Dampingilah Petani Dalam Berusaha Tani Sorghum – DINAS PERTANIAN & PANGAN KABUPATEN DEMAK

Jl. Sultan Hadiwijaya No.08 Demak (0291)685013 dinpertanpangan@demakkab.go.id

Uncategorized

Dampingilah Petani Dalam Berusaha Tani Sorghum

Meskipun swasembada  beras,belakangan ini telah  dapat dicapai, namun masih perlu diperhatikan kalau masih ada ketergantungan pangan impor, khususnya gandum. Petriotisme bangsa juga kini dituntut melepas ketergantungan dari pangan impor, khusunya gandum / terigu. Merujuk data BPS, total impor gandum Indonesia 2021 sebesar 11,6 juta ton. Jumlah yang sangat besar, bahkan hampir 40% persen dari total produksi beras nasional.

Dampak konflik Rusia-Ukraina bagi dunia juga akan dapat mempengaruhi krisis pangan . Dampak perang terhadap ketahanan pangan, energi, dan keuangan bersifat sistemik, parah, serta semakin cepat. Sementra Ukraina dan Rusia adalah pemain besar dalam produksi pangan dunia. Menurut PBB, mereka mewakili 53 persen perdagangan global minyak bunga matahari dan biji-bijian, serta 27 persen gandum.

Indonesia masih tergantung dari pasokan impor gandum dari 5 penghasil terbesar. Impor gandum Indonesia belakangan ini mencapai 4,3 juta ton, maka dengan situasi tersebut diperlukan langkah untuk menggatinkan gandum, contohnya : singkong, sagu maupun sorghum.

Pendampingan petani

Petani meskipun sudah biasa bercocok tanam sorghum, tetapi pendampingan penyuluh dalam bertanam sorghum tetap diperlukan sekali karena pendampingan diperlukan dari hulu sampai hilir, atau mulai dari proses budidaya, panen, pasca panen, pengolahan sampai dengan pemasaran produk sorghum bahkan  pemanfaatan limbah tanaman sorghum.  Sorghum bisa menjadi sumber pangan alternatif pengganti beras maupun tepung gandum/terigu. sorghum kaya akan serat dan protein, sehingga sangat baik untuk yang sedang menjani diet. Manfaat lain sangat baik untuk penderita diabetes karena rendah gula. disarankan untuk penderita autis karena non gluten dan dianjurkan bagi penderita kanker karena anti oksidan yang sangat tinggi.

Ada berbagai kendala di lapangan yang dihadapi petani mulai dari keterbatasan tenaga kerja, kompetensi petani dalam penerapan teknologi, harga yang jatuh saat panen raya, pemasaran masih terbatas, belum bisa bersaing dibanding produk non sorghum, tidak tahan lama dalam penyimpanan, keterbatasan alat pengolahan hasil. Oleh karena itu pemerintah perlu memperhatikan juga.

Areal potensial

Areal potensial untuk pertanaman sorgum sebenarnya sangat besar. Pengembangan sorgum sebagian besar ditemui pada lahan kering serta lahan tadah hujan yang memiliki curah hujan pendek atau tidak menyeluruh. Kemampuan sorgum beradaptasi terhadap kekeringan dan genangan menjadikan tanaman ini sesuai ditanam pada berbagai jenis tanah termasuk lahan marginal. Lahan marginal di Indonesia dapat dijumpai pada lahan basah dan kering. Lahan kering dibagi kedalam beberapa kategori yaitu : pekarangan, tegal/kebun/ladang, padang rumput, lahan sementara belum diusahakan, hutan, dan perkebunan.

Pada tegalan serta sawah tadah hujan, sorgum dibudidayakan selaku tumbuhan sisipan ataupun tumpang sari dengan padi gogo, kedelai, kacang tanah maupun tembakau. Di lahan sawah, sorgum kerap dibudidayakan secara monokultur pada musim kering. Sampai saat ini pengusahaan sorgum terbanyak di Indonesia berada di Jawa Tengah, disusul oleh Jawa Timur, DI Yogyakarta, NTB serta NTT.

Sorgum memiliki kelebihan karena dapat diratoon, dan hasil tanaman yang diratoon satu kali sama dengan hasil pada tanaman yang tidak diratoon. Semakin sering diratoon sorgum akan menghasilkan bioetanol ataupun pakan ternak yang lebih tinggi dari tanaman yang diratoon hanya satu kali. Kemampuan meratoon dan produksi ratoon bisa mencapai 49-66 % dari hasil tanaman utama atau pertama. Dengan memanfaatkan kemampuan ratoon yang tinggi, budidaya sorgum menjadi lebih efisien sebab mampu mengurangi biaya tenaga kerja, periode waktu tanam, pengolahan tanah, dan penggunaan benih serta energi. Sorgum dapat dikembangkan menjadi energi terbarukan yang mampu menghemat sumber daya fosil dan menekan emisi gas rumah kaca. Sorgum juga mempunyai potensi hasil yang relatif lebih tinggi dibanding gandum dan padi. Produksi sorgum mampu mencapai 11 ton/ha dengan rata-rata 7-9 ton/ha bila tidak dibatasi faktor kelembaban tanah. Di daerah dengan irigasi minim, produksi rata-rata sorgum berkisar 3-4 ton/ha.

Penanganan pascapanen adalah salah satu mata rantai penting yang mesti mendapat perhatian dalam usahatani sorgum. Tahapan penanganan pascapanen mulai saat panen sampai dengan penyimpanan membutuhkan penanganan yang tepat. Penyosohan dan pengeringan merupakan faktor penting untuk mengolah sorgum menjadi pangan fungsional. Melalui manajemen pascapanen diharapkan akan dihasilkan produk biji yang berkualitas mendukung program pengembangan sorgum yang sedang digalakkan pemerintah.

Sumber: http://cybex.pertanian.go.id/artikel/99303/dampingilah-petani-dalam-berusaha-tani-sorghum/

Bagikan