Gaet Petani Beralih ke Organik dengan Metode Satu Petak
December 17, 2021
Hingga sekarang petani masing hitung-hitungan untuk beralih ke organik murni. Namun di tangan penyuluh muda dari Desa Pringkasap bernama Dedi Mulyadi, perlahan tapi pasti mereka kini beralih bertani secara organik.
Untuk mengajak petani beralih ke organik, Dedi mengaku menggunakan pendekatan khusus yakni metode satu petak satu keluarga. Sehingga dari luasan sawah yang dimiliki masyarakat, minimal 1 petak dilakukan pertanaman secara organik.
“Untuk menghasilkan beras organik, lahan yang sebelumnya digunakan pertanaman konvensional harus melalui masa konversi selama dua tahun. Selama dua tahun, petani tidak diperbolehkan menggunakan metode non organik. Disinilah petani agak kurang sabar,” jelasnya.
Masa konversi ini dimaksudkan untuk dilakukan penyesuaian dari sistem budidaya secara konvensional menuju sistem pertanian organik sesuai kaidah yang ada. Misalnya penggantian penggunaan pupuk sintetis ke pupuk organik yang dilakukan secara bertahap, sehingga diharapkan selama masa konversi ada masa penyesuaian lahan yang diberi perlakuan secara organik dan tidak terjadi penurunan produksi dan produk yang dihasilkan dari sistem pertanian organik merupakan produk yang baik, sehat dan bermutu serta ramah lingkungan bukan produk yang berlubang seperti persepsi masyarakat umum.
“Jika sudah melakukan pertanian organik, profit bersih dari petani bisa sampai Rp 20-30 juta per hektar. Dengan biaya produksi yang rendah, hanya Rp 10 jutaan. Memang modal yang agak besar di awal adalah biaya transportasi pupuk kandang ke lokasi sawah dan penyiangan gulma,” bebernya.
Pupuk kandang sendiri bisa diusahakan petani bersama peternak, sehingga ongkos pembuatannya jauh lebih murah. Pestisida juga bisa dibuat sendiri oleh petani. Sehingga dengan input biaya yang rendah, hasil pertanaman organik bisa mendapatkan hasil yang lebih besar.
Recent Comments