PEMENUHAN KEBUTUHAN PROTEIN HEWANI MELALUI KELINCI
November 30, 2021
Kelinci adalah hewan lucu yang sering dipelihara untuk kesenangan. Namun tidak hanya itu. Berbagai produk dihasilkan kelinci yang kesemuanya bernilai ekonomi tinggi. Yang utama tentu saja dagingnya yang gurih sebagai sumber protein hewani
Permintaan masyarakat akan daging sebagai sumber protein hewani akan terus meningkat dari waktu ke waktu. Namun di sisi lain pasokan daging lokal di pasaran masih belum tercukupi sehingga harganya masih relatif mahal. Oleh karena itu perlu berbagai upaya dilakukan untuk memenuhi ketersediaannya. Salah satu alternatif adalah dengan menggalakkan budidaya kelinci.
Kelinci (Oryctolagus Cuniculis) merupakan hewan yang memiliki multi manfaat. Selain dagingnya untuk dikonsumsi, kulit, bulu dan kotoran binatang lucu ini juga sangat berguna. Di luar itu, hewan bertelinga lebar ini juga sering digunakan para peneliti sebagai bahan percobaan di laboratorium, untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
Perkembangbiakan kelinci dikenal relatif cepat. Rata-rata 6–10 ekor anak mampu diproduksi sekali melahirkan. Sehingga, tidaklah berlebihan kalau kelinci disebut ternak yang sangat menguntungkan. Kandungan kolesterol dagingnya pun relatif rendah dan sangat cocok dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi. Selain rasanya yang gurih daging kelinci juga halal. Disamping itu daging kelinci dapat meningkatkan kecerdasan anak yang masih dalam pertumbuhan, meningkatkan fertillitas/ kesuburan, mencegah penyakit pembuluh darah pada orang dewasa. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan kelinci, adalah : kandang, bibit, pemeliharaan, pakan, dan pengendalian hama penyakit.
Kandang, suhu ideal 210C, sirkulasi udara lancar, lama pencahayaan ideal 12 jam untuk melindungi dari predator. Dibedakan antara kandang induk, kandang jantan dan kandang anak lepas sapih. Kandang induk untuk kelinci dewasa atau induk dan anak-anaknya. Kandang jantan, khusus untuk pejantan dengan ukuran lebih besar dan Kandang anak lepas sapih untuk anak kelinci yang sudah tidak lagi menyapih pada induknya. Untuk menghindari perkawinan awal lakukan pemisahan antara jantan dan betina. Kandang berukuran 200x70x70 cm tinggi alas 50 cm cukup untuk 12 ekor betina/10 ekor jantan. Kandang anak berukuran 50x30x45 cm. Menurut bentuknya kandang dibagi menjadi: 1)Kandang sistem postal, tanpa halaman pengumbaran, ditempatkan dalam ruangan dan cocok untuk kelinci muda; 2)Kandang sistem ranch, dilengkapi dengan halaman pengumbaran; 3)Kandang battery, mirip sangkar berderet dimana satu sangkar untuk satu ekor dengan konstruksi Flatdech Battery (berjajar), Tier Battery (bertingkat), Pyramidal Battery (susun piramid). Perlengkapan kandang adalah tempat pakan dan minum yang tahan pecah dan mudah dibersihkan.
