Jl. Sultan Hadiwijaya No.08 Demak (0291)685013 dinpertanpangan@demakkab.go.id

ARTIKELDinpertan Pangan

ALTERNATIF PEMENUHAN KEBUTUHAN DAGING DENGAN BETERNAK RUSA

Permintaan daging yang terus meningkat tidak akan bisa dihindari. Salah satu alternatif yang bisa menjawabnya adalah beternak rusa. Apalagi daging hewan ini terkenal lezat disamping memiliki kandungan lemak dan kolesterol yang lebih rendah dibanding daging sapi.

Rusa termasuk jenis mamalia pemamah biak (ruminan) yang tergolong familia Cervidae. Spesies hewan ini banyak sekali. Di seluruh dunia ada sekitar 34 spesies yang terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu kelompok rusa dunia lama yang termasuk subfamilia Muntiacinae dan Cervinae; serta kelompok rusa dunia baru, Hydropotinae dan Odocoilinae. Hewan ini merupakan satwa liar yang memiliki ciri-ciri khusus, terutama pada yang jantan, yaitu antler (tanduk rusa).

Umumnya rusa berbobot antara 30-250 kilogram. Rata-rata mereka memiliki keluwesan dalam bergerak, berbadan kompak dan panjang, kaki kuat sehingga cocok untuk medan hutan yang kasar. Rusa juga terbilang sebagai jumper yang sangat baik serta perenang. Sebagai hewan ruminansia, rusa memiliki empat bilik perut. Sedangkan Gigi rusa disesuaikan dengan makan pada vegetasi, dan seperti ruminansia lainnya, mereka kekurangan atas gigi seri, bukan memiliki pad berat di bagian depan rahang atas mereka.

Hewan yang terkenal dengan larinya yang kencang ini, merupakan salah satu alternatif sebagai sumber protein hewani unggulan. Sebab, rusa memiliki potensi untuk ditingkatkan statusnya mengingat ketersediaannya yang meluas hampir di setiap pulau di Indonesia. Disamping itu, juga rendahnya kandungan lemak dalam venison (dagingnya) serta keunggulan lain berupa hasil ikutan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.

Sebagai hewan endemik Indonesia yang beriklim tropis, rusa memiliki daya adaptasi yang baik dengan lingkungan. Rusa Timor (Cervus timorensis) misalnya, mampu bertahan hidup di daerah dengan empat musim. Hewan ini juga memiliki beberapa keunggulan sebagai hewan ternak, antara lain memiliki adaptasi yang tinggi, dan tingkat pengembangbiakan yang baik. Produk dagingnya memiliki keunggulan, yaitu kandungan lemak dan kandungan kolesterol yang lebih rendah daripada daging sapi serta memiliki penggemar tersendiri.

Berkat berbagai keungggulannya itu, maka perlu dilakukan usaha penangkaran, sekaligus melakukan penelitian untuk menemukan koefisien teknisnya dalam rangka kepentingan konservasi dan usaha komersial. Sebab, kalau belum ada usaha-usaha budidaya, maka kelangsungan hidup rusa semata-mata hanya tergantung pada kebaikan alam (on forest potensials). Akibatnya, tidak mustahil kalau satu saat nanti populasi rusa terancam punah. Atau, paling tidak akan menjadi fauna yang langka seiring dengan eksploitasi hutan yang kian marak. Ditambah lagi, semakin banyak oknum yang tidak bertanggung jawab berburu rusa untuk dikonsumsi dagingnya secara tidak terkendali.

Untuk mengatasi kondisi demikian dan memenuhi permintaan masyarakat akan daging yang terus meningkat, maka diperlukan usaha untuk meningkatkan populasi rusa. Caranya, dengan menerapkan metode-metode pembudidayaan yang baru. Beberapa Pemerintah Daerah, melalui Dinas Peternakan setempat telah melakukan upaya-upaya tersebut, diantaranya dengan melakukan penangkaran rusa. Penangkaran bersifat melestarikan sekaligus menyelamatkan plasma nuftah specific rusa dari kepunahan. Selain itu, sebagai awal domestikasi untuk dapat membudidayakan dan dimanfaatkan seperti ternak lainnya.

Perlu digarisbawahi, di beberapa Negara, ternak rusa sudah menjadi industri yang kuat sebagai komoditi ekspor mereka. Rusa dijadikan komoditi ekspor karena memiliki karakteristik yang khusus. Karakteristik tersebut yaitu mempunyai ketajaman pendengaran, penciuman, kecepatan melompat dan berlari yang cukup tinggi serta tidak punya kantong empedu.

Sebenarnya pengembangan rusa di Indonesia sampai saat ini masih menimbulkan perdebatan. Ada yang menganggap rusa termasuk golongan satwa langka yang harus dilindungi, sehingga apabila dilakukan pengembangan secara komersial akan menyebabkan kepunahan. Sedangkan anggapan yang lain, justru mengatakan rusa merupakan hewan dengan bernilai ekonomi bagus, karena Rusa mempunyai potensi produksi daging yang tinggi dengan sifat yang empuk, rasa spesifik, rendah kalori dan rendah kolesterol.

Konsumennya pun berasal dari masyarakat tingkat menengah keatas. Kulitnya, tanduk (antler), tulang velwet (tanduk muda) bermanfaat dan bernilai jual. Semuanya bisa dipasarkan di dalam negeri maupun ekspor. Hidup rusa suka berkelompok, mudah beradaptasi dalam segala lingkungan / iklim dan cepat berkembang biak serta efisien dalam penggunaan pakan untuk diubah sebagai daging dan bahkan lebih efisien daripada ternak sapi. Sehingga, perlu dikembangkan secara komersial untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Alasan lainnya, pengembangan secara komersial justru dapat menjaga rusa dari kepunahan selain juga merupakan salah satu bentuk diversifikasi pangan di bidang peternakan. Dengan terpeliharanya budidaya rusa, akan ikut mendorong terwujudnya ketahanan pangan. Pengertian ketahanan pangan tidak hanya sebagai ketersediaan dan kecukupan pangan saja, akan tetapi kecukupan protein hewani dan pangan lainnya sesuai dengan Pola Pangan Harapan (PPH). Untuk memperoleh solusi optimal dalam pengembangan budidaya rusa, perlu dipertimbangkan daya dukung dan tetap memperhatikan pengembangan untuk tujuan konservasi.

http://cybex.pertanian.go.id

Bagikan

Recent Comments