung, Cicalengka, Garut, adalah pusat produksi pertanian yang memasok kebutuhan kota di Bandung dan Jakarta, sejak dulu sudah dilalui jaringan kereta api. Ketika jaringan ini tidak beroperasi lagi atau tidak melayani pengangkutan hasil bumi, dampaknya sangat signifikan terhadap kelancaran distribusinya.
Bangunan bersejarah berwujud terowongan dan jembatan kereta api yang dibangun pemerintah Hindia Belanda antara tahun 1879 hingga 1882 menjadi bukti kejayaan kereta api masa lalu itu beberapa saat tidak terawat.
Hal yang sama terjadi di Jawa Tengah, Jawa Timur dan di beberapa kawasan lain di Sumatera. Masyarakat petani merasakan kehilangan alat angkutan efisien dan murah dengan pemutusan jaringan kereta api. Pembangunan kereta api yang sekarang sedang digalakkan akan membuat distribusi produk pertanian semakin efisien, mudah, cepat dan menjangkau daerah yang lebih luas. Pelayanan perusahaan kereta api meningkat signifikan, lebih teratur, lebih luas, lebih bersih dan menyenangkan. Jaringan yang mati dihidupkan kembali dan pelayanan stasiun ditata dengan manajemen moderen. Jaringan kereta api terus diperluas di Jawa maupun di.luar Jawa. Biaya angkutan produk pertanian bisa ditekan sehingga harga produk bisa lebih kompetitif dan keuntungan bagi petani meningkat. Dengan dihidupkannya kembali jaringan tersebut, ada harapan petani dapat memanfaatkannya untuk pengangkutan hasil pertanian.
Angkut Hasil Pertanian
Petani saat ini masih belum bisa memanfaatkan kereta api untuk pengangkutan hasil pertanian ke Jakarta atau pusat-pusat pemasaran di kota besar walaupun kota-kota itu masih termasuk dalam jaringan pelayanan kereta api.
Belum jelas betul mengapa, tetapi kemungkinan besar karena terkait dengan masalah lokasi dan kegiatan menaik-turunkan barang, potensi gangguan terhadap penumpang, kebersihan, jenis gerbong khusus yang diperlukan dan imbalan yang mungkin tidak memadai.
Kereta api merupakan unggulan transportasi untuk mengangkut beberapa jenis komoditas seperti ternak, komoditas pertanian dalam kontainer, minyak sawit, dan komoditas lain yang sudah dalam kemasan besar. Karena tidak ada jalur kereta api yang masuk ke kawasan perkebunan pabrik pengolahan milik swasta, maka proses pengangkutannya dibawa dengan truk tangki ke stasiun terdekat.
Satu langkah lagi agar kereta api dapat melayani kebutuhan petani, yaitu menetapkan aturan standar agar produk pertanian bisa diangkut dengan kereta api, misalnya menentukan gerbong khusus, menentukan terminal di lokasi tertentu untuk menaik-turunkan barang, syarat kemasan dan persyaratan lain agar tidak mengganggu penumpang lain dan kinerja perusahaan. Keberadaan alat angkutan massal ini dapat dinikmati dan bermanfaat bagi petani dan pertanian.
Perhatian khusus dan kajian yang cermat perlu dilakukan agar manfaat keberadaan kereta api dapat dinikmati oleh semua pihak dengan cara yang saling menguntungkan.
Jangan dilupakan bahwa perjalanan kereta api juga banyak mengungkap banyak peninggalan sejarah perkeretaapian yang kaya di Indonesia. Manfaat ganda kereta api dimaksimalkan, selain untuk angkutan penumpang juga untuk mendukung distribusi produk pertanian, hasil kerja petani yang menjadi sumber kehidupan bangsa.
Recent Comments