LSD kian Merebak, Darurat Vaksinasi Sapi dan Kerbau
April 27, 2022
Lumpy Skin Disease (LSD) kini menjadi penyakit pada sapi dan kerbau yang patut diwaspadai peternak. Sejak awal 2022, kasus LSD muncul di beberapa kabupaten/kota Provinsi Riau kini sudah merebak di wilayah lainnya di Pulau Sumatera.
Ketua Umum, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Muhammad Munawaroh mengatakan, kasus LSD kini sudah menyebar Bengkalis, Dumai, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Kampar, Pelalawan dan Siak. “Penyebaran sangat cepat dan ini yang membahayakan bagi kita,” ujarnya dalam Webinar PATAKA 72 di Jakarta, Rabu (20/4).
Munawaroh mengatakan, strategi pengendalian LSD di Asia Tenggara hampir semuanya menggunakan program vaksinasi, begitu juga seharusnya dengan Indonesia. Sayangnya, di Indonesia vaksin itu penyakit tersebut tidak tersedia dalam jumlah yang cukup.
Guna mengatasi penyakit LSD, Vietnam telah mengimpor vaksin sebanyak 9 juta dosis, Thailand 5,5 juta dosis, Malaysia 0,3 juta dosis dan Indonesia sampai saat ini hanya 100 ribu dosis. “Siapkah kita melakukan itu, karena kita kejar-kejaran dengan virusnya, sedangkan vaksinasinya belum disiapkan,” sesalnya.
Munawaroh menyarankan, selain vaksinasi, pemerintah harus mengaktifkan check point yang selama ini tidak berjalan, sehingga lalu lintas ternak ini terawasi dengan baik.
Darurat Vaksinasi
Sementara itu Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen PKH Kementan Nuryani Zainuddin mengatakan, strategi pencegahan dan pengendalian LSD agar tidak menyebar ke wilayah lebih luas memang dengan vaksinasi darurat. Cara ini diakui, paling tepat dan efektif dalam pengendalian dan pemberantasan LSD.
“Vaksin lebih mudah diimplementasikan dibandingkan dengan tindakan teknis lain, misalnya stamping out yang dapat mengurangi jumlah hewan rentan,” katanya.
Namun menurut Nuryani, untuk vaksinasi pada unit usaha peternakan sapi keterbatasan anggaran. Pihaknya sudah mengajukan anggaran terkait penanggulangan LSD ini.
“Anggaran dari sumber APBN, hingga saat ini kami belum memperoleh. Sehingga kami mencoba berbagai usaha alternatif mengomunikasikan dengan Inspektorat Jenderal, Biro Umum,” ungkapnya.
Nuryani menjelaskan, ada beberapa upaya pencegahan. Pertama, masyarakat bisa melaksanakan vaksinasi secara mandiri. Kedua, pemerintah mengizinkan asosiasi peternakan melakukan vaksinasi karena penggunaan khusus (kondisi wabah).
“Mskipun belum teregistrasi dan vaksin live attenuated, tapi prosedur alokasi vaksin tetap ditentukan pemerintah,” katanya. Namun demikian lanjut Nuryani, pemerintah daerah harus melakukan pengawasan vaksinasi dan melaporkan kepada pemerintah melalui iSIKHNAS.
Data Ditjen PKH, total hewan rentan yang ada di Pulau Sumatera sebanyak 4.15 juta ekor. Sedangkan kebutuhan vaksin untuk Pulau Sumatera 2,7 juta ekor. Dengan total anggaran Rp 104 miliar. “Ini yang kita usahakan, siapa yang memberikan anggaran sebesar ini,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Peternak Sapi Kerbau Indonesia (PPSKI), Nanang Purus Subendro mengatakan, potensi kerugian ekonomi akibat LSD adalah penurunan produksi, kematian sapi, karkas maupun kulit sapi tidak laku.
”Yang kita khawatirkan adalah reluktansi masyarakat untuk mengkonsumsi daging sapi. Tanpa ini saja, animo daya beli masyarakat sudah turun apalagi adanya kasus LSD ini. Bisa dibayangkan bagaimana nasib para peternak,” ujarnya.
Recent Comments