Bibit, jenisnya tergantung pada tujuan pemeliharaan. Untuk tujuan bulu misalnya, maka pilih jenis Angora, American Chinchilla dan Rex yang cocok. Sedangkan untuk tujuan daging maka jenis Belgian, Californian, Flemish Giant, Havana, Himalayan dan New Zealand yang pas dipelihara. Jenis kelinci pedaging ini harus yang berbobot dan tinggi. Sedangkan untuk tujuan bulu pilih bibit yang punya potensi genetik pertumbuhan bulu yang baik. Secara spesifik untuk keduanya harus punya sifat fertilitas tinggi, tidak mudah nervous, tidak cacat, mata bersih dan terawat, bulu tidak kusam, lincah/aktif bergerak. Perawatan Bibit, akan menentukan kualitas induk. Oleh karena itu, yang perlu perhatian adalah pemberian pakan yang cukup, pengaturan dan sanitasi kandang yang baik serta aman dari gangguan luar. Sistem Pemuliabiakan, untuk mendapatkan keturunan serta mempertahankan sifat yang lebih baik dan spesifik, pembiakan dibedakan 3 kategori yaitu: a)In Breeding (silang dalam), untuk mempertahankan dan menonjolkan sifat spesifik misalnya bulu, proporsi daging; b)Cross Breeding (silang luar), untuk mendapatkan keturunan lebih baik/menambah sifat-sifat unggul; c)Pure Line Breeding (silang antara bibit murai), untuk mendapat jenis baru yang diharapkan memiliki penampilan yang merupakan perpaduan 2 keunggulan bibit. Reproduksi dan Perkawinan, kelinci betina segera dikawinkan ketika mencapai dewasa pada umur 5 bulan. Bila terlalu muda kesehatannya akan terganggu dan mortalitas anak tinggi. Bila pejantan pertama kali mengawini, sebaiknya dengan betina yang sudah pernah beranak. Waktu kawin pagi/sore hari di kandang pejantan dan biarkan hingga terjadi 2 kali perkawinan, setelah itu pejantan dipisahkan. Proses Kelahiran, setelah perkawinan kelinci akan mengalami kebuntingan selama 30-32 hari. Kebuntingan dapat dideteksi dengan meraba perut kelinci betina 12-14 hari setelah perkawinan. Bila terasa ada bola-bola kecil berarti terjadi kebuntingan. Lima hari menjelang kelahiran induk dipindah ke kandang beranak untuk memberi kesempatan menyiapkan penghangat dengan cara merontokkan bulunya. Kelahiran kelinci sering terjadi malam hari dengan kondisi anak lemah, mata tertutup dan tidak berbulu. Jumlah anak yang dilahirkan bervariasi sekitar 6-10 ekor.
Pemeliharaan, usahakan kandang selalu kering agar tidak jadi sarang penyakit. Kelinci mudah pilek dan sakit kulit jika kandangnya lembab dan basah. Ciri-ciri kelinci yang sakit umumnya lesu, nafsu makan turun, suhu badan naik dan mata sayu. Jika demikian halnya segera dikarantinakan dan benda pencemar disingkirkan untuk mencegah penularan. Penyapihan anak kelinci dilakukan setelah umur 7-8 minggu. Anak sapihan ditempatkan pada kandang tersendiri dengan isi 2-3 ekor/kandang dan disediakan pakan yang cukup dan berkualitas. Pemisahan berdasar kelamin perlu untuk mencegah dewasa yang terlalu dini. Pengebirian dapat dilakukan saat menjelang dewasa. Umumnya dilakukan pada kelinci jantan dengan membuang testisnya.
Pemberian Pakan, berupa hijauan meliputi rumput lapangan, rumput gajah, sayuran meliputi kol, sawi, kangkung, daun kacang, daun turi dan daun kacang panjang, biji-bijian/pakan penguat meliputi jagung, kacang hijau, padi, kacang tanah, sorghum, dedak dan bungkil-bungkilan. Untuk memenuhi pakan ini perlu pakan tambahan berupa konsentrat. Pakan dan minum diberikan dipagi hari sekitar pukul 10.00. Kelinci diberi pakan dedak yang dicampur sedikit air. Pukul 13.00 diberi rumput secukupnya dan pukul 18.00 rumput diberikan dalam jumlah yang lebih banyak. Air minum perlu disediakan di kandang untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuhnya.
Hama dan Penyakit, dapat menyerang kelinci. Untuk itu perlu antisipasi secara dini. Apabila ada ternak yang terjangkit segera ambil tindakan. Beberapa penyakit kelinci adalah:1)Bisul, dikarenakan pengumpulan darah kotor di bawah kulit. Pengendalian: pembedahan dan pengeluaran darah kotor selanjutnya diberi Jodium; 2)Kudis, disebabkan Darcoptes scabiei. Gejala: ditandai dengan koreng di tubuh. Pengendalian: dengan antibiotik salep; 3)Eksim, dikarenakan kotoran yang menempel di kulit. Pengendalian: menggunakan salep/bedak Salicyl; 4)Penyakit telinga, dikarenakan kutu. Pengendalian: meneteskan minyak nabati; 5)Penyakit kulit kepala, dikarenakan jamur. Gejala: timbul semacam sisik pada kepala. Pengendalian: dengan bubuk belerang; 6)Penyakit mata, dikarenakan bakteri dan debu. Gejala: mata basah dan berair terus. Pengendalian: dengan salep mata; 7)Mastitis, dikarenakan susu yang keluar sedikit/tak dapat keluar. Gejala: putting mengeras dan panas bila dipegang. Pengendalian: dengan tidak menyapih anak terlalu mendadak; 8) Hama berupa predator seperti anjing. Kebersihan yang terjaga adalah kunci utama dalam upaya pencegahan dan pengendalian hama penyakit. Selain itu juga lingkungan kandang yang nyaman, pakan yang bergizi serta sesegera mungkin menyingkirkan ternak yang sakit.
Recent Comments