Jl. Sultan Hadiwijaya No.08 Demak (0291)685013 dinpertanpangan@demakkab.go.id

ARTIKELDinpertan Pangan

MENURUNKAN CEMARAN AFLATOKSIN PADA BIJI JAGUNG

Jagung merupakan salah satu bahan pakan yang potensial. Selain kadar air, ternyata kadar aflatoksin cukup signifikan dalam menentukan posisi tawar sehingga jagung bisa diterima oleh pabrik pakan. Biji jagung dengan cemaran aflatoksin yang tinggi akan memiliki harga yang rendah bahkan tidak laku dipabrikan. Salah satu hal yang mempengaruhi kadar cemaran aflatoksin pada jagung adalah penanganan pascapanen jagung. Oleh karena itu, selain perbaikan budidaya tanaman, penanganan pasca panen yang tepat dapat menekan cemaran aflatoksin pada biji jagung.

MENGENAL AFLATOKSIN DAN PERMASALAHANNYA

Jamur yang menyebabkan kerusakan makanan merupakan spesies dari  Aspergillus, Penicillium, Mucor  dan Rhizopus. Aspergillus  menjadi perhatian utama karena beberapa spesiesnya mampu melepaskan zat beracun kedalam makanan. Jamur yang mampu menghasilkan racun bagi manusia dan ternak dikenal sebagai mycotoxins. Salah satu jenis racun yang berbahaya adalah Aflatoksin. Aflatoktin  memiliki kemampuan untuk menyebabkan kanker (karsinogenik). Aflatoksin dihasilkan oleh Aspergillus favus dan Aspergillus parasiticus.

Kerugian akibat aflatoksin

Racun dari jamur yang disebut mikotoksin dapat menyebabkan penyakit bagi ternak dan manusia. Mikotoksikosis merupakan keracunan yang disebabkan mengkonsumsi jamur yang mencemari bahan pakan atau makanan, seperti biji-bijian berjamur. Pada kondisi yang memungkinkan, bahan pangan merupakan media yang sangat baik untuk tumbuh jamur. Metabolit yang dikeluarkan jamur dalam pertumbuhannya menjadikan bahan tersebut terkandung dalam bahan pangan. Racun ini dapat menyebabkan penyakit yang kadang-kadang berakibat fatal dan beberapa diantaranya mempunyai sifat karsinogenik. Mengetahui macam mikotoksin dengan berbagai sifatnya diperlukan mengingat penerapannya dalam usaha mencegah dan mengendalikan pengaruh buruk racun dari mikotoksin.

Penyakit yang ditimbulkan akibat mengkonsumsi pangan yang mengandung aflatoksin (aflatoksikosis) dapat bersifat kronis dan akut. Pada ternak unggas, aflatoksikosis kronis diindikasikan dengan terhambatnya pertumbuhan dan perubahan konversi pakan serta penurunan produksi telur. Aflatoksin terutama aflatoksin B1 (AFB1) sangat potensial menimbulkan kanker hati, menurunkan produktivitas dan menghambat pertumbuhan serta menyebabkan kerentanan terhadap penyakit dan mempunyai sifat hepatotoksik yaitu dapat merusak dan meracuni hati dan dikatagorikan sebagai senyawa karsinogenik tingkat 1. Bahaya AFB1 adalah menghambat pertumbuhan dan merusak sistem kekebalan tubuh, penurunan berat badan, pertumbuhan sel-sel darah merah, kandungan kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) di dalam plasma darah, penurunan kadar protein dan albumin dalam darah. Aflatoksikosis akut mengakibatkan kematian.

Selain itu, kontaminasi aflatoksin pada ternak menyebabkan hewan menjadi sangat rentan penyakit dan menimbulkan residu pada produk peternakan seperti hati, daging, telur dan susu. Sehingga apabila pangan tersebut dikonsumsi oleh manusia dapat menimbulkan penyakit. Mengingat kerugian ekonomi dan bahayanya bagi ternak maupun manusia sebagai konsumen, maka tindakan pencegahan dan penanggulangan Cemaran aflatoksin pada pakan sangat diperlukan.

