MEMANFAATKAN LIMBAH PADAT TERNAK SAPI
March 30, 2022
Banyak usaha peternakan yang menguntungkan. Salah satu diantaranya adalah ternak sapi. Alasan yang utama, produk yang dihasilkan sapi tidak ada yang terbuang dan semua bernilai ekonomis tinggi. Mulai dari daging, susu, kulit, bahkan limbahnya pun sangat bermanfaat dan laku dijual. Salah satu limbah ternak sapi adalah limbah padat. Limbah padat ternak sapi berupa sisa pakan, daun-daunan dan feces yang telah dikeringkan. Penanganan limbah ini perlu dilakukan agar tidak mencemari lingkungan dan lebih bermanfaat pada lingkungan sekitar.
Limbah padat ternak sapi berupa feces dapat dimanfaatkan melalui komposisasi. Apalagi feces ternak mengandung bahan organik, protein dan unsur hara yang cukup tinggi sehingga bagus untuk pakan jasad renik dan hewan tertentu serta untuk tanaman. Dengan memanfaatkan limbah padat menjadi kompos maka banyak keuntungan yang diperoleh, sekaligus kebersihan dan keindahan lingkungan dapat terjaga. Berbagai bentuk produk limbah padat yang bisa dibuat antara lain adalah berupa: Pupuk Organik, Vermi Kompos, Starter/Bioaktivator, Briket Arang, dan Pot Organik
Pupuk Organik. Sisa pakan dan daun-daunan dikumpulkan dan diangkut ke rumah produksi kompos setiap harinya, sedangkan feces yang sudah dikeringkan diangkut dari kandang setiap minggunya. Limbah padat yang dihasilkan diolah menjadi pupuk organik (kompos) dengan lama pemeraman selama 21 hari dan dilakukan pembalikan setiap minggu sekali. Pengolahan pupuk granul dilakukan setiap sebulan sekali atau sesuai pesanan.
Bahan utama untuk pupuk organik, yaitu kotoran ternak 83%, serbuk gergaji 5%, abu sekam dan abu dapur 10%, kalsium karbonat (CaCO3)/dolomit 2%, dan dekomposer 0,25%. Semua bahan yang telah ditimbang dicampur rata, selanjutnya bahan pupuk organik didiamkan selama 1 minggu dan dilakukan pembalikan setiap seminggu sekali hingga 4 kali kemudian dikemas dengan ukuran 5 kg atau 40 kg.
Dalam rangka diversifikasi produk dan untuk memenuhi kebutuhan konsumen, pupuk organik yang telah jadi diolah lebih lanjut menjadi pupuk granul dengan bahan sebagai berikut : pupuk organik 60%, Zeolit 10%, dolomit/kalsit 10%, rock fosfat 20%. Seluruh bahan yang telah ditimbang dicampur rata dengan menggunakan mixer. Selanjutnya bahan tersebut dimasukkan ke dalam mesin granulator. Selama proses, ditambahkan air yang mengandung molases 5% untuk mengikat bahan. Butiran granul yang dihasilkan dikeringkan dan diayak agar seragam. Pada tahap terakhir disemprotkan dekomposer sebanyak 0,25% pada pupuk granul lalu dikemas dengan ukuran 5 kg.
Vermi Kompos. Keuntungan vermin kompos adalah prosesnya cepat dan kompos yang dihasilkan (kascing = bekas cacing) mengandung unsur hara tinggi. Sementara komposisasi dengan cara konvensional membutuhkan waktu yang relatif lama dengan kandungan unsur hara yang lebih rendah. Kelebihan lain vermin kompos, perannya dalam meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama. Vermikompos juga diyakini mempunyai kelebihan dalam pengkayaan mikroorganime dalam tanah.
Starter/Bioaktivator. Starter/bioaktivator adalah mikroorganisme dekomposer yang digunakan dalam pengomposan bahan organik. Penggunaan mikroorganisme dekomposer tersebut bertujuan meningkatkan mutu kompos. Mikroorganisme dekomposer kini banyak diproduksi secara komersial, namun dekomposer alami juga masih menjadi alternatif untuk digunakan dalam proses pengomposan. Salah satu kelebihan mikroba dekomposer komersial adalah kemurnian mikrobanya yang akan memberikan konsistensi terhadap kualitas kompos yang dihasilkan. Jenis mikroba yang terkandung di dalam produk dekomposer berbeda misalnya jenis EM4 yaitu Lactobacillus spp., jamur fermentasi, Actinomycetes, Bakteri fotosintetik dan ragi.
Briket Arang. Briket arang merupakan salah satu produk yang dihasilkan melalui proses pirolisis. Pirolisis adalah proses mendekomposisi bahan organik menjadi bahan yang stabil dengan menggunakan aplikasi thermal dan hampa udara. Dengan proses pirolisis tersebut bahan baku berupa limbah organik akan terdekomposisi menjadi arang, biooil, dan syngas. Biooil dan syngas potensial untuk pembangkit listrik dan panas yang sangat dibutuhkan oleh proses industri. Berbagai jenis limbah dapat digunakan sebagai bahan baku briket arang (pirolisis) yaitu feces ternak. Sebagai pengetahuan, bisa juga limbah yang lain yaitu : pulp mill sludge, limbah pabrik gula (bagasse), limbah industri kayu (serbuk gergaji, serpihan kayu), limbah biomassa hutan (daun dan ranting), limbah pertanian dan perkebunan (tongkol jagung, kulit kopi, dll). Proses pembuatan bio arang (briket arang) yaitu 1) pengeringan bahan baku, 2) pengarangan, 3) penggilingan dan penyaringan, 4) pencampuran dengan perekat, 5) pencetakan dan pengempaan, 6) pengeringan, 7) pengujian dan pengemasan.
Pot Organik, adalah wadah media semai berbahan dasar organik yang dapat menjadi salah satu solusi dari permasalahan penggunaan polybag, karena polybag limbahnya sulit terurai setelah digunakan. Selain sebagai pengganti fungsi polybag, penelitian mengenai pot pupuk organik praktis dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai komposisi bahan baku pot organik praktis terhadap pertumbuhan tanaman Toona sinensis. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan satu faktor yaitu komposisi bahan baku dalam pembuatan pot organik praktis (koran, kompos, dan guano). Hasil penelitian menunjukan bahwa komposisi bahan baku pot organik praktis berpengaruh terhadap pertumbuhan semai Toona sinensis di persemaian. Bahan baku berupa koran, kompos dan guano memberikan pertumbuhan terbaik dilihat dari semua parameter pertumbuhan yang diamati, serta meningkatkan tinggi dan diameter tanaman sebesar 295.1% dan 125% dibanding kontrol (bahan baku koran), dan biomassa tertinggi yang dihasilkan sebesar 0.469 g pada umur 14 minggu setelah tanam.
Sumber: http://cybex.pertanian.go.id/artikel/100625/memanfaatkan-limbah-padat-ternak-sapi/
Recent Comments