Jaga Inflasi Pangan, Saatnya Subtitusi Gandum Impor
July 20, 2022
Perang Russia dan Ukraina ternyata memperburuk harga pangan dunia, khususnya gandum yang dikonsumsi secara global. Di Indonesia, harga produk berbasis tepung gandum perlahan namun pasti sudah mulai merangkak naik. Pemerintah Indonesia diminta untuk segera melakukan subtitusi impor gandum untuk bisa menjaga daya beli masyarakat dan menekan laju inflasi.
Ketua dan Dosen Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (IPB), Sahara dalam Webinar “Konflik Rusia-Ukraina: Dampak Terhadap Kinerja Perdagangan dan Harga Gandum/Terigu di Indonesia” yang digelar BRIN Nasional, Kamis (14/07). Sahara melihat, trend kenaikan harga gandum sudah mulai terjadi di tahun 2021 seiring dengan kenaikan permintaan pangan ketika pandemi sudah mulai membaik. “Di Januari 2021, harga gandum global mencapai USD 289, 3 per metric ton. Sedangkan di Mei 2022 sudah melonjak menjadi USD 522,3 per metric ton. Perang memperburuk situasi kenaikan harga pangan dan energi di tingkat global,” jelasnya.
Keadaan ini menyebabkan kontraksi pada penawaran global yang diikuti dengan kenaikan harga pangan global juga berdampak terhadap harga dan supply pangan di Indonesia termasuk gandum. Dimana Indonesia merupakan net importir untuk gandum yang terdiri dari Biji gandum dan tepung gandum itu sendiri.

Sebagaimana diketahui, Gandum berperan penting dalam ketersediaan makanan yang populer di Indonesia seperti Mie instan, pasta, roti, biskuit, gorengan dan lain-lainnya. “Tepung terigu berbasis gandum menjadi input utama dari industri makanan besar (mie instan, pasta, roti dan lainnya) maupun UMKM (gorengan, seblak dan sejenisnya),” tuturnya.
“Impor biji gandum di Indonesia, selama 4 tahun terakhir hingga 2021, sebesar 3,5 milyar USD atau senilai Rp 49 Trilliun untuk importasi biji gandum. Sedangkan secara kuantitas adalah sebanyak 11 juta ton. Sedangkan impor tepung gandum ke Indonesia mencapai Rp 165 Milyar. Sumber impor biji gandum utama Indonesia adalah Australia dan Ukraina. Kemudian diikuti Kanada, Argentina, Amerika, Brazil, Bulgaria, dan Federasi Russia,” jelasnya.
Secara ekonometrika, Sahara melihat bahwa harga gandum dunia sudah 3x mengalami struktural break. Dimulai Juni 1973, kemudian Juli 2007 dan April 2020. Melihat perilaku yang demikian, Sahara meyakini di periode yang akan datang, harga gandum akan kembali melonjak dengan momentum yang tepat.
Agar inflasi Indonesia tetap terjaga dan tidak berdampak pada kenaikan harga gandum global, Sahara melihat dan membuat alternatif subtitusi gandum impor dalam jangka panjang sangat diperlukan. “Substitusi impor ke tepung lokal menjadi penting,” tegasnya.
Dirinya menghitung, tanpa adanya intervensi subtitusi impor, kenaikan harga gandum di tingkat dunia akan menurunkan pertumbuhan dalam negeri (PDB) sebesar 0,0002 persen atau dengan kata lain bisa meningkatkan pengangguran. “Dari Okun’s Law, 1 persen penurunan GDP bisa berasosiasi dengan peningkatan 2 persen pengangguran,” tuturnya. Sedangkan dengan subtitusi impor, bisa meningkatkan PDB sebesar 0,1193 persen sekaligus memperbaiki neraca perdagangan dan menahan laju inflasi.
Dengan subtitusi gandum impor yang hanya 30 persen saja diisi oleh tepung lokal, Sahara melihat bahwa kenaikan harga gandum di pasar global tidak terlalu berpengaruh terhadap kenaikan harga produk makanan, kecuali tepung terigu yang memang menggunakan gandum sepenuhnya. Dampak lainnya terjadi pertumbuhan ekonomi di seluruh provinsi di Tanah Air jika dilakukan subtitusi gandum impor dengan tepung lokal.
Lantas bagaimana caranya agar subtitusi gandum impor menjadi tepung lokal bisa dilakukan, Sahara menilai perlu dilakukan secara bertahap dan long run yakni dengan membuat roadmap detail yang dapat dilakukan dalam skala industri yang didukung ketersediaan teknologi dan investasi sehingga produk subtitusi (tepung lokal) bisa didapatkan konsumsen dengan harga bersaing dan ketersediaan memadai (mudah didapat). Dari sisi konsumen, perlu dilakukan kampanye konsumsi tepung lokal adalah produk gluten free sekaligus memperkenalkan produk olahan tepung alternatif tersebut dengan rasa yang enak dan mudah dibuat.
“Karena itu, kegiatan diversifikasi pangan perlu terus dilakukan agar konsumsi terhadap tepung terigu bisa mulai tergantikan oleh bahan baku lokal,” pesannya.
Recent Comments