Aflatoksin merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan oleh strain yang toksigenik dari A flavus dan A parasiticus. Aflatoksin yang umum ditemukan pada pakan ternak adalah aflatoksin B1, B2, G1, dan G2. Di antara semua jenis aflatoksin tersebut, aflatoksin B1 yang paling berbahaya. Ternak yang mengkonsumsi pakan yang tercemar aflatoksin akan berakibat tidak berfungsinya gastrointestinal, penurunan daya reproduksi, penurunan produksi telur dan susu, serta penurunan kekebalan tubuh pada ternak.

Saat ini, pabrik pakan menetapkan standar mutu jagung yang dapat diterima dengan mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI). Salah satu persyaratan mutu jagung pada SNI 4483:2013 yang sangat penting adalah kandungan mikotoksin terutama aflatoksin. karena selain mempengaruhi mutu juga berkaitan dengan kemananan pangan. Dalam SNI dipersyaratkan kandungan aflatoksin maksimum untuk jagung sebagai pakan ternak Mutu I dan Mutu II, masing-masing 100 ppb dan 150 ppb.

TEKNIK PENURUNAN KADAR AFLATOKSIN PADA BIJI JAGUNG

Terdapat tiga hal utama dalam mengurangi pertumbuhan jamur, yaitu mengendalikan lingkungan tempat tumbuh, penggunaan zat kimia misalnya antifungi, fungistatik, fungisida dan pemakaian faktor resisten alami.

Perbaikan budidaya tanaman

          Perbaikan lingkungan tumbuh dapat dilakukan dengan berbagai cara perbaikan budidaya tanaman, antara lain:

  1. Penggunaan varietas tahan. Beberapa varietas unggul memiliki ketahanan terhadap jamur, selain itu hindari penggunaan varietas yang berklobot terbuka, karena jamur dapat berkembang di biji jagung pada saat turun hujan menjelang panen.
  2. Pengaturan jarak tanam. Pengaturan jarak tanam yang tepat akan berpengaruh pada kepadatan populasi dan kelembaban lingkungan. Pada kelembaban yang tinggi, pertumbuhan jamur akan lebih cepat.
  3. Pemeliharaan dengan hati-hati. Cara ini dapat meminimalisir luka pada tanaman. Jamur dapat berkembang pada jaringan yang rusak.

Penanganan Pasca Panen

  1. Pengeringan secepatnya. Pengeringan setelah dipanen akan menghindarkan biji jagung dari kontaminasi A. falvus. Penundaan pengeringan selama dua hari telah meningkatkan kontaminasi aflatoksin dari 14 menjadi 94 Oleh karena itu pengeringan untuk menurunkan kadar air hingga ke level aman 13% merupakan tindakan yang sangat penting. Penyimpanan pada kadar air tersebut juga akan memperlama masa simpan.
  2. Penyimpanan yang baik. Menghindari petumbuhan mikrobia yang umum dilakukan dengan menekan kelembaban yang rendah dibawah 80 %. Penyimpanan kering bahan pangan kadar air 10-14 % sangat dianjurkan dan bila mungkin disimpan pada suhu dingin. Hindari bahan yang terserang hama, terluka dan lainnya. Kerusakan akibat serangga ternyata merupakan serangan awal petumbuhan jamur. Jagung yang terserang serangga menunjukkan sampel jagung mengandung aflatoksin hampir 90 %. Aplikasi pH dibawah 4,0 dapat menekan pertumbuhannya. Penurunan O2 atau menambahkan CO2 dan atau N2 akan menurunkan kemampuan jamur membentuk aflatoksin. Pengaturan ruang penyimpanan dengan rasio O2 dan CO2 yang baik dapat mengurangi petumbuhan jamur. Pemakaian bahan pangan yang resisten terhadap aflatoksin.

Sumber: http://cybex.pertanian.go.id/artikel/98225/menurunkan-cemaran-aflatoksin-pada-biji-jagung/

Bagikan