Jl. Sultan Hadiwijaya No.08 Demak (0291)685013 dinpertanpangan@demakkab.go.id

BERITADinpertan PanganSayung

MBAH MUSYAFAK, PAHLAWAN PANGAN YANG REALISTIS (AGRIBISNIS ORIENTED)ANTARA DITEBAS ATAU PANEN SENDIRI???

Rabu, 5 Juli 2023, dengan langkah yang pelan tapi pasti, Mbah Musyafak petani Desa Prampelan yang berusia lebih dari 70 tahun datang ke kantor BPP Sayung. Bukan untuk pertama kalinya beliau datang ke BPP Sayung, kunjungan hari ini adalah yang ketiga kalinya. Mbah Musyafak selalu membawa cerita yang berbeda di setiap kunjungannya. Kali ini Mbah Musyafak bercerita tentang proses kegiatan panen padinya yang baru saja dilakukan pada hari Jumat, 30 Juni 2023 yang lalu.

Mbah Musyafak memliki sawah seluas ¼ bau atau sekitar 0,17 ha yang seluruhnya ditanami tanaman padi. Hari Jumat, 30 Juni 2023 yang lalu umur tanaman padinya telah mencapai 110 HST dan siap untuk dipanen. Kondisi tanaman padi yang dimiliki mbah Musyafak cukup bagus bila dibandingkan dengan tanaman padi di sekitar sawahnya, meskipun tanahnya sudah mulai merekah (nelo) akibat sudah memasuki musim kemarau.

Mbah Musyafak kemudian melanjutkan ceritanya, bahwa pada awalnya mbah Musyafak berencana untuk memanen tanaman padinya dengan sistem tebasan yang menurutnya sangat cepat, mudah serta tidak menguras pikiran dan tenaganya karena semua proses pemanenan menjadi tanggung jawab penebas, akan tetapi harga yang ditawarkan oleh penebas yaitu Rp. 4.500.000,00 ternyata kurang cocok dengan harga yang ditetapkan oleh Mbah Musyafak sebesar Rp. 5.000.000,00. Sehingga Mbah Musyafak memutuskan untuk mencoba memanen tanaman padinya sendiri.

Selanjutnya Mbah Musyafak mulai mencari semua kebutuhan yang diperlukan untuk proses panen padinya yang meliputi sewa mesin combine harvester, membeli sak/karung, membayar tenaga kerja untuk ojek/membawa hasil panen dari sawah ke pinggir jalan dan tenaga kerja untuk menaikkan hasil panen ke atas truk pembeli gabahnya. Total pengeluaran untuk itu semua sebesar Rp. 750.000,00. Sedangkan hasil panen mencapai 20 sak/karung atau sekitar 1243 kg GKP (Gabah Kering Panen). Untuk 100 kg/1 kwintal GKP oleh pembeli dihargai sebesar Rp. 590.000,00, harga GKP tersebut termasuk harga yang cukup tinggi, sehingga hasil penjualan panen padi yang diperoleh sebesar Rp. 7.333.700,00. Apabila dikurangi dengan total pengeluaran proses panen padi, pendapatan bersih yang diperoleh Mbah Musyafak yaitu Rp. 6.583.700,00. Hasil tersebut jauh lebih tinggi apabila dibandingkan Mbah Musyafak memanen padinya dengan sistem tebasan dengan selisih Rp. 1.833.700,00.

Kesimpulan yang bisa diambil dari cerita Mbah Musyafak tersebut bahwa petani sebagai produsen Padi harus bijak dan realistis dengan penuh perhitungan saat memutuskan sistem apa yang mau diambil pada proses panen padinya. Karena apabila salah menentukannya maka akan sangat merugikan bagi petani itu sendiri. Dalam hal ini secara tidak langsung Mbah Musyafak sudah menerapkan Analisa Usaha tani berbasis Agribisnis Oriented. (BPP SAYUNG)

Bagikan

Recent Comments