Inilah Cara Kendalikan Hama Lalat Buah Cabai Ramah Lingkungan
June 8, 2022
Cabai menjadi salah satu komoditas yang banyak dibutuhkan masyarakat. Selain memiliki nilai gizi yang cukup tinggi, cabai juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Namun dalam budidayanya, petani kerap menghadapi persoalan, terutama serangan hama lalat buah.
Di Indonesia saat ini telah dilaporkan ada 66 spesies lalat buah. Species yang dikenal sangat merusak yaitu Bactrocera spp. Dalam kondisi iklim yang sejuk, kelembaban yang tinggi dan angin yang tidak terlalu kencang, intensitas serangan dan populasi lalat buah akan meningkat. Faktor iklim sangat berpengaruh terhadap sebaran dan perkembangan hama.
Serangkan lalat buah ini sulit sekali untuk dikendalikan. Akibatnya, produksi dan mutu cabai menjadi rendah, bahkan tidak jarang mengakibatkan gagal panen, karena buah menjadi busuk dan berjatuhan ke tanah.
Seperti yang dirasakan Susilo, petani di Kelurahan Banturug, Kecamatan Bukit Batu Kota Palangka Raya. Hampir 70 persen tanaman cabainya terserang lalat buah yang menyebabkan banyak cabai yang berjatuhan dan mengakibatkan gagal panen. Sementara buah yang masih sehat dagingnya berwarna bitik atau bulat hitam seperti ada tusukan.
“Biasanya lalat buah yang sudah masuk ke dalam buah cabai terlihat seperti setengah busuk, sehingga tidak bisa di panen dan mengajibatkan gagal panen,” ucap Susilo. Untuk mengurangi kerugian yang makin besar, Susilo pun melalukan panen dini dengan memanen buah yang masih hijau.
“Jika lambat panen, maka akan semakin banyak tanaman yang terserang serang lalat buah. Memang jika dipanen muda mengakibatkan harga turun. Tapi jika dibiarkan akan lebih banyak lagi buah yang tidak bisa di panen,” tambahnya.

Ganasnya serangan lalat buah ini karena larva lalat buah selama hidupnya akan hidup, makan dan berkembang di dalam buah cabai. Sedangkan lalat buah dewasa akan aktif terbang pada jam 06:00–09:00 pagi atau sore hari jam 15:00–18:00. Ini yang patut diwaspadai petani.
Petani pun harus mentahui bagaimana ciri cabai yang terserang lalat buah. Gejala serangan ditandai dengan adanya noda-noda kecil bekas tusukan ovipositor. Buah yang baru ditusuk akan sulit dikenali karena hanya ditandai dengan titik hitam yang kecil sekali. Kerusakan pada daging buah bagian dalam tidak dapat dilihat, karena permukaan buah tetap mulus.
Namun, jika buah cabai dibelah, maka akan terlihat biji-biji berwarna hitam, daging buah busuk, lunak, dan ada belatung yang merupakan larva lalat buah. Luka tusukan lalat buah dapat menyebabkan masuknya infeksi sekunder berupa penyakit busuk buah, baik dari cendawan maupun bakteri. Pada tingkat serangan parah, buah cabai banyak yang busuk dan rontok.
Hama yang memang salah satu di takuti oleh petani di Kelurahan Banturung salah satunya adalah lalat buah. Selama ini petani belum bisa mengendalikan serangan lalat buah. Bahkan banyak petani yang justru tergantung pada penggunaan insektisida sintetik untuk mengendalikan hama tersebut.
Karena itu perlu alternatif untuk pengendalian hama lalat buah yang ramah lingkungan. Pengendalian yang ramah lingkungan dapat dengan beberapa cara atau teknologi.
Pertama, melalui kultur teknis/sanitasi lahan yaitu dengan mengumpulkan buah yang jatuh atau busuk, kemudian dimusnahkan dan dibakar atau dibenamkan di dalam tanah. Pengendalian kultur teknis lainnya menggunakan perangkap lem kuning, pengasapan dan pemasangan mulsa plastik.
Kedua, cara fisik/mekanis. Petani dapat menggunakan perangkap atraktan metyl eugenol/cuelure yang digantung dalam perangkap yang terbuat dari bekas air mineral untuk menangkap lalat jantan. Ketiga, pengendalian secara biologi dapat dilakukan dengan cara menghasilkan lalat buah jantan mandul dan dengan memanfaatkan musuh alami.

Keempat, pengendalian secara kimia dapat dengan cara pengabutan atau pengasapan, kemudian dilakukan pencampuran insektisida dengan zat penarik. Pengendalian secara kimiawi hendaknya menjadi alternatif terakhir.
Sementara itu Balittro, Badan Litbang Pertanian telah menemukan tiga formula dari tanaman (pestisida nabati) untuk mengendalikan lalat buah. Pertama, Atlabu. Atlabu merupakan atraktan untuk memerangkap hama lalat buah dengan cara diteteskan pada kapas di dalam perangkap yang terbuat dari botol air mineral, kemudian hama masuk dan terperangkap (mati).
Antrakan methyl eugenol yang merupakan senyawa pemikat serangga, terutama lalat buah jantan. Sifat kimia methyl eugenol yang relatif mirip dengan pheromone seks yang dihasilkan lalat buah menjadi daya tarik lalat buah jantan.
Pemasangan perangkap metyl eugenol sebaiknya dilakukan sejak tanaman cabai masih kecil atau setidaknya sejak tanaman berusia 1 bulan setelah tanam. Beberapa produk metil eugenol yang banyak beredar dipasaran antara lain petrogenol, ocimol atau melanol.
Kedua, Azanol yang umpan pemikat beracun yang dapat diaplikasikan pada segumpal kapas atau sabut kelapa dan digantungkan di pohon. Ketika hama menyentuh umpan tersebut akan teracuni dan mati. Ketiga, ME-Sticky yang lem pemikat yang dioleskan pada plastik atau permukaan apa saja. Hama akan tertarik dan melekat pada lem tersebut dan mati.
Dengan cara ini diharapkan petani bisa terhindar hama lalat buah dan cabai yang dihasilkan lebih sehat.
Recent Comments